
Senja telah memekat. Sebentar lagi akan menuju keperaduaanya. Lampu jalan sudah mulai menyala. Kehidupan kota tetap saja sibuk. Manusia semakin banyak begerombol di halte bus untuk menanti angkutan menuju pulang. Diantara yang bergerombol itu terdapat Rudi. Berkali kali bus berhenti di halte namun dia tetap tidak naik. Ada kegalauan yang membuatnya berat untuk melangkah pulang. Karena tadi siang tempat dia menggantungkan hidup untuk menafkahi anak dan istrinya digaruk oleh petugas ketertiban kota. Gerobak dan semua dagangannya yang tersisa hancur dilumat oleh buldoser. Rudi, hanya dapat menatap semua kejadian itu tanpa daya.
Dia tidak mengerti mengapa begitu sulitnya untuk dapat hidup di kota ini. Demi keindahan kota , pemerintah dengan enaknya menggusur orang orang kecil yang hanya sekedar menumpanga hidup dari uang recehan. Tapi begitulah keadaannya karena kota memang tidak lagi ramah untuk orang kecil seperti dia. Yang tersisa kini hanyalah uang receh yang ada ditangannya. Jumlahnya tidak cukup untuk membuka modal usaha berdagang tahu dan tempe goreng.
Dalam kebingungan itu , dia melihat seorang ibu muda terduduk dihalte yang juga sama dengan dia nampak bingung. Mungkin hanya dia yang memperhatikan wanita itu karena didalam pangkuan wanita itu ada seorang bayi yang terus menangis.
“ Mbak, Maaf ..” katanya menyapa lembut. “ Anaknya sakit , ya “ Tanya kemudian.
“ Saya tida tahu. Ini terus nangis dari tadi. “ jawab wanita itu sambil menatap bingung bayi yang ada dalam pelukannya.
“ Kemana tujuan ,mbak “ Tanyanya karena melihat ibu muda ini yang kadang melihat kearah kedatangan bus.
“ Saya tidak tahu, Mas “ Wanita itu berkata dengan air mata berlinang. Hal ini menimbulkan empati bagi Rudi. Mungkin wanita ini sedang mempunya masalah atau anak didalam dekapannya bukanlah anak kandungnya. Mungkin anak hasil curian. Tapi dilihat pakaian wanita ini dan juga yang dikenakan oleh anaknya nampak bukanlah dari keluarga miskin. Sangat bersih. Tidak sama dengan penampilan dirinya yang kumuh.
“ Mas,… “ seru wanita itu yang hingga membuat lamunannya buyar “ apakah Mas dapat membantu saya “
“ Tentu. Tentu , katakanlah apa yang dapat saya bantu “ Rudi menatap wanita itu , yang kini airmatanya mulai jatuh kepipinya.
“ Tolong kasih saya ongkos. Saya harus pulang kerumah orang tua saya dibandung. Saya lari dari rumah dengan terburu buru dan lupa membawa dompet. “
Wanita ini hanya memakai daster tanpa perhiasan sama sekali. Rudi terdiam karena dikantongnya hanya ada uang sisa dagangannya tadi sebesar Rp. 200 ribu. Dia belum tahu apa rencana selanjutnya dengan uang sebanyak ini. Apalagi bila harus memikirkan dua anak dan istrinya. Sementara didepannya ada seorang wanita yang sangat membutuhkan pertolongannya.
“ Mas, Saya lari dari rumah karena suami tidak lagi mencintai saya. Setiap hari dia selalu Pulang malam. Kadang menjelang subuh. “ kata wanita itu kembali mengejutkannya. Rudi hanya terdiam karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
“ Mas, ..” wanita kembali nampak berharap.
“ Saya , mbak “
“ Kenapa Mas diam saja?”
“ Saya juga lagi bingung.? Jawabnya tak sengaja.
“ Kenapa? . Kalau Mas, tidak punya ya tidak apa apa. Biar saya nginap dijalan saja. “
“ Saya ada uang tapi saya tidak tahu apakah cukup untuk ongkos Mbak ke Bandung” Rudi menyerahkan uang itu. Semua yang ada dikantongnya berpindah kepada wanita itu.
“ Mas, ….” Seru wanita itu dengan menatap wajah Rudi dalam linangan air mata. “ Terimakasih banyak. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan ini. “
“ Mari , mbak saya antar ke stasiun? “ wanita itu mengangguk. Dengan menggunakan Bajai , Rudi mengantar wanita itu ke Stasiun.
“ Mungkin saya dan suami mbak tidak jauh beda. “ kata Rudi ketika sampai di stasiun.” Saya selalu tidak punya waktu untuk keluarga karena saya harus berdagang dari pagi sampai malam. Hasilnyapun tidak lebih hanya untuk menyambung hidup hari hari dan bayar kontrakan rumah.“
“ Apakah istri Mas tidak pernah marah “
“ Apa yang harus dimarahkan ? sudah nasip dia mempunyai suami seperti saya yang miskin. “
“ Istri,Mas bahagia “ tanya wanita itu agak terheran.
“ Kami memang orang miskin namun saya dapat merasakan kebahagiaan istri saya. “
“ Bagaimana Mas, dapat merasakannya ?
“Dia selalu tersenyum ketika menyambut saya pulang dari dagang. Segelas air yang diasediakan melepaskan semua penat yang ada. Senyumnya menghias dirinya ketika berangkat tidur telah membuat saya merasa selalu bersyukur dengan segala yang saya miliki. Ketika bangun pagi, saya dapati istri saya tetap tersenyum menyiapkan sarapan pagi walau hanya sepotong ubi kayu dan segelas kopi. “
“ Tentu , Istri mas, kenal betul pribadi Mas “ jawab wanita itu.
“ Ya, karena dialah jodoh saya. Kami menyatukan hati kami karena hanya ingin beribadah kepada Allah. “ Kemudian wanita itu harus masuk kedalam stasiun.
Rudi tidak tahu harus kemana sekarang. Kalau tadi dia masih punya uang ditangan untuk pulang tapi sekarang uang ditangan sudah berpindah kewanita itu. Dia teruskan langkahnya ke Mesjid Istiqlal. Untuk melaksanakan sholat isya berjamaah. Seusai sholat isya , diapun terkurung didalam masjid karena diluar hujan turun dengan sangat lebat seperti tumpah dari langit. Kadang disertai oleh petir dan angin kencang. Dia termenung diteras Masjid. Dia membayangkan nasip istri dan anak anaknya. Dia juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan untuk besok. Tempat dia biasa berdagang sudah digusur. Uang ditangan untuk memulai usahapun tidak ada Sementara dia sendiri tahu betul bahwa istrinya tidak punya tabungan. Bagaimana mau nabung ? untuk makan saja dia harus berhemat agar dapat membiayai anak anaknya yang sekolah.
Dari kejauhan dia melihat ada mobil yang berhenti diluar gerbang masjid. Mungkin teredam air yang memenuhi jalanan. Dari kejauhan nampak tangan melambai lambai keluar. Sepertinya pemilik kendaraan membutuhkan pertolongan. Dia perhatikan , ternyata didalam kendaraan itu adalah seorang wanita. Tanpa dikomando, secara naluriah dia menerobos hujan lebat dan menghampiri kendaraan itu.
“ Ada apa ? “
“ Tolong mobil saya didorong. “
“ Baiklah. “ Rudi menjawab.
Ditengah hujan lebat dan badan yang basah kuyup , Rudi berjuang untuk mendorong mobil sedan itu. Lambat namun pasti kendaraan itu melaju kearah tempat yang tidak terlalu tinggi genangan airnya. Selang beberapa waktu kemudian, mobil itu kembali dapat dihidupkan. Wanita itu langsung tancap gas tanpa mengucapkan terimakasih.
Rudi pun berlalu dan kembali ke Masjid. Sekarang bukan hanya bingung memikirkan untuk pulang. Diapun meradang menahan dingin karena bajunya basah kuyup. Juga perut yang sudah berteriak untuk diisi. Rudi, melangkah kedalam Masjid dan duduk diteras masjid. Diapun berzikir untuk menghilangkan rasa lapar. Dia ingat betul nasehat guru mengajinya dikampung. “ Ketika tiada tempat kamu mendapatkan pertolongan maka kembalikan semua persoalan itu kepada Allah. Hanya Allah lah tempat kamu kembali dan memohon perlindungan. “.
Kebaikan demi kebaikan yang dia lakukan selama ini tidak pernah dia berharap lebih kecuali hanya untuk mencari ridho Allah. Ditengah zikir itu dia mendapatkan ketenangan dan tak terasa laparpun berlalu. Dia membayangkan istri tercintanya dirumah Wanita sholeha. Allah maha besar dan pengasih. Itu dia ketahui dengan tanpa ragu. Ketika empat tahun dalam perkawinan , mereka tidak juga mendapatkan keturunan. Ketika dia mendapat kabar bahwa adik istrinya mengalami kecelakaan bersama suaminya ketika pulang kampong yang meninggalkan dua anak sebagai yatim piatu. Maka Rudi menyadari bahwa inilah kasih Allah kepadanya yang tetap memberikan kesempatannya untuk mendidik anak manusia walau bukan anak kandungnya sendiri.
Hujan sudah mulai reda. Diapun melangkah keluar dari Masjid menembus malam. Dia putuskan untuk berjalan kaki menuju pulang. Jarak rumahnya dari Masjid itu tidak lebih 5 kilometer. Tidak terlalu jauh baginya karena dikampung dia biasa menempuh perjalanan lebih dari itu. Seperti biasanya istrinya menyambut dengan ceria kedatangannya. Namun agak terkejut ketika melihatnya pulang dalam keadaan basah kuyup. Ketika dipembaringan dia menceritakan semua kejadian yang dialaminya sepanjang hari. Istrinya memeluknya dengan hangat. Kemudian segera berdiri menuju lemari pakaian. Sambil tersenyum istrinya menyerahkan amplop putih yang agak tebal.
“ Apa ini , “ katanya terkejut.
“ Bukalah ? Istrinya kembali kepembaringannya.
“ Wah, banyak sekali uangnya. Darimana kamu dapatkan uang ini ? serunya.
“ Tadi , sejam yang lalu , Pak Komar datang kerumah kita dan mengantarkan uang ini "
“ Pak Komar ? siapa itu ?
“ Pak Haji yang punya rumah besar tepat dibelakang rumah kita” Katanya. Rudi mengetahu pasti rumah itu karena tembok pagar Rumah Pak Haji menempel dengan dinding rumah konrakannya.
“ Oh ya.. Kenapa dia kasih kita uang ?
“ Pak Haji cerita katanya Mas, tadi membantu anak perempuanya ketika mogok dijalan. Dia memberi uang ini sebagai Zakat karena sebetulnya setiap tahun dia selalu mengeluarkan zakat hartanya tapi selalu lupa membaginya kepada kita. Nah , sekarang kita kebagian. “ Kata istrinya.
Rudi memang tidak memperhatikan kendaraan itu. Karena hujan lebat mengaburkan pandangannya. Ternyata kendaraan yang mogok itu adalah milik putri Pak Haji Komar.
“ Alhamdulilah” serunya.
Mereka berdua menghitung uang itu lembar demi lembar. Jumlahnya mencapai Rp. 2 juta rupiah. Lebih dari cukup untuk kembali membuka usahanya. Rudi pergi keluar kamar dan menemui kedua anaknya yang tertidur pulas dikamar sebelah. Dikecupnya kening ke dua gadis manis itu dan matanya tengadah keatas sambil berbisik “ Tuhan , karena kasih mu , engkau beri aku kekuatan. Karena kasihmu engkau beri aku kebijakan untuk selalu ikhlas. Karena rahmatmu engkau beri aku kesabaran. Tetapkanlah aku sebagai kelompok orang orang yang selalu bersyukur. “
“ Amin…” Istrinya menjawab dan memeluknya dari belakang… ~~
Sudah lebih dari tiga bulan dia memulai berdagang bakso keliling kampung. Tidak banyak hasil yang dapat diperolehnya dibanding bila dulu dia berdagang tempe koreng diperempatan pasar. Tapi tempat berdagangnya yang dulu telah menjadi tempat tertutup bagi pedagang kaki lima. Keliatannya memang hanya untuk memperindah Mall yang ada didepannya. Upayanya untuk mengais rezeki dibumi Allah ini tidak pernah surut. Setiap pagi , dia sudah siap dengan dagangannya untuk berkeliling kampung. Karena setiap hari menaggung rugi maka modal yang ada pun semakin susut.
Sampai akhirnya dia kehabisan modal. Sementara anaknya yang tertua sedang sakit tanpa ada kemampuannya untuk membawa kedokter. Ditengah malam , Rudi dan istrinya tersentak dari tidurnya karena Azmi berteriak teriak. Mereka keluar dari kamar dan mendapati Emi dalam keadaan kejang kejang.
“ Kita bawa kerumah sakit , Mas “ seru istrinya. Namun akhirnya mereka berpandangan satu sama lain “ Kita engga punya uang..” Istrinya menjawab sendiri.
Diapun terduduk. Kemudian di peluknya Emi “ Bangun sayang…bangun. Ini Ayah…” Emi hanya terdiam dengan muka pucat. Tanpa banyak pikir , diapun menggendong Emi dan berlari kerumah sakit terdekat dengan dibantu oleh tetangganya. Diruang gawat darurat , Emi hanya dibiarkan diruang pemeriksaan tanpa disentuh oleh dokter. Karena belum ada perintah dari bagian administrasi. Rudi hanya berdiri didepan bagian administrasi tanpa ada kemampuan untuk bicara. Karena petugas Rumah Sakit itu telah mengatakan dengan tegas “Tidak akan ada kebijaksanaan untuk anda atau bawa kembali anaknya kerumah sakit lainnya. “ Rudi pergi keluar ruang administrasi. TIdak tahu kemana akan pergi .
Dikuridor rumah sakit , langkahnya dihentikan oleh suara seorang wanita.
“ Mas,…” Rudi menatap wanita itu dan seperti dia mengenal tapi dia lupa dimana dia pernah bertemu. “ Mas, lupa ya sama saya ? sebulan lalu Mas pernah bantu saya untuk pulang ke bandung. Ingat engga? “ kata wanita itu.
“ Oh ya…saya ingat..”
“ Ada apa kemari. Siapa yang sakit ? “ tanya wanita itu
“ Anak saya ? “
“ Lah, sekarang Mas, mau kemana ?
“ Saya tidak tahu. Anak saya tidak diterima dirumah sakit ini karena saya tidak punya uang” Rudi berkata dengan sangat lambat. Matanya menerawang ketempat lain.
Wanita itu mengeluarkan telp genggamnya. “ Mas , bisa temui aku di ruang Gawat darurat . Engga. .Ada yang harus Mas temui. Itu yang dulu aku cerita . Soal pria yang menolongku waktu pulang kebandung…” terdengar percakapan wanita itu lewat telephone genggamnya. Rudi melirik kearah wanita itu yang nampak tersenyum sambil menutup telpnya.
“ Mas, Mari kita keruang Administrasi. Suami saya dokter di rumah sakit ini. Kami akan menanggung semua biaya berobat anak Mas “ kata wanita itu.
Rudi mengikuti langkah wanita itu keruang administrasi.
“ Ini kenalkan suami saya “ kata wanita itu ketika sampai diruang administrasi dimana sudah berdiri seorang pria dengan seragam dokter.
“ Sudah lama saya berharap dapat bertemu dengan anda. Sekarang Allah mempertemukan kita disini. Terimakasih atas bantuan anda kepada istri dan anak saya. “ kata dokter
“ Sudah kewajiban kita untuk membantu mereka yang butuh pertolongan. “
“ Bukan itu saja.Kata kata anda kepada istri saya telah menyadarkannya untuk ikhlas dan bersyukur dengan takdirnya sebagai istri seorang dokter yang memang tidak punya cukup waktu untuk keluarga. Kata kata anda sangat besar pengaruhnya terhadap sikap istri saya terhadap tugas kemanusiaan saya. “
Wanita itu dan suaminya membawa Emi keruang VIP dimana Emi akan mendapatkan pelayanan sempurna sampai kesembuhannya. Seminggu setelah itu , Emi dapat pulang kerumah. Suami wanita itu memberikan ruang dikantin rumah sakit untuk Rudi berdagang. Bukan itu saja , suami wanita itu juga memberinya modal untuk memulai usahanya kembali… Rudi menyadari bahwa bila kebaikan yang ditebar karena allah maka allah pulalah yang akan memberikan balasannya. Allah akan mengangkat derajat manusia yang dia mau dan begitupula menjatuhkan derajat seseorang yang dia mau. TIdak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
Karenanya bila kita mengejar dunia maka kita akan kehilangan akherat. Namun apabila kita mengejar akherat maka allah akan memberikan dunia dan akherat untuk kita. Bila kita berjalan pada jalan yang benar maka tentu kita akan sampai pada tujuan yang sebenarnya. Itulah keyakinan bagi Rudi yang melahirkan kebijakan dalam setiap perbuatannya.
0 komentar:
Poskan Komentar