
" KIta tidak boleh menghujat orang lain dengan kesalahannnya. Karena bukan tidak mungkin Allah telah mengampuni orang itu .." demikian anakku menanggapi semua cacian masyarakat terhadap Pak Harto. Dia tidak mau berpolemik. Tapi aku tahu betul siapa Pak Harto bagi dia. Juga bagiku.
***
Ketika itu usianya barulah 13 tahun dan duduk dikelas 3 SMP. Kuberi nama dia, Faisal dan panggilan sayangku pada dia adalah Isal. Walau kami miskin , namun anakku tidak pernah minder bergaul dengan teman temannya. Sehabis pulang sekolah , dia berdagang teh botol diterminal sampai malam. Ini dilakukannya untuk meringankan bebanku. Allah menganugrahkan tiga orang anak kepada kami. Isal adalah anak tertua dan dua orang adiknya adalah perempuan. Masih SD. . Sementara suamiku , bekerja sebagai kuli bangunan. Dan aku ikut membantu meringankan beban suami dengan berdagang kue dipasar. Dari SD sampai SMP , anakku selalu dapat rangking disekolah. Dia cerdas dan berbudi pekerti. Teman temannya semua menyukai dia. Sebagai anak laki laki tertua, kami menaruh harapan besar kepada Isal. Apalagi , dua adiknya perempuan, tentu mereka semua butuh perlindungannya kelak bila dewasa.
Namun, disuatu hari aku hampir tak percaya ketika mendengar kabar buruk tentang Isal. Temannya mengabarkan dia ada dikantor Polisi.Isalku , berbuat criminal , kah.? Tidak ! Tidak mungkin , Isal melakukan perbuat keji tersebut.” Aku meraung. Tanpa memperdulikan daganganku dijalanan. Aku berlari kekantor polisi bersama temannya. Betapa hancur hatiku ketika melihat buah hatiku. Wajahnya lebam dan darah mengalir dari hidungnya. Ku peluk ia erat erat ketika dikeluarkan polisi dari sel tahanan. “ Mengapa , nak,. Kamu mencuri ? “ tanyaku dengan lembut. Kucoba jaga perasaan anakku. Bagaimanapun dia butuh perlindunganku. Ditatapnya wajahku yang berlinang air mata“ Isal , tidak mencuri Ma, Tidak ,Ma. Orang itu kehilangan pena ketika berbelanja dengan Isal. Dia menuduh Isal yang mencuri. Isal menolak tapi orang itu terus menuduh dan memukuli Isal.” Katanya dengan terbata bata. “ Isal , tidak mencuri ma..Mama percayakan dengan Isal “ Katanya lagi. Kembali kupeluk dia erat.
Kutatap polisi yang ada disamping kami. Polisi itu berwajah sinis dan segera menarik Isal kedalam Sel. Aku berteriak menyebut nama Isal ketika digiring kembali kedalam Sel tahanan “ Mama, tolong isal , ma. Isal takut disini..” katanya dengan setengah menahan tangis. " Ya , Nak. Mama akan tolong kamu..." Dunia terasa ambruk menghantam diriku. Ketika melihat buah hatiku masuk dalam dunia yang tak pernah terbayangkan dalam hidup kami.
Dari polisi aku mendapat tahu bahwa Isal ketahuan mencuri Pulpen mahal oleh anak sekolah yang sedang membeli teh botolnya. Terjadi perkelahian antara Isal dengan anak yang menuduhnya. Anak itu , terjerembab jatuh.. Kepalanya luka terkena ujung tembok terminal.” Anak ibu mencuri dan dia sudah mengakui semua perbuatannya. “ Kata polisi itu sambil memperlihatkan Berita Acara Pemeriksaan yang ditanda tangani oleh Isal. “ Dia akan mendekam dalam penjara setidaknya 2 tahun. “ kata polisi itu lagi. Seperti petir menyambar ketika mendengar penjara. Anakku terpidana? Tidak ! Tidak mungkin.! Kucoba menghamba kepada polisi agar mempercayai alasanku bahwa anakku tidak mungkin mencuri. Betul kami miskin tapi kami tidak pernah mengemis , apalagi mencuri.. Tapi polisi itu tidak peduli.
Dalam kelelahan, aku melangkah keluar dari kantor Polisi. Kakiku berat untuk meninggalkan kantor polisi itu. Aku membayangkan Isal didalam sana bersama terpidana lainnya. Oh tuhan, apa yang dapat kulakukan untuk melindungi anakku. “ Desah nafasku tersengal sengal membayangka hal buruk yang akan terjadi terhadap Isal di dalam penjara.
“ Ada apa , Bu ? Terdengar suara pria menyapaku dari belakang ketika aku hendak keluar dari gerbang kantor polisi.
“ Anak saya ditahan disini “ kataku dengan airmata masih berlinang. Pria itu tersenyum ramah sambil berkata. “ Ini kartu nama saya. Ibu silahkan datang kekantor saya ,kapan saja. Mungkin saya dapat membantu ibu. “ Tertulis dikartu nama itu , Lembaga Bantuan Hukum.
“ Lebih baik sekarang saya ikut kekantor bapak. “ kataku. Pria itu dengan ramah memintaku menunggu dipelataran parker. Karena dia masih ada urusan dengan polisi. Tak berapa lama, pria itu keluar dan menuju ketempat kendaraan yang diparkir. Dia mengajakku untuk ikut bersama.
“ Saya tadi kebetulan sempat bertanya tentang kasus anak ibu kepada Polisi. Dia bilang kasusnya sederhana dan tidak ada sebetulnya bukti apapun yang memberatkan tuduhan anak ibu mencuri. Tapi masalahnya menjadi lain karena anak yang berkelahi dan yang menuduh anak ibu mencuri itu adalah putra dari seorang hakim. Polisi tidak bisa berbuat apa apa kecuali mengikuti kemauan sang hakim itu. “ Kata pria itu ketika didalam kendaraan menuju kantornya.
“ Mengapa harus menjebloskan anak saya kepenjara.? Mengapa ? “
“ Itulah masalahnya. Ini soal kekuasaan. Mungkin hakim itu tidak menerima anaknya terluka karena perkelahian itu. Egonya dan kehormatannya terganggu karena anaknya dilecehkan oleh anak ibu , pedagang teh botol jalanan. “ Kata pria itu lagi dengan suara berat.
“ Apa yang dapat saya lakukan untuk melindungi anak saya “ Kataku setengah putus harapan.
“ Kami akan membantu untuk membela anak ibu dipengadilan. Tapi ibu harus bayar biaya itu."
" Saya orang miskin , Pak. Dari mana kami dapatkan uang " Kataku menghiba.
" Kalau begitu tidak ada yang dapat ibu lakukan , kecuali berdoalah kepada Allah. Mintalah perlindungan kepada Allah. Ibu berhadapan dengan pemilik palu keadilan. Itulah masalahnya. “ Kata pria itu. Walau sarannya baik namun terkesan mengejek kemiskinannya.
Aku mulai memikirkan suamiku. Aku menginginkan dia ada disampaingku dalam situasi sulit ini. Namun bagaimana aku dapat menghubunginya? . Dia sedang berada di luar kota. Ikut sebagai kuli kontrak membangun jembatan. Aku sendirian dan anaku masih didalam sel dalam ketakutan. Tuhan , beri aku kesempatan untuk melindungi anakku. Engkau beri amanah kepada ku seorang anak manusia dan kini aku gagal untuk melindunginya dari kezoliman manusia. Engkau yang memberi dan engkau pulalah yang akan menjaga. Itulah doaku dalam perjalanan pulang kerumah.
Entah mengapa , pikiranku tertuju kerumah president. Ya aku harus kerumah president. Hanya dialah penguasa dinegeri ini yang dapat melindungi anakku dari kezoliman. Tapi apakah mungkin , president dapat menerimaku ? Langkahku terus menuju jalan cendana. Semua orang dijakarta tahu percis dimana rumah presidentnya namun semua juga tahu tidak mudah untuk bertemu dengan president. Tapi aku harus bertemu. Apapun hasilnya.. Ini soal anakku. Ada bisikan halus yang terus menguatkan langkahku untuk tidak berhenti.
Hari telah berangkat sore. Langkah ku terhenti tepat didepan rumah president. Nampak penjaga rumah itu mendekatiku dengan wajah garang penuh selidik. “ Pergi dari sini” Bentak Penjaga itu sebelum aku berkata apapun. Aku mencoba membalut wajahku dengan senyum ramah sambil berkata “ Saya rakyat kecil pak. Saya tidak minta sedekah. Saya hanya mau bertemu dengan Pak Harto. Tolonglah pak..”
“ Bapak tidak ada. Sudah…pergi sana.” Bentak penjaga itu lagi. Terasa kabut gelap didapanku. Walau penjaga itu menembakku. Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan president. Ini sudah tekadku. Tak berapa lama , salah satu penjaga yang ada dipos penjagaan mendekatiku “ Ibu, silahkan masuk. Saya barusan dapat telp dari dalam. Mari saya antar bu. “kata penjaga itu dengan sangat ramah. Aku terkejut. Jantungku berdebar debar ketika melangkah masuk kedalam rumah. Nampak diruang tamu seorang pria dengan senyum khasnya menatapku. Wajah yang selama ini hanya kelihat ditelevisi dan kini ada didepan mataku. President Negeri ku. Soeharto. Segera aku berlutut dengan terbata bata ingin mengungkapkan semua kesedihanku tentan Isal. Tapi, Pak Harto segera memegang bahuku dan membimbingku ketempat duduk.
“ Tadi saya lihat dari lantai dua, ibu bersikeras untuk betemu dengan saya. Ada apa ? “ katanya. Tapi aku masih terkesima dengan keadaan ini. “ Tenang , bu. “ Katanya lagi dengan tersenyum , seakan menangkap kegugupanku. Sambil menarik nafas dalam dalam, akhirnya aku menceritakan semua yang menimpa anakku. “ Tolong lah kami Pak. Dia anak saya laki laki satu satunya. Kami miskin tapi kami tidak pernah meminta apalagi mencuri. Dia harapan kami untuk kelak dimasa tua kami. “ kataku dengan airmata berlinang. President nampak tersenyum sambil memanggil salah seorang petugas. Kelihatannya dia berbicara sebentar dan meliriku sambil menanyakan kepastian alamat kantor polisi dimana Isal ditahan. “ Nah,sekarang ibu bisa pulang. Anak ibu sudah ada dirumah ketika ibu sampai. “ katanya. Mendengar itu, aku langsung mendekat dan ingin memeluknya. Tapi president dengan senyum khasnya memegang pundakku sambil menyalamiku.
Benarlah, ketika aku sampai dirumah. Isal sudah ada pula didalam rumah. Kupeluk dia erat erat, seakan memastikan bahwa dia akan selalu aman dalam dekapanku. Seminggu kemudian , ada petugas datang kerumahku. Mereka mendata Isal dan sekaligus memastikan bahwa Isal akan mendapatkan beasiswa sampai dia tamat universitas. Aku terharu. Ingin rasanya aku berlari kerumah presidentku untuk mengucapkan terimakasih. Tapi kuredam itu semua dengan sujud syukur akan kebesaran Allah yang telah dengan mudahnya memberikan pertolongan diluar rasionalias manusia.
***
20 tahun telah berlalu sejak peristiwa itu. Isal kini sudah jadi sarjana Hukum dan berprofesi sebagai pengacara. Aku bangga dengan anakku dan bila kutahu keteguhan anakku membela mereka yang teraniaya , ingatanku tak pernah hilang dengan seorang yang begitu mulia hatinya ..Pak Harto. Ditengah kecaman orang banyak terhadap Pak Harto, bagiku dia tetaplah seorang bapak dan pemimpin, yang bagaimanapun dia pernah berbuat untuk rakyat yang dicintainya. Dibalik begitu banyak kesalahannya, menurut orang , namun setitik kebaikannya akan selalu abadi dihatiku , yang tak henti kudoakan semoga kebaikannya diterima disisi Allah dan kesalahannya diampuni.
0 komentar:
Poskan Komentar