Pagi yang cerah.
“ Mas, hati hati ya “ Kata istrinya
“ Ayah , jangan lupa ya pulangnya cepat ya. Oki mau belajar iqro” Kata si sulung
“ Ola , juga mau relajar Iqlo seperti aak “ Kata sibungsu
Rukman menatap mereka semua dengan senyum ceria. Diangkatnya sibungsu sambil mencium gemas. Namun sisulung tak ketinggalan memeluk kakinya. Semua itu disaksikan oleh istrinya dengan senyum. Pagi yang selalu ceria. Selalu ada senyum diantara mereka. Inilah yang membuat Rukman merasa kebahagiaan begitu sempurnanya diberikan Allah kepada nya. Istri yang soleh dan anak anak yang tumbuh sehat. Mereka adalah keluarga muda ditengah belantara kota jakarta yang ganas. Semua kebutuhan hidup tidak ada yang murah. Lingkungan yang keras. Membuat penduduknya sulit memberikan apapun walau itu sebuah senyuman. Disini semua orang saling curiga dan berprasangka buruk satu sama lain. Hanya karena ingin cari selamat dan aman untuk diri masing masing. Semua diukur dengan uang dan pamrih adalah keseharian penduduk kota. Tapi Rukman , tidak.
” Ayah pergi dulu ya ” Serunya sambil melangkah ringan keluar rumah ” Daaaah ” Serunya lagi. Disambut oleh istri dan anak anaknya ” Daaah..ayah...”
Sudah sepuluh tahun sejak dia terkena PHK, kehidupan sebagai supir taksi dilaluinya. Ini adalah pilihan profesi tanpa ada pilihan lain ditengah jutaan orang yang senasip dengannya. Tapi ini harus disyukuri karena dia masih diberi kepandaian untuk mencari nafkah bagi kelaurganya.
Didepan apartemen mewah dikawasan Slipi , dari kejauhan nampak tanda lampu didepan apartemen yang bertanda ” taksi In”. Dia bersegera membelokkan kendaraannya kedalam apartaement itu. Didepan loby apartement itu sudah berdiri seorang wanita dengan tas tavelling disampingnya. Tanpa banyak tanya , wanita itu langsung membuka pintu taksi dengan membiarkan tas travellingnya tetap diloby.
” Itu tas dimasukin kebagasi , mas ”
” Baik , bu ” Rukman segera keluar dari kendaraannya dan memasukkan tas travelling wanita itu kedalam bagasi.
” Ke bandara , mas”
” Baik , bu..”
” Cepat ya, Saya harus kejar bording time, Dua jam lagi nih , keburu engga ..” Kata nyonya itu sambil melirik jam tangannya. Dipangkuan wanita itu nampak tas jinjing warna hitam.
” Insya Allah , bu ” jawabnya
” jangan insya allah. Kamu harus yakin..” Kejar wanita itu lagi.
” Insya Allah..”
” Ah kamu, selalu insya allah. ”
”Emang kenapa , bu ”
” Insya Allah itu artinya kamu tidak yakin..”
” Saya yakin bu , tapi lebih yakin bila kita berdoa agar Allah memberkati perjalanan kita”
” ya terserah kamu lah..’ Kata wanita itu nampak kesal ” tapi cepat ya..! sambungnya lagi.
Rukman memacu kendaraannya dengan sigap menyusuri jalanan yang macet marayap dipagi hari. Namun dia tetap hati hati.
Dalam 45 meniut , taksi yang dikendarainnya sampai juga di Bandara. Nampak wanita itu tersenyum puas namun nampak tergesa gesa. Ketika akan membayar taksi , telp selular wanita itu berdering. Sambil menerima telp , wanita itu membuka dompetnya dan membayar taksi sebesar Rp. 80000 dengan uang dua lembaran Rp. 50,000. wanita itu langsung membuka pintu taksi sambil mengibaskan tangannya kearah Rukman sebagai tanda Rukman boleh mengambil semua uang Rp. 100,000 itu tanpa harus dikembalikan sebesar Rp. 20,000. Rukman bersegera keluar dari taksi untuk membantu wanita itu mengeluarkan tas travellingnya dari dalam bagasi. Sementara wanita itu tampak asyik bericara lewat telephon.
Ketika wanita itu berlalu menuju kedalam Bandara, penumpang lain pun langsung masuk kedalam taksinya. ” Pluit , pak..” Seru penumpang itu. Seorang pria setengah baya.
” Dik, ..Ini tas siapa ? ” Seru penumpang itu. Rukman langsung menoleh kebelakang dan melihat ada tas warna hitam disamping penumpang itu.
” Oh , ini tas milik penumpang saya tadi ,pak ” Katanya.
Penumpang itu menyerahkan tas tersebut kepada Rukman. Dia menempatkan tas tersebut disampingnya. Sesampai mengantar penumpang itu , Rukman membuka tas terserbut. Dia hanpir melompat karena terkejut ketika melihat isi tas tersebut. Poerhiasan berlian dan emas. Rukman termenung. Seperti ada bisikan datang ” Ini rezeki dari Allah. Jualah dan nikmati untuk membahagiakan keluarga mu. ” Rukman mengangkat perhiasan itu seakan menimbang beratnya. Cukup berat. ” Tentu harganya mahal sekali ini kalau dijual” Bisiknya. Tapi ada juga bisikan lain “ Jangan ambil sesuatu yang bukan milikmu. Takutlah kepada Allah. “ Rukman tersentak. Dengan cepat dia masukin kembali perhiasan itu kedalam tas sambil megnhubungi via radio kepada kantor pusatnya.
“ Saya menemukan barang milik penumpang. ”
” Dimana lokasi anda ”
” Pluit. "
”Sebutkan ciri ciri barang yang anda temukan”
”Tas warna hitam dan ditemukan awalnya di Bandara jam 7.45. ”
” Baik, pak. Kami akan informasikan kepada anda bila ada pihak yang menanyakannya. Tolong jaga barang itu. Kalau kembali dari tugas , anda dapat titipkan kepada petugas disini.
“ Baik Pak.
Setelah itu hatinya lapang. Seakan dia terlepas dari gejolak hatinya untuk sesuatu yang selama ini ditakutinya. Mengambil yang bukan haknya.
Sehabis makan siang, Rukman mendapat berita dari Radio agar dia meluncur kearah apartmenet dikawasan Slipi. Seseorang mengaku ketinggalan barangnya ditaksi memintanya datang. Sesampai didepan loby, nampak wanita yang tadi menumpang taksi nya sudah berdiri dengan berwajah cemas. Ketika dia keluar, wanita itu langsung menyambar tas yang ada ditangannya. Dengan terburu buru wanita itu membuka tasnya. Beberapa saat nampak wanita itu tersenyum.
‘ Berapa argo anda untuk sampai kesini “ tanya wanita itu
“ Maaf, bu, saya tidak hidupkan argo ketika kemari” jawab Rukman. “ Ada apa bu ? sambungnya.
“ saya akan mengganti uang argo itu. “ Kata wanita itu.
” Tidak usah bu, Saya hanya ingin memastikan barang itu kembali kepada Ibu.” Kata Rukman sambil masuk kedalam taksinya. Wanita itu berlari kearahnya ” Mas, saya terpaksa membatalkan keberangkatan saya ke luar negeri hanya karena tas ini. Dan lagi isinya utuh. Terimalah ini uang pengganti argo ” Kata wanita itu sambil menyerahkan uang sebesar Rp. 50,000. Rukman menerima dengan senyum dan segera berlalu dari hadapan wanita itu.
Setelah sholat maghrib dia kembali kerumah kontrakannya. Didapatinya anak anaknya mash asyik nonton televisi 14 Inci. Mereka berhamburan kearahnya. ” Ayah ayah, pulang. ” Selalu sibungsu lebih dahulu minta digendong, diikuti oleh sisulung yang bergayut ditubuhnya. Istrinya tersenyum sambil menyiapkan makan malam untuknya.
” Hanya ini Mas, yang dapat aku beli dipasar.” Kata istrinya ketika menghidangkan sayur asem bening, dua potong tempe dan sambel terasi. ” Uh.semua harga pada naik. Aku sendiri bingung, mas ” sambung istrinya.
” Ya, inipun sudah lebih baik, kan. Yang penting hari ini harus disyukuri karena kita masih bisa makan., ya kan Bu ” Katanya sambil tersenyum dan memeluk pinggang istrinya.
Rukman pun menceritakan pengalamannya hari ini kepada istrinya. ” Hanya lima puluh ribu ?” Seru istrinya.
” Ya , Bu ”
” Terlalu wanita itu. Tidak pandai berterima kasih. Padahal barang itu begitu berharganya bagi dia. ” Kata istrinya dengan suara ketus.
” Bu..” Seru Rukman sambil memegang bahu istrinya ” Lihat ayah ” katanya kembali ” Ketika kita berbuat amal kebaikan maka jangan pernah berpikir atau berharap balasan apapun. Ikhlaskan semua itu karena beribadah kepada Allah. Kita tidak pantas mendapatkan imblan atas semua amalan kita. Apalagi menuntut hak atas amalan kita. Karena nikmat allah yang telah kita terima begitu luasnya. Yakinlah..bu,..”
’ Mulia sekali hati Ayah. Itulah yang membuat aku aman dan nyaman hidup bersama ayah. ” Istrinya tersenyum indah.
Sehabis makan, diapun mengajak anak anaknya untuk belajar iqro dan istrinya sibuk menjahit pakaian pesanan tetangga. Kehidupan bukanlah hal yang menakutkan dengan segala beban yang menghimpit, karena keyakinan kepada Allah yang tak pernah aniaya. Kecintaan Allah kepada orang yang bertaqwa teramat luas seluas nikmatnya. Mengapa harus kawatir dengan hidup bila Allah ada didalam qalbu kita.

0 komentar:
Poskan Komentar