24/12/11

Aku dan Kami

Penjara ? itulah sepenggal kata yang membuat ku meriang setiap hari. Bukan hanya aku yang seperti itu. Semua mereka yang berdasi , berjas dengan label garuda didada merasakan hal yang sama. Setiap hari korsi yang diduduki terasa bara. Mobil yang dikendarai seperti pengab membuatku sulit bernafas. Wajah cantik istri dan wanita diluar tak bisa lagi kunikmati. Senyuman mereka nampak kering. Aku dan juga mungkin mereka yang ada disini , tidak lagi merasakan henbusan sejuk aroma kekuasaan.

***
Baik ku kukatakan kepada mu. Mungkin kamu masih ingat bahwa orang menjadi terhormat, maka tempatnyapun terhormat. Ada AC yang selalu memberikan kesejukan Ada lampu yang tak pernah padam walau negeri ini sedang dilanda krisis energi. Ada uang saku yang selalu didapat setelah usai tanda tangan. Walau rakyat diluar sana harus antri berpeluh keringat untuk mendapatkan selembar uang seratus ribu. Ada semuanya. Inilah ladang pencarian yang lebih mengasikan. Tidak sama seperti ladang dikampung yang harus berbecek becek dengan kotoran kerbau. Sampai disini aku merasa puas karena setidaknya nasip ku lebih baik dibanding mereka yanga ada diluar sana.

Tapi setelah satu demi satu sahabatku yang ada disini digiring kedalam penjara, akupun merasa tempat ini tidak lagi nyaman. Walau tahu ini adalah bagian dari “permainan sesaat “ untuk menciptakan rasa keadilan namun tetap saja “penjara” adalah mimpi buruk. Ini soal kehormatan dan harga diri. Bagaimana mungkin kami yang tegar dan plaboyan harus bicara tentang “penjara”. Padahal perangkat keadilan itu diciptakan bukan untuk kami, itu hanya untuk rakyat. Memang demi citra  nilai demokrasi maka perlu ada yang dikorbankan diatara kami. Hanya segelintir saja. Lantas siapa yang akan dikorbankan ? semua bisa dikorbankan karena semua sama bejatnya. Maka terjadi proses random untuk memilih siapa yang pantas dikorbankan sebagai konsumsi politik .

Orang ramai diluar sana melihat kami kadang berbeda pendapat dengan pemerintah.  Itu hanya sandiwara.  Ya benar kadang  kami berbeda pendapat sesuai bendera partai kami namun  soal pendapatan kami tak ingin berbeda. Ini sudah menjadi kesepakatan tak tertulis yang harus dipahami bila ingin status dan kekuasaan menghasilkan uang. Ada nilai dan ada kepentingan, juga tentu adapula uang yang berputar didepan mata. Nilai, kepentingan dan uang adalah tiga unsur yang harus kami sepakati untuk selalu sepakat. Karena waktu terlalu singkat bila harus memikirkan yang tak ada hubungannya dengan nilai, kepentingan dan uang. Bagi kami , semua mereka diluar sana hanyalah membosankan dan tak lebih pelengkap derita diatas  kesenangan kami.

Oh ya setelah ngalor ngidul, lupa kasih tahu kepada kamu. Siapakah aku dan kami itu ? Baiklah , Lembaga kami sangat panjang namanya, tapi kami lebih suka disingkat saja, Maka jadilah tiga hurup. Singkat.  Ya, nama yang singkat sesingkat akal dan wawasan kami yang tak pernah menembuh cakrawala dan melintasi relung hati anak bangsa yang menuntut keadilan. Kami hanya terlatih berkata kata dengan lakon penuh peduli untuk orang ramai percaya, untuk image. Hanya itu. Setelah itu kami akan lupa.Bagi  pekerjaan kami adalah lahan hidup mencari rezeki.

Apakah ada lahan rezeki yang lebih baik dari posisi kami sekarang?. Terhormat dan berkantor ditempat terhormat pula. Fasilitas, ada label garuda didadaku. Adapula mobil mewah yang bebas dari tri in one. Adapula rumah mewah yang bebas dari bayar listrik dan telepon. Ada begitu banyak kebebasan. Tapi semua itu tidak didapat dengan gratis. Orang orang tolol diluar sana tidak pernah ikhlas memilih kami. Mereka juga adalah pedagang suara. Mereka memilih dan kami membayar. Kalau ada yang tidak mau dibayar itu tandanya sipandir yang tak bosan ditipu berkali kali.

Mungkin kamu bosan mengingatkan kami tentang hidup sederhana..Sudahlah , jangan lagi bicara humanis. Kami sangat sibuk memburu uang. Kamu harus ingat aku butuh kekuasaan karena uang. Titik. Tak peduli. Karena semua butuh ongkos. Aktualisasi diriku tida murah. Ada istri yang boros , wanita piaran yang manja dan memeras setiap hari.Dan lagi kami harus aman dari masalah finanacial untuk hari ini dan esok. Maka tabungan dan deposito diluar negeri harus ada. Rumah mewah harus tesedia lebih dari satu. Semua itu harus dibungkus rapi agar secara hukum kami tidak terbukti sebagai pemilik walau orang ramai setiap hari mengetahui bahwa kamilah pemilik itu semua. Kami tidak peduli…

Hebatnya lagi semua itu tidak kudapat dengan menyangkul disawah seperti Somad teman ku dikampung. Tidak seperti Sukri temanku yang supir taksi. Tidak. Aku hanya orang yang menjual senyum dan berakting humanis agamais. Berbicara dengan lembut, selembut salju. Menatap dengan sejuk , sesejuk air pegunungan. Dengan itulah aku menjual janjiku diatas podium pesta demokrasi anak negeri. Hanya itu yang mungkin membuatku berlelah dalam kebosanan. Setelah itu , akupun mendapatkan status “orang terhormat” dilembaga “terhormat.” Maka uang akan datang dari segala sumber , baik dipanggil maupun yang datang sendiri.

Kini, melihat teman yang menjadi pesakitan diurmah penjara, padahal sebelumnya sama dengan aku. Yang selalu mempermainkan sang waktu. Seketika ada sesuatu yang kosong tanpa makna yang datang menyeruak kedalam kalbuku. Ada sinar walau setitik cahaya. Tapi lebih dari cukup membuatku merasa harus berubah. Apalagi kelakuanku dan kami selalu membosankan. Bahkan oleh diriku sendiri kadang muak bila melihat wajahku didepan cermin. Ya , aku ingin berubah dan meninggalkan kekonyolan yang ada selama ini. Disini kami bagaikan berputar putar tanpa ujung . Tak ada perubahan walau setiap hari bicara tentang perubahan...

Aku sadar hanya soal waktu semua akan berakhir. Berkali aku ingin berhenti tapi tidak mudah. Langkahku kini mulai terseok melewati hari yang selalu sama. Aku tetap  tidak mampu melangkah surut. Tetap tidak ada perubahan. Mungkin aku lelah, Aku ingin pulang kekampung untuk menemukan kembali jejak langkahku yang dulu. Untuk kupahami agar ku dapat menemukan peta hidupku. Aku dapat memaklumi bila orang orang disekitarku adalah pemain lakon sandiwara ulung. Mereka tidak paham apa dan bagaimana negeri ini kedepan.

 “Lalui sajalah hidup ini. Kita orang baik baik.Orang terhormat. Orang yang mengemban amanat penderitaan rakyat Mungkin kita terlalu banyak beban kerjaan” Demkian mereka menghiburku dengan kata kata. Tapi bagiku mereka adalah kumpulan wajah plastic. Tidak jauh dengan diriku sendiri. Yang selalu pandai berpura pura.

" Kamu harus melangkah maju , atau kamu mati. Nafkahmu adalah ini dan mereka diluar sana sudah nasipnya untuk dikorbankan. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. “ Itulah desingan suara yang selalu hadir didalam kesehariaanku ketika aku mulai berdialogh dengan nuraniku.

Aku rindu kehidupan bagaikan burung berarak melesat membelah angkasa. Kawanan burung itu begitu akrabnya. Terbang sambil bercanda ria. Kesamaan baris membentuk lukisan indah dicakrawala. Ada suara teriakan atau nyanyian diantara mereka. Kemana mereka terbang ?. Setiap kali kutatap kawanan burung itu. Aku tersenyum " andaikan aku seperti mu … " kataku lirih. Sebetulnya ada keinginan untuk melihat barang sebentar kebelakang. Atau melihat kekiri, kekanan. Disana akan nampak banyak hal yang dapat menerangkan jalan setapak. Tapi untuk itupun aku enggan.

" Sebetulnya kamu tidak pernah bergerak"

Aku tersentak ketika suara itu datang lagi.

" Mengapa?? " teriakku

" Karena peta perjalanan yang bersemayam didalam qalbu telah rusak. Kabur karena tersiram air Arak. Lusuh karena dibasahi oleh keringat pelacur yang kau senggamai. Luntur tintannya karena airmata jelata , fakir miskin , kaum duapha yang kau abaikan. Dan dia tidak lagi berbentuk Peta kecuali lembaran kertas tanpa makna , karena cinta dan kasih sayang telah hilang. ".

" Mungkin kamu harus menahan langkahmu atau setidaknya menahan gairah nafsumu barang sehari saja. " lagi lagi ada melodi sumbang membisikkan ketelinga. Tapi darimana pula datangnya suara ini. " setidaknya ikutilah hakikat berpuasa yang diperintahkan oleh tuhanmu. " Dia tak bisa menahan suara itu lagi. “Bukankah puasa itu sudah dititahkan sejak Nenek moyang mu yang bernama Adam ketika masih bersemayam disorga. Tempat yang lebih dari apa yang kamu buru dalam langkahmu didunia. Ingatlah titah tuhanmu kepada Adam " dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Al-Baqarah:35).

Zalim ! akupun berlari mengejar suara itu. " Mengapa harus dicap sebagai Zalim" teriakku dalam kesunyian. Semua tetap diam. Akupun tidak peduli. Kembali langkah terayun seperti hari hari sebelumnya. Dalam catatan yang tercecer, aku terkejut ketika secarik kertas bertuliskan " benamkanlah nafsumu maka kamupun dapat me recontruksi qalbumu. Maka , peta yang rusak dapat direkontruksi kembali. Hingga nampak jelas kemana arah langkah yang hendak kamu capai". Akupun mulai membaca. Ada asa untuk mencari atau lepas dari kesunyian. Lepas dari kesendirian ditengah keramaian. Itu juga rahasia mengapa sekawanan burung dapat ceria membelah angkasa. Ada kecemburuan yang menggelitik.

" Hii, burung …aku akan terbang dalam ceria. Menikmati kebebasan " teriakku lagi.

”Maaf saja” kata orang yang tak jelas apa maksudnya berkata. “ Kamu tidak akan mendapatkan kebebasan. Kamu terpenjara dalam ruang yang gelap.Segelap malam tak berujung. Keindahan dan kemewahan yang ada disekitarmu , tak lebih hanyalah fotomorgana . Kamu akan selalu begitu dengan hari hari mu”. Akupun tersenyum kecut mendengar kata kata “penjara”. Lagi lagi hanya kalimat ini yang membuatku benar benar takut.. Tapi perasaan takut itu hablur manakala setiap hari ada saja orang yang datang membawa cerita dan uang. Mereka tak pernah lelah menawarkan janji dan upeti.

“Salahkah aku ? Mengapa kamu selalu datang berbisik dengan kata kata konyol itu. Semua ini mengasikan. Aku tidak pernah merasa dipenjara. Tapi , ya aku takut dipenjara. Kamu terlalu berfilsafat” . Orang itu tidak mau mendengarkan kata kataku.. Namun kepergian orang itu membuat ku benar benar terpenjara. Gila ! mengapa aku harus memeras otak memikirkan orang orang yang ada disekitarku.

Kucoba ingin sejenak melupakan segala bau busuk yang menyengat hidung .Tapi selalu saja datang bau ini ketika sekumpulan rakyat miskin  datang kepadanya menuntut keadilan atas tanahnya yang dikuasai oleh  Pengusaha kebun besar atau Penambang Besar. “ Hak apa ? bukankah kalian memang orang orang bodoh dan lemah. Bukankah sudah nasip kalian untuk menjadi pelengkap penderita kehidupan didunia ini. Mengapa terus menuntut yang bukan porsi kalian. Sudahlah, nikmati saja kemiskinan itu dan matilah sebagai orang miskin yang baik tanpa terus mengganggu ku”

Lagi terdengar suara bisikan...

" Padahal Allah sangat cinta dengan mahluk ciptaannya. Tentu juga kepadamu. Ketahulah bahwa ...Tiga perkara yang jika terdapat salah satu daripadanya, berarti terdapat tanda munafiq sekalipun ia berpuasa, bersembahyang, menunaikan haji, umrah dan mengakui dirinya seorang Islam yaitu apabila bercakap ia berdusta, apabila berjanji ia memungkirinya dan apabila diamanahkan ia menggkhianatinya. Amanah membawa rezeki dan khianat membawa kefakiran"

Demikian suara itu tak pernah hilang. Suara ini semakin membuat ku terlempar lagi. Mencoba berkelit ketika harus memilih APBN yang aman tanpa subsidi dan membiarkan asing menguasai sumber daya alam demi pajak untuk membayar hutang dan belanja pejabat yang boros dan culas. Tak peduli kepada rakyat jelata yang miskin  diluar sana terkapar ? Kami harus menciptakan hukum dan UU agar bisa menipu rakyat lemah, agar  mereka menyingkir dari lahan leluhurnya demi Perkebunan Besar, demi Perusahaan Tambang Asing. Dengarkan baik baik, ini bukan soal benar atau salah, Bukan soal nurani atau akal sehat. Tapi soal pilihan ; harus ada yang dikorban untuk kekuasaan dan uang !

Maka senja dinegeri ini tanpa seluet. Apalagi melihat keceriaan anak anak yang berlari dipematang sawah menuju surau. Semua telah hilang kecuali harapan si buyung kecil yang bercita cita jadi bintang sinetron. Bukan menjadi guru mengaji atau dosen atau guru SD. Tangisan anak negeri tak lagi terdengar, kecuali harapan memelas seperti lentingan nyanyian sunyi Bob Dylan dalam Blowing in the wind. Dari lorong cahaya yang membuatku dipaksa menatap untain jutaan warna dan akhirnya terbentuk satu drama. “kamu adalah bagian dari lakon itu dalam satu efisode tentang kepongahan diatas sikap bodoh dan tuli” Suara itu akhirnya tidak pernah datang lagi setelah semuanya terlambat …

0 komentar: