Tidak ada yang istimewa bila aku bercerita tentang suamiku. Dia seperti suami kebanyakan yang kutahu. Menurut yang kurasa selama pergaulan dengan nya bahwa dia adalah suami yang bertanggung jawab, mencintai keluarga, walau kadang terkesan tidak setia. Soal tanggung jawab maka secara materi aku bisa katakan dia termasuk suami yang segelintir. Maklum saja sebagai pengusaha dia bisa memberikan apa saja kebutuhanku. Pakaian bagus, rumah bagus dengan lingkungan terhormat, liburan keluar negeri, keanggotaan club berkelas, dan ATM yang selalu penuh. Namun dalam bentuk lain, suamiku sama dengan suami suami lainnya. Tak ada yang terlalu istimewa kecuali memang dia pekerja keras dan mencintai bisnisnya selain aku dan anak anaknya.
Kadang dengan segala kesibukannya , aku sempat mempertanyakan kesetiaannya namun dia menjawab “Bahwa sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak.” Kata-kata itu mungkin menghibur bagi wanita lain tapi tidak bagiku.Ini seperti ejekan yang menyakitkan. Apalagi ketika dia melanjutkan dengan kata kata ‘ Sebagaimana kematian adalah bagian dari kehidupan, demikian juga patah hati atau sakit hati adalah bagian yang sama dengan jatuh cinta. Kalau kamu pernah mengalami sakit hati, cintamu akan menjadi sempurna.”
Dengan tangkas aku membalas kata katanya. “Mungkin akan sempurna kalau aku patah hati dengan lelaki lain, misalnya. Bukan dengan suami sendiri” Ku ingin tahu apa reaksinya. Apakah dia tersinggung soal kata kataku ini. Dia hanya tersenyum. “Sebetulnya sama saja. Hanya saja sebutan suamiku, menunjukkan kepemilikanmu, jadinya terasa lebih menyakitkan.”
Brengsek kan.!
Ketika awal berumah tangga adalah saat awal yang berat hidup bersama pria yang berstatus suami namun mempunya cinta selain aku. Perhatiannya kepada bisnisnya melebihi segala galanya. Dunianya adalah bisnisnya. Oh, ada lagi rival ku selain bisnisnya, yaitu ibunya. Didunia ini hanya satu yang bisa menghentikan langkahnya untuk pergi rapat bisnis maha penting yaitu ibunya. Tak ada yang dia takuti selain Tuhan dan ibunya. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dengan suamiku bila ibunya meninggal dijemput Tuhan. Mungkin separuh atau sepertiga jiwanya juga ikut mati.
Dalam hal lain , dia merasa bangga dengan keperkasaanya menerjang gelombang, merpemainkan aku diatas kelelahan berpacu dengan nafsu seksual. Awalnya aku puas tapi lama lama aku merasa dipermainkan oleh keperkasaanya. Sementara berjalannya waktu , aku semakin menua. Aku jenuh, hingga mulai takut bila dia mendekat untuk menyentuhku.
“Dalam pikiran lelaki, hubungan seks adalah bentuk cinta. Makin perkasa dia, membuktikan ia makin mencintai.” Kataya satu ketika. Bagiku itu tak lain menunjukkan keegoanya sebagai penakluk. Dia pikir apakah urusan tempat tidur disamakan dengan bisnisnya yang harus selalu tampil unggul. Bagiku semua itu omong kosong. Hanya mitos. Wanita tidak menjadikan ukuran keperkasaan laki laki sebagai dasar menilai seorang laki laki. Bukan. Bagi wanita adalah sentuhan walau hanya sesaat namun dilakukan dengan penghargaan yang tinggi , itu lebih dari cukup.
Kukatakan kepadanya bahwa akan ada waktunya nanti ketika daya seksual melemah atau habis, cinta memisahkan diri dengan nafsu seksual. Ketika itu cinta tak perlu dibuktikan dengan hubungan seksual. Nafsu seks bisa mati dan berhenti, tapi cinta bisa terus jalan sendiri. Artinya kalau setelah daya seks melemah, tapi masih bisa betah bersama-sama, itu artinya masih cinta. Saat seperti akan datang dengan sendirinya, tak perlu dipaksa, sebagaimana usia. Tanpa kecuali semua bertambah tua, juga dunia.
Dia tertawa terbahak bahak. Ya sudahlah, Dia dengan dirinya dan aku bagian dari dirinya, perhiasannya. Hamba sahayanya. Naif sekali. Dan kini, ia jatuh cinta kepada piaran baru. Bukan wanita piaraan tapi ikan koki. Dibuatnya akurium indah menempel ditempat ddinding tempat tidur. Kemudian di dinding itu ada lukisan suasana alam dengan diaroma air mancur. Bukan hanya ditempat tidur , tapi juga di ruang makan. Juga di ruang tamu. Di teras belakang rumah juga. Dimanapun tempat dia acap duduk lebih dari 5 menit dirumah, dia sediakan akurium untuk ikan piarannya. Ini aneh. Karena sebelumnya dia tidak punya hobi memelihara binatang apalagi harus berepot diri dengan kesibukan sepele seperti memelihara ikan koki itu. Baginya kesibukan harus punya nilai uang. Tak ada uang tak usah repot. Titik.
“Bagaimana kamu bisa jatuh cinta kepada ikan itu?”
“Seperti yang selama ini terjadi,” katanya menjelaskan. “Aku melihat ikan itu, tertarik, dan terjadi dramatisasi dalam seluruh kesadaranku. Karena aku membelinya untuk menghias rumahku dimana ada wanita yang juga kucintai tinggal bersama denganku..”
Setiap pulang dari kantor , yang pertama ditanya adalah ikannya. Awalnya aku biasa saja. Tapi lama lama aku mulai bosan dan sekarang mulai ingin marah, protes. Apalagi setiap hari dia membuat pembatu rumah tangga dan tukang kebun tak bisa istirahat tenang. Jam berapapun dia datang, kadang malam, maka yang pertama dia bangunkan adalah pembatu dan tukang kebun. Mereka harus berdiri didekatnya sambil menunggu perintahnya. Kadang dia melihat ada kotoran, maka pembantu kebagian tugas untuk mengambil kotoran itu dari dalam Aqarium . Kadang bila dia ingin air diganti maka harus diganti walau masih bening namun dia tidak peduli.
“Ikan itu tidak ada gunanya sama sekali. Abang hanya melihatnya sebentar dan kemudian pergi,” kataku.
“Salah, Bukan soal lama atau sebentar melihatnya tapi soal kesan.Aku melihat ada kesunyian disana diatas kebebasan yang membelenggu.”
“ Dan abang menikmati suasana seperti itu ?
“ Aku hanya senang memandang ikan itu. Aku senang. Karena ada makhluk lemah ditempatkan dalam wahana kebebasan yang terkurung namun aman terlindungi dari segala galanya. BIsa melihat dunia luar namun tak bisa menyentuhnya. Karena ada dinding tebal yang membatasi. “
“ jadi abang senang dengan suasana seperti itu walau hanya memandangnya sekejap saja. ? .
“Kesenangan tak akan pernah bisa dikalahkan oleh waktu. Justru kesenangan menang dengan waktu. Walau hanya sejenak , kesenangan makin bermutu. Ingat itu.”
Dan lagi menurutnya “ Aku merasakan bahwa ikan itu tidak pernah protes dengan kelemahannya. Ini sudah takdirnya dan dia berdamai dengan takdirnya. Walau dia terkurung namun dia mungkin lebih bahagia bila dia menyadari keterbatasannya..”
“Sama denganku.” kataku
“Juga ibuku.” Jawabnya cepat.
“ Apakah Abang akan memperlakukan aku sama dengan ikan itu. Atau mulai berpikir menyediakan rumah baru sebagai akurium bagi istri barumu..”
“Mungkin.” Jawabnya. Dasar brengsek. Hatiku mulai kecut. Apalagi dia jawab dengan wajah dingin.
“Mungkin?”
“Mungkin, karena semua lelaki mempunyai bakat untuk itu. Tapi secara praktis tak akan menyenangkan. Di dunia, satu-satunya tata krama yang aneh dan disepakati di seluruh dunia adalah tata krama dalam lembaga perkawinan. Bayangkan, seseorang naik becak atau bis kota, ia naik dulu baru bayar kemudian, mungkin di tengah jalan, mungkin di tujuan. Seseorang yang naik kereta api atau naik pesawat terbang membayar di depan, tapi untuk satu atau dua perjalanan. Dalam perkawinan pembayaran dan ikatan berlangsung selamanya. Kontrak ikatan yang paling dungu, tapi dianggap aman bagi lelaki dan perempuan.”
“Berarti abang menyesali perkawinan?”
“Satu-satunya yang kusesali dalam hidup ini adalah karena aku tak bisa menyesali apa yang terjadi. Aku bahkan tak mampu menyesali kenapa aku tak dilahirkan di AS atau Eropa . Atau di tempat yang paling aku sukai, tempat yang ada sungainya dengan empat musim, lalu aku bisa bermain bola salju ketika salju turun. Menyesal hasil dari pikiran, dari nalar. Dan nalar bahkan tak bisa menjelaskan hal yang paling sederhana dan terjadi pada semua orang: “cinta”.
Ketahuilah oleh kamu, “Lelaki mengenal cinta pertama melalui ibu, demikian juga bayi perempuan. Sampai kemudian merasa perlu kepada pacar atau kekasih, sampai dengan kepada istri. Semua terjadi dengan rasa aman, karena ia tak mungkin menerima cemburu dari ibunya. Atau cemburu yang aman-yang membiarkan kita mencintai orang lain. Seorang istri, juga seorang suami tak bisa benar-benar begitu. Baru kemudian cinta aman berlanjut ketika mencintai binatang kesayangan, ketika mencintai tumbuhan, ketika kemudian mencintai barang. Kamu mungkin berpikir cinta semakin menurun kadarnya, dari seorang ibu ke istri, ke binatang, dan ke barang. Mungkin itu ke kedewasaan, karena kemudian bisa saja jatuh cinta ke suatu yang tak ada.”
Aku tak begitu yakin apa yang dikatakan, tapi bisa merasakan. Cinta yang harus terbagi padaku ketika ia menceritakan kemesraan ibunya, jauh berbeda dengan ku, kemudian dengan anak anaknya , binatang atau barang barang kegemarannya.
“Benarkah semata-mata karena rasa aman yang membedakan cinta?”tanyaku.
“Bisa begitu, bisa rasa-rasa yang lain. Sesungguhnya cinta hanya ada dalam pembesaran di pikiran, di perasaan. Cinta tak akan selesai dirumuskan dengan pemikiran.Cinta aman bisa terus ke cucu, ke menantu, ke tanah, ke yang sudah tidak ada. Atau bahkan ke yang tak pernah ada. Atau ada, walau tak berguna. Seseorang hanya memiliki satu cinta. Seperti air sungai, bisa mengalir ke mana-mana, membelok ke selatan atau ke utara, tapi sebenarnya satu arus saja.”
Tiba-tiba aku sadar dan menjadi sangat jengkel. Dengan kalimatnya itu berarti perkawinan tak banyak maknanya, toh tak menghalangi cinta mengalir ke jurusan mana saja.
“Ketika aku memutuskan untuk melamarmu menjadi istriku maka itulah keberanian, itulah anugerah Allah. Keberanian, karena banyak cinta diutarakan tanpa keberanian menikahi resmi. Anugerah, karena itu hadiah besar. Semua itulah harga yang kita bayar untuk selamanya memiliki, merawat, memanjakan dan dimanjakan. Kita tak akan merasa aman, merasa memiliki, hanya dengan menyewa, membeli atau memandangi. Paham, kan. Aku bisa saja mengagumi keindahan ikan berenang didalam aquarium. Memandangi wanita cantik berbikini melenggok dipinggir kolam renang. Menyewa escort jelita untuk acara business dinner dengan relasiku. Bisa.! Tapi aku tidak merasa memilikinya, apalagi mencitainya. Aku hanya bisa memandangnya. Dan kamu adalah miliku yang dianugerahkan Allah yang bukan hanya kupandangi tapi memang kamu miliku,cintaku.”
Dan akhirnya aku sadar bahwa aku harus bersyukur memiliki suamiku sebagai anugerah dari Allah walau aku kadang terkesan seperti ikan yang berenang didalam aquarium , ada kebebasan namun terhalang oleh dinding tebal dalam bentuk budaya dan agama yang mengharuskan aku selalu menjaga kehormatan suamiku dalam kondisi apapun. Menghindari fitnah ketika suamiku sedang tidak ada dirumah. Menjaga dan merawat semua miliknya dan menantinya ketika dia pulang , untukku dan juga mereka yang dicintainya…

0 komentar:
Poskan Komentar