Kedatangannya ke kota kelahirannya disambut dengan sangat antusias oleh penduduk desa. Setelah hampir 6 tahun tinggal dikota sebagai mahasiswa. Sukri kembali dengan ijazah keserjanaanya. Orang didesanya juga terkagum kagum bila mendengar Sukri bicara. Karena bahasanya sudah seperti pejabat dari pusat datang. Terlalu banyak istilah yang tidak mereka mengerti tapi itu justru membuat mereka kagum. Nampaknya sekarang gaya bahasa lebih dihargai daripada apa yang dikatakan. Sebagai kampong nelayan , kehidupan Desa tidaklah semeringah desa lain. Memang kehidupan nelayan di negeri ini dari dulu sampai sekarang memang diabaikan. Para petan patut bersyukur karena didukung oleh Departement Pertanian dengan dipimpin oleh Menteri Pertanian. Tapi tidak ada menteri Nelayan. Yang ada hanya menteri kelautan yang mengurus isi laut tanpa peduli dengan mereka yang hidup dari laut. Karena itulah , masyarkat desa sangat berharap agar Sukri dapat membantu pembangunan Desa atau setidaknya menyadiakan rumah sekolah madrasah untuk anak anak nelayang.
“ Kita harus creative membangun desa Banyak cara untuk mendapatkan sumber dana. “ Mata Sukti menatap kesemua penduduk desa yang hadir dalam rapat desa. Mereka melongok Mungkin tidak mengeri apa yang dimaksud dengan creative. “ Di zaman yang serba maju ini , kita tidak akan dapat belas kasihan dari mereka yang mampu tanpa ada upaya menarik mereka membantu kita. Mungkin didesa kita ini tidak ada orang kaya yang bisa diandalkan sebagai donator membangun desa. Tapi banyak industri yang menjual barangnya untuk dibeli oleh masyarakat desa ini. “ Sukri nampak bersemangat dengan kata katanya. Masyarakat desa masih bengong. Mungkin belum tahu kemana arah pembicaraan Sukri.
“ Kita akan adakan acara besar besaran didesa ini hingga memungkinkan mempunyai daya tarik bagi desa tetangga untuk datang. Dari kumpulan orang yang banyak ini maka kita dapat menawarkan proposal kepada perusahaan besar untuk menjadi sponsor. Mereka pasti mau menyumbang kegiatan kita karena penting bagi promosi produknya. Dana itu akan kita gunakan membangun sekolah madrasah.” Sukri berhenti bicara sampai pada kalimat ini. Matanya memandang kepada semua hadirin.
“ Bagaimana apakah setuju dengan rencana ini “ sepontan pertanyaan Sukri ini dijawab dengan tepuk tangan oleh para hadirin.
“ Rencana kegiatan kita apa ? “ Tanya sekretaris Desa.
“ Itu yang harus kita bicara malam ini. Yang penting semua sudah setuju dengan gagasan ini. Nah, kegiatan itu haruslah memenuhi syarat dimana mampu mengundang massa, biaya yang murah dan mampu menarik sponsor untuk membayar program desa
“ Ya setuju ….” Teriak serentak para hadirin. Sukri tersenyum sambil menatap Kepala Desa beserta para jajarannya.
“ Bagaimana bila kita mengadakan acara dangdutan. “usul kepala desa.
“ Tidak mungkin Pak. Karena anggarannya besar. Kita harus bikin panggung yang besar. Biaya keamanan yang tidak gratis. Sementara yang hadir hanya kalangan anak muda. TIdak semua penduduk desa suka hadir ditengah acara itu Ini tidak menarik bagi sponsor. Dan lagi penduduk desa ini sangat fanatic soal goyang dangdut” Sukri mematahkan usul kepada desa. Matanya masih menatap para hadirin. Dia tersenyum kemenangan ketika alasannya diterima oleh para hadirin.
“ Bagaimana dengan kegitan kesenian tradisional Tentu ini akan menarik penduduk desa beramai ramai datang “ Usulan disampaikan kembali oleh Pak Luran yang nampak belum mau kalah.
“ Siapa yang mau datang dalam acara ini. Paling paling orang tua uzur. Dan lagi mana ada sponsor yang mau membayar kegiatan kesenian tradisional. Jangan jangan malah kita tekor .” Sukri kembali mematahkan usulan Kepala Desa. Dia tetap tersenyum kemenangan ketika sanggahannya diterima oleh para hadirin.
“ Lantas apa kegiatan yang akan kita adakan ? Kepala Desa sudah mulai bosan dengan argumentasi dari Sukri.
“ Kita akan mengadakan Dakwah Akbar didesa ini dengan mengundang Dai terkemuka yang sering muncul di TV. “ Kemudian Sukri menyebut nama Dai kondang tersebut. Mereka yang hadir semua bertepuk tanda setuju. Sukri bangga dengan dirinya pada acara ini. Dia yakin kelak dalam pemilihan kepala desa berikutnya dia akan terpilih.
“ Dengan kita mengundang Dai ini maka TV akan meliput acara ini dan sangat menguntungkan bagi pihak sponsor. Karena akan memperluas tayangan pesan sponsornya keseluruh negeri. Penduduk desa yang ada disekitar kita akan berduyun duyun datang kedesa kita. Desa ini akan dikunjungi banyak orang. Untuk mendatangkan pendapatan sampingan dari acara ini ,kita akan menjual lapak kaki lima yang ada dsekitar tempat acara kepada pedagang yang menjual barang dagangannya. “ Semua hadirin bertepuk tanda setuju secara aklamasi atas usulannya.
“ Kita sepakat semua untuk mendukung acara ini dengan menunjuk Sukri sebagai ketua panitia. Segala sesuatunya menjadi tanggung jawab sukri untuk acara ini sukses. “ Kepada desa memberikan kesimpulan rapat “ Apakah Setuju” Penduduk desa menjawab “ Setuju “ Kemudian palu diketuk dimeja. Rapat ditutup. Semua hadirin menyalami Sukri. Semua kagum dengan kehebatan Sukri.. Orang tuanya bangga. Semua penduduk desa yang mempunyai anak wanita berharap mendapatkan Sukri menjadi menantu. Sukri pulang kerumah dengan bangga. Tekadnya telah bulat untuk membuktikan kepada masyarakat desa bahwa dia adalah orang yang patut diandalkan.
Dengan gagasannya ini Sukri mulai terkenal. Dia mulai sibuk. Membuat proposal atas nama yayasan. Agar mudah menarik bagi sponsor untuk membantu. Juga memberikan kesan kepada sang Dai agar bersedia hadir dalam acara. Suratpun dikirim kealamat sang Dai dan dalam satu minggu Sukri mendapatkan jawaban bahwa Dai tersebut setuju untuk hadir. Untuk itu Sukri diminta datang kejakarta untuk membicarakan segala sesuatunya. Surat ini diperlihatkan kepada kepala desa dengan perasaan bangga. Terbukti bahwa idenya cemerlang. Buah kerjanya mulai menampakan hasil. Sebelum berangkat ke Jakarta Sukri sudah meminta kepada kepala desa untuk mengumunkan ini kepada penduduk desa tetatanga. Maka undanganpun disebar. Keadaan semakin ramai. Lapak kaki limapun sudah mulai dipasarkan. Proposal sponsorpun sudah mulai dikirim kepda beberapa perusahaan. Termasuk kepada industri yang memproduksi rokok. Walau dia tau bahwa rokok itu makruh dan tidak pantas sebagai penyandang dana untuk acara tablik akbar.
Sukri berangkat ke Jakarta diantar sampai terminal oleh seluruh pamong desa beserta tokok masyarakat desa. Sukri nampak lemas ketika keluar dari kediaman Dai tersebut. Matanya sayu menatap awan dilangit. Mungkin dia berharap langit lebih baik runtuh menimpanya. Secarik kertas didalam amplop ditanganya telah membuat dia kehilangan kendali ketika menyeberang jalan. Sukri membayangkan banyak hal yang menakutkan tentang masa depannya didesa. Juga takut akan rusak nama baiknya yang sudah terlanjur harum. Tiba tiba kendaraan truk trailer menghantam tubuh kerempengnya. Sukri terpental dan tak bergerak. Kepalanya hancur.
Polisi datang dan membawa mayat sukri ke rumah sakit ,sambil menunggu keluarganya datang menjemput. Ketika keluarganya datang , Polisi memperlihatkan jasad Sukri yang ada dikamar mayat untuk dikenali oleh keluarganya. Setelah yakin pasti bahwa itu adalah mayat yang dikenal mereka maka Polisi menyerahkan isi dompet beserta satu amplop putih yang dilumuri darah kering kepada keluarganya. Amplop itu dibuka , orang tuanya menyerahkan surat tersebut kepada kepala desa. Yang nampak sangat terkejut dan menyadari bahwa inilah penyebab kematian Sukri. Sukri menabrakan diri kemobil. Begitu keyakinannya. Isi surat ini menjawab itu semua. “ Kami selaku manager dari pak Kiyai memastikan siap hadir dalam acara saudara dengan kondisi , ……………… “ Kepala Desa ,usai membaca surat tersebut berkomentar “wah ternyata lebih mahal daripada mengundang dangdutan dan lebih tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan jalan desa yang berlobang lobang ….sejauh 10 km dari pinggir jalan raya…”
Polisi datang dan membawa mayat sukri ke rumah sakit ,sambil menunggu keluarganya datang menjemput. Ketika keluarganya datang , Polisi memperlihatkan jasad Sukri yang ada dikamar mayat untuk dikenali oleh keluarganya. Setelah yakin pasti bahwa itu adalah mayat yang dikenal mereka maka Polisi menyerahkan isi dompet beserta satu amplop putih yang dilumuri darah kering kepada keluarganya. Amplop itu dibuka , orang tuanya menyerahkan surat tersebut kepada kepala desa. Yang nampak sangat terkejut dan menyadari bahwa inilah penyebab kematian Sukri. Sukri menabrakan diri kemobil. Begitu keyakinannya. Isi surat ini menjawab itu semua. “ Kami selaku manager dari pak Kiyai memastikan siap hadir dalam acara saudara dengan kondisi , ……………… “ Kepala Desa ,usai membaca surat tersebut berkomentar “wah ternyata lebih mahal daripada mengundang dangdutan dan lebih tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan jalan desa yang berlobang lobang ….sejauh 10 km dari pinggir jalan raya…”
Mayat Sukri diantar oleh seluruh penduduk desa ketempat peristirahatannya terakhir. Sukri akan selalu dikenang oleh penduduk desa sebagai orang yang mampu memberikan harapan kepada mayarakat walau harapan itu tidak menjadi kenyataan. Bagi kepala desa dengan menyimpan rahasia dari amplop itu adalah lebih baik daripada membocorkannya yang akan membuat masyarakat semakin putus asa. “ Sukri mampu menyelesaikan pendidikanya sampai keperguruan tinggi tapi tidak mampu menerima kenyataan hidup yang memang tidak ada lagi yang gratis dinegeri ini. Dia dikalahkan oleh dirinya sendiri karena ambisinya sendiri” Demikian kesimpulan kepala desa itu terhadap sosok seorang Sukri. Yang pasti bila Dai itu muncul di TV maka dia akan memalingkan wajahnya ketempat lain namun tetap senang mendengar kotbahnya.

0 komentar:
Poskan Komentar