
Dia bermuram sepagi ini. Tak sepeti biasanya dia yang senantiasa ceria. Apalagi bila aku ada disisinya. Ada apa ? Berkali kali kucoba untuk menghapus murungnya dengan kisah kisah humor namun tak juga surut wajahnya dari murung. Aku kehabisan akal. Kucoba dekatkan wajahku kewajahnya. Dia bersegera mencubit pipiku dengan tersenyum. AKu senang. Sepagi ini seharusnya kita isi dengan ceria. Menikmati keberduaan dirumah tanpa anak anak. Tangannya bersegera memagut tanganku untuk pergi ke meja makan “ Sarapann yuk. “. Dia seakan melupakan murungnya ketika mendampingiku makan. Sebisanya dia berlakon sebagaimana biasanya. Menjadi pendangar yang baik bila aku bercerita mengiringi setiap suapku. Aku tahu dia tidak paham dunia politik apalagi dunia ekonomi yang pelik. Namun dia berusaha sekali sekali menimpali sekedar meyakinkan aku bahwa dia mengerti apa yang aku katakan. Begitulah dia bersikap dan aku maklum.
Usai sarapan pagi. Dia menggelar sajadah untuk sholat duha yang menjadi rutinitasnya sejak kali pertama dia menjadi istriku. Setelah itu , kami duduk diruang tengah. Dihadapanku nampak wanita menjelang usia 50 tahun , yang telah dengan setia mendampingiku dalam usia perkawinan 26 tahun. Dia tersenyum ketika kuperhatikan. “ Aku tak lagi muda. Lihatlah tubuhku sudah lembek, Tak lagi kencang seperti dulu ketika kita awal betemu. Sementara kamu masih nampak gagah” Itulah kata kata yang tak pernah henti dikatakannya bila kami berdua dan aku memperhatikannya. Bagiku dia belumlah menua. Dia masih sintal. Dan aku sikuku Bima, katanya. Kami masih bisa mengejar ombak tujuh gelombang hempasan tak terhingga. Diakhir semua ketika laut menenang, kami menikmati semuanya dengan senyum bahagia. Tak ada yang lemah, juga tak ada yang terlalu kuat. Irama ombak dan semangat kami masih bisa berpacu dengan harmonis untuk menikmati kebersamaan dalam rihdo Allah.
Ketika aku dirumah, tak pernah sedikitpun aku mendengar keluhannya tentang betapa lelahnya dia mengurus rumah tangga tanpa servant. Dia berusaha membuat aku nyaman dirumah dalam kebersamaan dengan anak anak. Walau dalam setahun aku tak lebih 4 bulan dirumah namun tak pernah dia sesali takdirnya bersuamikan aku sebagai pengusaha. Bila badai ekonomi datang, dialah orang pertama yang meyakinkanku untuk tenang dan tidak usah terlalu memikirkan anak anak dan dirinya. Sehingga aku bisa melewati goncangan dengan tenang pula sampai aku bisa keluar dari masalah. Begitulah gambaran singkat tentang aku dan dia.
Ketika sore datang, kami menikmati secangkir teh diuang tengah. Matanya menatap langit langit rumah dan kemudian pandangannya disapu keseluruh ruangan yang luas. Seakan dia berdialogh tentang kesepian dalam kesedirian yang dirasakannya bila aku tidak ada disampingnya. Kami dikarunia dua anak. Yang tertua, sudah sarjana dan sekarang sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengusaha. Yang nomor dua , putri kami yang sedang sibuk menyelesaikan kuliah di fakultas kedokteran. Keduanya sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Sewaktu anak anak masih kecil kecil, dia menikmati kesibukannya dirumah. Tak pernah merasa sepi bila aku bersibuk diri diluar rumah sebagai pengusaha. Kadang berhari hari aku sibuk diluar kota dan baru kembali dengan badan lelah. Kadang aku harus menempuh perjalanan jauh keluar negeri untuk urusan bisnis. Dia tetap ceria dengan kesibukannya dirumah. Mengantar anak jemput anak kesekolah, mengantar mereka pergi les, belanja ke Mall dan mengurus segala tetek bengek dirumah.
Namun kini dalam usia menjelang lima puluh, setelah anak anak sibuk dengan dunia mereka diluar rumah. Tak ada lagi kesibukannya seperti dulu ketika mereka masih kecil kecil. Ketika pagi , setelah anak anak pergi keluar rumah, tinggalah dia seorang diri dirumah. Aku bisa merasakan betapa sepi hidupnya. Ketika malam datang, tentu dia merindukan aku. Tak ada lagi teman untuknya berkata kata. Bisu. Ruang tamu diam. Ruang makan berkabut. Kamar tidur berselimut sunyi. Suara televisi yang malam-malam terakhir ini menayangkan diskusi kosong tak pernah lagi membuatnya tertarik.
“ Putri ingin kos . Karena dia terlalu capek bila harus pulang pergi setiap hari kekampus dan kerumah. “ Katanya dengan memecah keheningan dalam bersediam saling pandang. Dia nampak murung. Dia mengharapkan tanggapanku, tentu keputusanku.
“ Ini sudah saatnya kamu tidak lagi dirumah, Ikut aku aja. Kemana aku pergi kamu sama aku. “ Kataku berusaha tersenyum untuk menghilangkan murung.
“ Dulu abang janji usia 50 akan pension dari bisnis. Apakah janji itu masih berlaku” tanyanya.
“ Insya Allah. “
“ Kalau begitu , biarlah aku dirumah saja. Tunggu dua tahun lagi abang pension"
“ Tapi kan dua tahun itu cukup lama. Apalagi harus kesepian dirumah.” Kataku.
Dia tetap murung. “ Kenapa kamu engga ikut menemaniku keluar negeri. “ Sambungku.
“ Kan dulu sebelum menikah kita sudah janji bahwa aku engga boleh ikut campur urusan bisnis Abang. Aku juga engga boleh ikut mendampingi Abang kemanapun pergi urusan bisnis. Ingat engga sih janjinya. “ Katanya sambil cemberut.
“ Ya, ya tahu. Ingat. Tapi mari kita abaikan janji kita dulu.Kita rubah dengan janji baru. Gimana ?
“ Engga mau. “ Katanya “ Kan abang yang ajarin harus konsisten dengan janji, yak an” Jawabnya tangkas. Aku kehilangan kata kata untuk membujuknya agar tak lagi murung.
“ Ok, Jadi apa yang harus aku lakukan”
“ Larang putrid kos. “ katanya dengan cepat.
“ Kan alasannya jelas. Capek.”
“ BIar aku yang antar jemput kekampus .”
“ Ma, usia kamu tidak lagi muda. Setir kendaraan itu capek. Dan lagi sudah saatnya Putri belajar mandiri. Tak juga elok anak terus dibawah ketiakmu“ Kataku. Dulu pernah kusarankan membayar supir pribadi tapi dia tolak dengan alasan pemborosan. Pernah pula kusarankan agar Putri belajar setir mobil dan bawa mobil sendiri ke kampus. Tapi dia tolak dengan berbagai alas an,
“ Abang juga tidak muda lagi. Bisnis itu kan capek.Apalagi harus banyak perjalanan keluar kota dan keluar negeri. Aku aja ke Mekkah capeknya minta ampun. “ Jawabnya tangkas.
“Kan mencari nafkah ibadah disisi Allah. Engga masalah capek”
“ Mengurus anak dan rumah juga ibadah. Aku ingin setiap keringatku , untuk anakku, untuk suamiku dihitung Allah sebagai ibadah”
Kami terdiam sambil menikmati secangkih teh. Dia masih murung. Aku membayangkan dia akan bertambah kesepian bila putri ku izinkan kos. Dia ingin bersikap tapi tak pernah berani mengambil keputusan. Dalam banyak hal urusan rumah tangga dia manager yang hebat tapi mengambil keputusan soal strategis tetaplah dia bersandar kepadaku.
“ Insya Allah, dua tahun lagi putra kita akan menikah. Kita akan dipanggil kakek dan nenek. Pada saat itu abang sudah pensiun dari bisnis. Kita akan selalu bersama. Ya kan ? “ katanya memecah keheningan kami.
“ Tentu”
“Jadi gimana dengan Putri ?“ tanyanya kembali kepada diskusi awal.
Aku terdiam dan sulit mengambil keputusan. Ini kalinya aku begitu sulit bersikap.
“ Bang, Tak elok anak gadis tinggal sendirian tanpa muhrimnya. Lain halnya bila dia tinggal dirumah kos dimana ada orang tua yang bertindak sebagai walinya. Itu bisa dibenarkan oleh agama. Dikota besar seperti Jakarta, amat jarang mendapatkan rumah kos yang lengkap dengan orang tua sebagai walinya. Umunya mereka hanya menyediakan kamar untuk disewakan. Kalaupun ada ibu kos nya namun itu hanya formalitas belaka. ” Demkian dia menjelaskan agar aku bisa bersikap dengan bijak.
“ Baiklah. Aku ada usul. Kita jual rumah ini dan kita ambil apartment yang dekat dengan kampus lia. Jadi kita tetap bisa bersama Lia dan lia tidak perlu capek pulang pergi kekampus.” Bagiku ini solusi terbaik dan tepat. Dua masalah , soal putri dan kesepiannya teratasi sekaligus.
“ Apartement ? Yang paling banyak hanya dua kamar ? katanya sambil menggelengkan kepala. " Abang lupa. Ibuku sudah tua , ibumu juga. Kalau kita tinggal di Apartement, itu sama saja kita menolak bila suatu saat mereka ingin tinggal bersama kita. Bagaimana perasaan mereka ? Bakti kepada orang tua sangat mulia dihadapan Allah, juga menjaga perasaanya lebih penting lagi. Juga aku tidak mau bila hari pertama pernikahan anak kita kelak tidak dirumah kita.” Demikian pertimbangan. Aku tahu betul baginya kehidupan apartment bukanlah pilihan bagus.
“ Aku tahu , Abang tidak ingin aku cape antar jemput putri . Aku juga tahu , Abang engga mau aku kesepian dirumah kalau abang sedang tidak dirumah. Aku tahu. Tapi sudah takdirku melewati ini semua dengan ikhlas. Allah tak mungkin mewajibkan kepada kita bila Allah tidak menyertakan pertolongannya. Tentu ada hikmah dibalik ini semua. Percayalah.” Katanya lagi. Membuat aku tersentak dan haru akan ketegaranmu menghadapi kenyataan walau usia semakin menua.
Kugenggam tangannya sambil berkata " Ya kita memang harus terus berkorban untuk buah hati kita, untuk orang terdekat kita. selalu sampai ajal menjemput. Mereka semua adalah cobaan bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah. Semoga Allah selalu membuat kita tak terpisahkan dalam menghadapi peliknya kehidupan untuk beribadah kepada Allah." Kulihat airmata mengambang dipelupuk matanya.
Kini barulah aku sadar mengapa dia murung. Kawatir aku salah mengambil keputusan. Karena dia kenal betul akan sikapku yang pragmatis. Sebagai businessman kadang aku lebih banyak mengandalkan logika berpikir dengan cepat. Kadang terlupakan hakikat yang harus menjadi petimbangan utama. Dia selalu hadir sebagai penyeimbang ketika aku harus mengambil keputusan. Ya setiap keputusan rumah tangga adalah tanggung jawabku dihadapan Allah dan dia mengingatkanku agar tidak lupa bersikap bijak. Ketika aku mengambil keputusan sesuai sarannya maka tak ada lagi murung diwajahnya. Dia kembali ceria yang berbungkus ikhlas karena Allah.
0 komentar:
Poskan Komentar