04/11/11

Pulang

Pulang. Semua orang pasti pulang. Sebagaimana takdir yang tak dapat ditolak. Maka pulang adalah jalan yang tak dapat dibelokan. Begitu yang mungkin dirasa oleh Salman ketika kakinya melangkah menyusuri pematang sawah. Dari jauh nampak samar rumah mungil dimana disana dulu dia dilahirkan. Walau ada keengganan untuk menapak jalan pulang namun takdir memaksanya pulang sebagai orang yang kalah dirantau. Kota sebagai peraduan menatap masa depan ternyata telah melemparnya kembali kedusun kecil ini..Maksud hati ingin memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Begitu kata orang terhadap dirinya. Pendidikan yang tak seberapa dan modal tak ada namun bercita cita merebut bulan. Maka jadilah dia dimakan usia tanpa satupun yang dapat dibanggakannya ketika pulang kekampung.

“Mande …” sapanya dari belakang orang tua yang sedang membungkuk membersihkan pekarangan rumahnya. Orang tua itu berbalik dan menatapnya dengan seksama.

“ Laman,..kau kah itu , nak “ kata orang tua itu dengan agak terkejut.

Salman langsung memeluk orang tua itu “ Ya, Mande. Aku pulang, mande.? “ Katanya yang kemudian membungkuk memeluk kaki orang tua itu “ Maafkan aku , Mak. Lama kepergianku tak pernah berkirim kabar ke Mande. Aku memang anak yang tak bisa berbakti kepada orang tua. Jangan aku disesali bila aku membiarkan Mande dalam lilitan derita dikampung. Nasipku yang memang tidak beruntung dikota. Beri maaflah aku , mande. “

Orang tua itu lama terdiam membiarkan Salman dalam isakan tangisnya. Kemudian di pagutnya pundak Salman agar berdiri. Ditatapnya kembali dengan seksama wajah anak buah hatinya. Wanita tua itu tersenyum sambil mengusap air mata Salman “ Tak elok anak bujang Mande menangis. Mande, sudah maafkan segala kesalahanmu bahkan setiap hari Mande berdoa untuk keselamatan dan keberuntunganmu. Namun bila belum bersua apa yang kamu harap maka ikhlaslah karena Allah. Pasti ada hikmah dibalik kepulangan kamu kekampung ini.”Salman tak sanggup mendengar kata kata ibundanya. Kembali dipeluknya tubuh tua itu.

“ Sudahlah. “ kata Mandenya. “ Masuklah kedalam rumah. Istirahatlah dulu. Tentu kamu lelah sekali dalam perjalanan. Biar Mak siapkan makan untukmu “ kata mandenya

Setelah tiga hari dikampung. Salman baru merasakan ada sesuatu yang sangat sulit digambarkan. Kampung ini telah menjelma menjadi kumpulan masyarakat yang murung. Keceriaan dan semangat gotong royong telah lama ditinggalkan. Sebagian rumah sudah banyak yang kosong karena ditinggalkan oleh penghuninya pergi merantau kekota. Kontaminasi kehidupan kota telah masuk kekampung ini. Baju kurung sebagai pakaian kehormatan kaum wanita telah digantikan dengan pakain celana panjang ,layaknya pria. Disetiap lapau yang terdengar tidak lagi lagu gurindam tapi telah digantikan oleh lagu berirama dangdut atau rap. Yang buruk dikota menggantikan budaya dikampung sementara yang baik , seperti uang tak jua menetes dikampung ini.

“ Orang kampong yang berhasil dikota , ketika pulang membawa semua pengaruh buruk kekampung ini. Mereka memamerkan semua yang mereka dapatkan dikota.. Namun keinginan untuk berbagi atau sekedar meneteskan pendapatannya , sangat jauh api dari panggang. “ demikian kata para tetua kampong yang ditemui oleh Salman di surau yang tidak lagi ramai dikunjungi orang.

Keadaan kampong ini telah membuat Salman kehilangan arah dan semakin takut akan masa depannya. Dikota tak berguna dan dikampung terabaikan. Kemana badan akan dibawa. Kegundahan hatinya semakin menjadi jadi ketika Ibundanya menyempatkan diri untuk berbicara dengannya setelah sebelumnya Ibundanya hanya berdiam diri dan membiarkan Salman dengan dirinya sendiri selama berada dikampung.

“ Man ! Seru Mande nya “ Apa rencanamu dikampung ini ? “ tanya Mande nya sambil asik menyulam diruang tengah sementara Salman duduk diruang tamu.

“ Aku ingin bertani , Mande. Sawah dan ladang kita cukuplah untuk masa depanku.”

“Masadepan ? apa maksud kamu, nak

“ Aku akan menyinsingkan lengan baju untuk bekerja keras mengolah sawah dan ladang kita , Mande” Kata Salman. Sawah yang selama ini diolah oleh orang lain karena Ibudanya tidak kuat mengolahnya. Juga ladang disewakan keorang lain untuk diolah. Dari hasil ini ibundanya hanya mendapatkan bagian sedikit untuk bertahan hidup dimasa tuanya.

“ jadi, kamu ingin mengolah sendiri sawah dan ladang kita ? “

“ Ya Mande. “

“ Dan itulah masadepanmu ?“

“ ya Mande.”

Ibundannya terdiam sesaat. Diletakkan alat penjahit renda diatas meja dan dihampirinya Salman yang sedang duduk diruang tamu.

“ Anakku ! “ Salman terkejut ketika tangan ibundanya mengusap kepalanya sambil berkata “ Tak ada lagi yang dapat kamu harapkan dikampung ini. Sawah yang diharap tak cukup layak dinantikan hasilnya. Karena lima bulan menanti panen dan hasilnya setelah dipotong biaya pajak air, pestisida, pupuk , dan lain lain tak bisa untuk bertahan hidup untuk lebih dari satu bulan. Selanjutnya kamu harus berhutang untuk makan.”

“ tapi kan harga beras sekarang naik , Mande. Tentu gabahpun naik harganya. “

“ Beras ? benar naik tapi tidak untuk gabah. Pemerintah dan tengkulak sudah bergandengan tangan membuat harga gabah kita tidak bisa naik.“

“ Apa maksud , Mande. Pemerintah bergandengan tangan dengan tengkulak ?”

“ Tengkulak menampung harga sesukannya karena kita sudah berhutang dengan mereka. Pemerintah mengizinkan beras dari luar negeri masuk untuk mengancam kita agar tidak menaikkan harga gabah.. Sementara pedagang dengan seenaknya menaikkan harga beras untuk kita semakin sulit mendapatkan makan.“

“ Bagaimana dengan hasil kebun kita ?“

“ Kebun Pala tak lagi bisa diharapkan hasilnya. Harganya tak pernah berubah sejak dulu. Padahal herga angkutan semakin mahal untuk membawanya kepasar. Jerih payah kamu untuk merawat kebun yang tak seberapa luasnya itu tak sebanding dengan hasilnya. “

Salman terdiam. Dia tak mampu berkata lagi. Apa yang dikatakan oleh mande nya adalah benar dan sama seperti yang dia denganr disurau dari para tetua kampong.. Bahkan ada para tertua kampong yang sempat berkata :

“ Tahukah kamu bahwa keadaan sekarang ini tidak lebih baik bila dibandingkan dengan zaman penjajahan belanda dulu. Bahkan zaman belanda dulu para petani masih bisa menikmati hasil panen untuk setahun walau harus membayar pajak ke kompeni. Saya tidak tahu apa arti kemerdekaan bila kita dipasung oleh cara pintar pemerintah mengatur haknya tanpa peduli memikirkan kewajibannya membela rakyat. Negeri ini sudah masuk dalam murka Allah karena membiarkan kaum lemah semakin lemah dan para cerdik pandai serta pemimpin tidak lagi berpihak untuk membela rakyat yang lemah. Mereke lebih memikirkan diri merreka masing masing. Sudah nasip kita , yang selalu hidup terjajah. Dulu dijajah belanda dan sekarang dijajah oleh bangsa sendiri.”

Cukuplah seminggu dikampung dan akhirnya Salman memutuskan untuk kembali pergi merantau. “ Pergilah anakku karena dikampung tak ada lagi yang bisa diharapkan. Mungkin hijrah bagi seorang pria adalah keharusan untuk menjemput masadepannya dan juga bagi anak cucumu kelak. Doa Mande akan selalu menyertaimu. “

“ Ya, Mande. Aku berjanji bahwa bila kelak aku berhasil maka yang pertama aku lakukan adalah menjemput Mak dikampung untuk tinggal bersamaku dikota. “

“ Amin. Ya Allah.” Kata ibunya dengan airmata berlinang.

Salman melangkah pasti meninggalkan kampong halamannya. Tentu kepergiannya kini berbeda dengan kepergiannya dulu yang masih berhati dua. Bila gagal maka ada kampong menanti. Tapi, kini dia tahu bahwa tak ada ruang untuk dia kembali tanpa sukses. No way return. Mungkin ini pulalah penyebab kota menjadi satu satunya harapan bagi siapa saja karena pemerintah memang memutar uang dikota. Tanpa ada kebijakan yang berpihak kepada rakyat untuk mengatur pendistribusian uang dan jasa melintasi desa. Maka jadilah kota sebagai sorga yang sukses dan tentu kubangan bangkai bagi mereka yang gagal. Bagi Salman inilah pilihan hidupnya sebagai putra minang. Merantaulah buyung daulu dikampung baguno alun. Semakin jauh langkah diayun, airmatanya berlinang terdengar sayup sayup rintihan lagu "Tinggalah kampuang "

0 komentar: