03/12/11

Terasing dikeramaian

Matahari menantang garang di langit Jakarta yang berselimut karbon dioksida. Orang-orang bergegas bersimbah peluh diliputi lautan udara bermuatan asap knalpot. Motor berdesakan meliuk lincah ditengah celah kendaraan roda empat. Ketika lampu merah, mereka mendadak sontak berdesakan didepan garis bagai segerombolan domba yang terkejut oleh auman macan. Di sebuah jembatan penyeberangan tak beratap, nampak pria baya duduk ditengah jembatan itu. Ia menekurkan kepala yang dibungkus topi pandan kumal serta tubuh dibalut busana serba dekil. Dia duduk di atas lembaran kardus. Di depannya sebuah kaleng peot, nyaris kosong dari uang receh logam pecahan terkecil yang masih berlaku. Nampaknya dia cukup sehat untuk pantas menjadi pengemis. Tak ada yang patut dikasihani hingga uang receh pantas untuknya. Hanya dia memang miskin. Itu saja.

Ketika matahari mulai tergelincir ke Barat, pria baya itu keluar dari arena mengemis dijembatan itu. Dia turun dengan langkah pasti menuju lekukan sungai hitam di pinggir jalan. DIsitu sudah ada gerobak dorong. Didalam grobak itu berisi beragam barang kumuh seperti dirinya. Dia berusaha mencari cari sesuatu. Akhirnya dia menemukan botol air mineral yang isinya masih tersisa setengah. Lalu dia meminumnya. Seekor anjing betina kurus berwarna hitam muncul mendekatinya, mengendus-endus dan menggoyang-goyangkan ekornya. Ia siap berangkat, mendorong gerobak kecilnya melawan arus kendaraan, di pinggir kanan jalan. Anjing kurus itu melompat ke atas gerobak, tidur bagai anak balita yang merasa tenteram dalam dekapan ayahnya.

Dengan kereta dorong itu dia menyusuri jalan kota yang tetap sibuk oleh kendaraan mewah berjejal, yang mungkin didalamnya ada anggota DPR pejuang wong cilik namun selalu menutup rapat jendela kendaraanya dari pengemis jalanan, atau president yang sedang asyik membaca laporan statistic bahwa orang miskin berkurang dari tahun ketahun. Kadang dia harus berjalan agak ketengah jalan karena dipinggir jalan berjejer mobil mewah diparkir tak jauh dari restoran mewah, walau jelas ada tanda dilarang parker. Bukan hanya dia yang tak bisa berjalan tertip dipinggir jalan tapi juga orang lainpun tak bisa berjalan aman di trotoar karena kadang trotoarpun dilintasi oleh motor yang ingin keluar dari kemacetan. Dia tetap mendorong gerobak sambil mencari-cari puntung rokok yang masih berapi di pinggir jalan itu, lalu mengisapnya dengan santai. Orang-orang menghindarinya sambil menutup hidung

Dia memarkir gerobak kecilnya di bawah pokok akasia tak jauh setelah membelok ke kanan tanpa membangunkan anjing betina hitam kurus yang terlelap di atas buntelan-buntelan dalam gerobak itu. Ia menepi ke pinggir sungai yang penuh sampah plastik, lalu kencing begitu saja. Ia tersentak kaget ketika mendengar anjingnya terkaing. Seorang bocah laki laki yang memegang krincingan dari kumpulan tutup botol minuman telah melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang, menatap bocah ingusan itu dengan tajam. Bocah ingusan itu balas menantang sambil juga berkacak pinggang. Anjing betina hitam kurus itu mengendus-endus di belakang tuannya, seperti minta pembelaan.

Dia kembali mendorong gerobak kecilnya dengan bunyi kricit- kricit roda besi kekurangan pelumas. Anjing betina kurus berwarna hitam itu kembali melompat ke atas gerobak, bergelung dalam posisi semula. Bayangan jalan layang tol dalam kota, melindunginya itu dari sengatan matahari. Sementara lalu lintas semakin padat, udara semakin berdebu. Dia membelokkan gerobak kecilnya ke sebuah rumah makan yang sedang padat pengunjung. Seorang Satpam berwajah garang menghampirinya. Dia tidak peduli, terus saja mendorong hingga ke lapangan parkir yang penuh sesak kendaraan mewah. Sepasang orang muda yang baru saja parkir, kembali menutup pintu mobilnya sambil menutup hidung ketika lelaki itu menyorongkan gerobaknya ke dekat mobil sedan hitam itu. Seorang pelayan rumah makan itu berlari tergopoh- gopoh keluar, menyerahkan sekantong plastik makanan pada laki-laki itu sambil menghardik.

“Cepat pergi!”

Dia menghentikan gerobak kecilnya di depan sebuah halte bus kota. Mengeluarkan beberapa koin untuk ditukarkan dengan beberapa batang rokok yang dijual oleh pedagang rokok di halte itu. Orang yang berada di halte itu nampak menutup hidungnya. Halte itu senantiasa ramai karena tak jauh dari situ ada satu jalur pintu keluar jalan tol yang menukik dan selalu sesak oleh mobil-mobil yang hendak keluar. Dia meneruskan perjalanannya menuju kolong penurunan jalan layang tol itu. Meski berpagar besi, telah lama ada bagian yang sengaja dibolongi oleh penghuni-penghuni kolong jalan layang itu untuk dijadikan pintu masuk. Dia memilih duduk di pojok yang agak gelap dan terlindung dari hujan dan panas. Ini wilayahnya, rumahnya untuk sementara. Tak ada yang bisa mengusiknya dari wilayah ini kecuali petugas Tramtip. Acap kali dia kena garuk dan selalu akhirnya dilepas untuk kembali ke wilayahnya, dibawah jembatan ini.

Dia lalu membongkar isi gerobaknya, mengeluarkan lipatan kardus dan mengaturnya menjadi tikar. Anjing betina berwarna hitam kurus itu mengibas-ngibaskan ekornya ketika lelaki itu mengambil sebuah piring plastik dari dalam buntelan, lalu membagi makanan yang didapatnya dari rumah makan tadi. Keduanya makan dengan lahap tanpa menoleh kanan-kiri. Bocah perempuan ingusan menyaksikan dari jauh di bawah kolong jalan layang itu, memandangnya dengan rasa lapar. Bocah itu memberanikan diri mendekatinya. Anjing betina yang sedang asik makan didekatnya, ketika bocah wanit itu mendekat, segera menjauh dengan rasa takut sambil meninggalkan makanan yang tersisa untuk bocah yang lapar itu. Dia tidak peduli, meneruskan makannya hingga licin tandas dari daun pisang dan kertas coklat pembungkus.

Dia mengeluarkan sebuah botol air kemasan berisi air, meminumnya separuh. Tanpa bicara apa- apa, bocah perempuan ingusan itu menyambar botol itu dan meminumnya juga hingga tandas. Dia hanya memandang, sedikit terkejut, tapi tidak bicara apa-apa. Air mukanya tawar saja. Mengeluarkan rokok dan membakarnya sambil bersandar pada gerobak kecilnya. Tergeletak tidur setelah itu di atas bentangan kardus kumal.

Malam telah larut. Dlihatnya bocah perempuan itu nampak resah oleh hujan yang mulai turun. Agak gerimis namun sebentar lagi kota ini akan diguyur hujan deras. Bocah itu masih tetap dalam posisinya yang tak begitu terlindungi dari hujan. Lambat namun pasti kepalanya mulai basah, tubuhnya juga basah. Bocah perempuan ingusan itu menetapnya seakan meminta izin untuk duduk bersebelah dengannya yang terlindungi dari hujan. Dia hanya tersenyum. Benarlah, bocah itu seakan membaca isyarat bersegera berlari mendekatinya. Duduk disebelahnya diatas karton yang tersisa. Disebelahnya lagi nampak anjing betina yang juga mulai lelah dan berusaha tidur. Mereka bertiga , tidur bersedekatan melawan dingin malam. Kemudian rasa kantuknya datang, dia terlelap namun sebelumnya dia merasakan tubuh bocah wanita itu berusaha merapat kepunggungnya, berusaha melawan dingin dari kehangatan tubuhnya.

***

Bocah perempuan ingusan itu cepat terlelap dan bermimpi berperahu bersama anjing betina kurus berwarna hitam itu di sebuah danau yang sunyi. Deru mesin mobil yang melintasi jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuah kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia mendekap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya.

Dia terjaga dan berusaha untuk kembali tidur namun tak bisa. Dibelainya kepala bocah perempuan itu. Kolong penurunan jalan layang tol itu cukup padat penghuninya di malam hari. Beberapa anak jalanan yang sehari- hari mengamen di sepanjang jalan bawah, juga bermalam di situ. Ada lima anak jalanan laki-laki yang selalu menjahili bocah perempuan itu. Kadang dia lihat bocah itu menangis sambil menjerit jerit dan menatapnya seakan meminta perlindungan darinya tapi dia tak berdaya. Bocah itu bukanlah anaknya dan semua orang bebas berbuat apa saja disini, termasuk bila harus menelanjangi bocah perempuan yang tak berdaya itu, didepannya. Namun setelah itu sebisanya dia menenangkan bocah perempuan itu, dan meyakinkan bahwa dia peduli. Bocah perempuan itu terdiam dan merasa nyaman walau tetap tak pernah merasa aman.

Ditatapnya anjing betina yang terlelah disampingnya. Dibelainya kepala anjing itu. Dia penah marah besar kepada anjing betina itu walau tak sampai dia menendang. Pasalnya anjing itu terus menggong gong semalaman hingga memuat dia tak bisa tidur. Mungkin anjing itu kurang sehat atau lapar. Diantara pria kokoh yang juga penghuni bawah kolong jembatan ini berusaha mendiamkan anjing itu dengan lemparan batu. Dia tak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa membuat matanya melotot kepada anjing itu sambil membentak untuk diam. Entah mengapa anjing itu terdiam karena takut oleh lemparan batu para penghuni kolong jembatan itu. Anjing itu kembali mendekatinya, terdiam dan terlelap dalam kelelahan dan lapar.

Sebelum subuh, pasukan tramtib itu datang lagi, lengkap dengan polisi dan beberapa truk dengan bak terbuka pengangkut gelandangan. Sebelum matahari muncul, kolong- kolong jembatan dan jalan layang harus bersih dari manusia-manusia kasta paling melata itu. Dia tahu sebentar lagi aka nada kunjungan tamu terhormat dari luar negeri yang akan dijamu oleh presidentnya di Istana. Mimpinya tersangkut bersama gerobaknya di atas bak truk. Begitu juga bocah perempuan itu. Dia menggapai-gapaikan tangannya, memohon agar petugas membiarkan anjing betina itu ikut bersamanya.. Tapi, sebuah pentungan kayu telah mendarat di kepala anjing kurus itu hingga terkaing-kaing, berlari ke seberang jalan dan hilang ditelan kegelapan.

“Mampus lu, anjing kurapan!” sumpah petugas itu sambil melompat ke atas truk yang segera berangkat.

Bak truk terbuka itu nyaris penuh, termasuk tukang rokok di halte dekat situ. Dia tampak geram. Matanya mencorong ke arah petugas yang memegang pentungan. Petugas itu pura-pura tidak melihat. Hujan telah berhenti. Iringan truk yang penuh manusia gelandangan kota yang dikawal mobil polisi bersenjata lengkap di depannya, menuju ke suatu tempat arah ke Utara, dan kemudian membelok ke kanan. Dari pengeras suara di puncak-puncak menara masjid terdengar azan subuh bersahut-sahutan, memanggil orang beriman untuk lebih baik sholat daripada tidur. Bulan semangka tipis masih menggantung di langit, kadang-kadang tertutup awan yang bergerak ke Barat.

Lewat seminggu, sebagaimana biasanya, petugas Tramtip akan membiarkannya pergi. Kelak kembali dia akan digaruk bila tamu agung berkunjung lagi ke Ibukota. Mereka tidak peduli. Mungkin Pemerintah tidak punya cukup uang menampung mereka dengan makan dan tidur gratis atau tidak cukup pintar memikirkan nasip kaum miskins seperti dia..Padahal dana korup pejabat yang jumlahnya tak terbilang itu, bila ditebar secuil akan lebih dari cukup untuk program kepedulian kepada mereka yang duapa. Diapun kembali ketempatnya, dibawah kolong jembatan layang. Kemudian, orang orang akan melihatnya berjalan sambil menarik gerobak rongsokan namun didalam gerobak itu tak lagi nampak anjing betina yang tertidur lelah tapi bocah perempuan ingusan itu...

0 komentar: