22/10/11

Kembalinya cinta yang hilang

Angin bertiup dengan lembut menerobos kedalam kamarnya. Pohon mangga yang terdapat tepat didepan kamarnya bergerak lembut. Satu satu daun gugur berjatuhan dan kadang masuk kedalam kamarnya. Dia tidak terkejut ketika sepasang kaki indah melintas didepan kamarnya, yang kemudian menyorongkan kepalanya kearah jendela. “ Aku bawakan makanan kesukaan mu. “ wanita itu menaikan tangannya tinggi tinggi sambil melihatkan rantang ditangannya

.“ Kenapa harus repot.. “ Jawabnya. Wanita itu tidak memperdulikannya. Terus berputar kearah pintu kamar.

“ Apakah ada kemajuan skripsi mu “ Wanita itu memegang pundaknya dari belakang dengan memperhatikan lembaran kertas yang tergeletak diatas meja. Dia hanya menggaruk kepala. Wanita itu kembali melakukan kebiasaanya. Mengambil pakaian kotor untuk dicuci dan sekalian membersihkan kamarnya yang berantakan. Biasanya keesokan sorenya wanita itu akan datang lagi dengan membawa pakaiannya yang sudah bersih.“ Aku harus segera pergi. Takut terlambat masuk kerja “ Wanita itu berlalu dengan membawa pakaian kotornya.

Dia hanya terhenyak. Sudah lebih dua tahun dia terus berbohong mencintai wanita itu hanya karena dia tidak ingin mengecewakan harapan wanita itu. Wanita yang terlalu polos dengan cintanya. Sehingga kadang dia merasa telah membuat wanita itu hidup dalam angan angan yang sengaja dia ciptakan. Tapi sampai kapan keadaan ini dia harus pertahankan.Cinta itu memang tidak mudah diraih. Begitu pula dengan kehadiran wanita itu dalam hidupnya. Dia tidak pernah dapat mencintai wanita itu namun dia dapat bersikap sempurna hingga nampak dia benar benar mencintai. Mungkin karena memang dia sangat membutuhkan wanita itu untuk menopang kehidupannya yang memang butuh biaya. Hingga setiap hari wanita itu terus bekerja keras untuk memberikan dukungan menyelesaikan kuliahnya

“ Apakah tidak lebih baik kita menikah saja. Kamu dapat terus dengan kuliahmu tanpa harus dibebani dengan biaya hidup. Gajiku cukup untuk kita hidup berdua. “ Kata wanita itu satu ketika.

“ Aku tidak bisa mendahului kakak perempuanku. “ Demikian dia beralasan untuk sengaja menunda. Wanita itu tetap sabar menanti saatnya tiba. Ketika Kakak perempuannya menikah wanita itu kembali datang dengan harapannya. “ bukankah sudah saatnya kitapun menikah. “ Dan diapun kembali dengan alasan lain “ Aku harus menunggu sampai kuliahku selesai. “ Kembali wanita itu harus menunggu. Ketika kuliahnyapun selesai , wanita itu menampakan keceriaan yang luar biasa. “ Orang tuaku sudah siap menanti lamaranmu “ Diapun datang dengan alasan “ Aku harus dapat kerjaan dulu. Aku tidak mau membebanimu bila kelak kita berumah tangga. ““ Aku hanya ingin impian ku dapat terkabulkan segera. Hidup bersama pria yang aku cintai. “ Kata wanita itu. Harapan yang terlalu sederhana tapi menjadi sulit baginya. Bagaimana mungkin.? Baginya lebih baik hidup sehari dengan orang yang dicintainya daripada hidup seribu tahun dengan wanita yang tidak pernah dicintainya.

Satu saat dia harus berkata dengan jujur. Maka diapun tanpa beban untuk mengatakan “ Aku tidak mencitai mu. Lebih baik kamu berharap pada pria yang benar benar mencitaimu. Itu lebih baik “

“ Tidak adakah arti bagi mu hubungan kita selama ini? “ Wanita itu menampakan wajah keterkejutannya dengan airmata berlinang.

“ Itu sangat berarti sekali. Aku justru disadarkan betapa kamu sangat bernilai dihadapanku. Makanya aku tidak pernah berusaha untuk menyentuhmu.” Katanya dengan berat menatap sendu wajah wanita dihadapannya “ Maafka aku. Aku telah menemukan wanita yang aku cintai dan Kami akan segera menikah” sambungnya yang membuat wanita itu jatuh berkeping keeping.

“ Apakah diapun mencintaimu sama seperti aku ? “

“ Kami saling mencitai. “

“ Secepat itukah ?“

“ Ya. “
Wanita itu tertunduk sambil mengusap airmata dan kemudian berdiri keluar dari kamarnya. Di luar angin bertiup lembut dan daun keringpun nampak jatuh berguguran. “ Nasipku , tidak lebih sama dengan daun itu. Yang akhirnya gugur dimakan waktu. Tapi aku tetap bersyukur karena kamu telah memberi waktu untuk ku mencintaimu.”

***

Delapan tahun dia baru merasakan hidup sebagai pecundang. Walau kedudukannya sebagai direktur perusahaan namun semua kendali perusahaan dipegang oleh istrinya. Dihadapan mertua dan keluarga istrinya , dia tidak lebih sebagai boneka yang harus dijaga namun dapat dengan mudah diabaikan. Baru kini dia merasa perlunya kehormatan sebagai laki laki. Tapi apakah dia mampu ?

“ Aku menikah dengan mu karena kamu punya kepintaran dan pekerja keras. Jadi jangan pernah berharap lebih dari ku. “ Kata istrinya ketika dia meminta agar tinggal dirumah.
“Orang tuaku memintaku untuk menjalankan perusahaan ini dengan benar.Dan kamu harus membantu usaha keluarga ini agar dapat diteruskan dengan anak anak kita kelak “

“ Bukankah kamu istriku ? Serunya “ dan kamu harus mendengar ku. Sampai sekarang kita belum punya anak. Karena kamu selalu sibuk. Sampai kapan ? “ katanya.“

“Kita tidak punya apa apa selain memang harus hidup dibawah pengawasan Ayah. Kita sudah beruntung dapat menikmati kelebihan harta ini tanpa harus menderita seperti orang lain. Soal anak , memang aku belum siap melahirkan .Jadi berhentilah bersikap kekanakan. “

Selalu dia kehilangan jalan untuk menjadi seorang laki laki. Satu saat dia kembali ada keberanian bersikap dihadapan istri dan mertuanya.“ Saya harus keluar dari perusahaan ini. Saya sudah tidak tahan menjadi boneka diperusahaan maupun dirumah tangga. Saya ingin dihargai seperti layaknya direktur diperusahaan dan kepala keluarga dirumah.” Katanya.

“ Oh, Itu yang kamu mau.? “ Jawab mertuanya. “ Baik, Kamu boleh keluar dari perusahaan ini dan silahkan kembali kerumah sebagai kepala keluarga yang kamu mau “ Lanjut mertuanya sambil menatap kearah istrinya.

“ Bagaimana dengan kamu “ Katanya kepada istrinya.

“ Kalau abang berhenti dari perusahaan ini maka abang tidak ada tempat dirumah. “ Jawab istrinya dengan dingin.

“ Bukankah kamu mencitaiku ? “

“ Abang, sudah tahu apa yang harus abang lakukan. Banyak pintu keluar untuk abang bebas pergi dari sini. “ Istrinya tidak menjawab tentang cinta tapi memintanya pergi.

“ Baik. Saya perg!!i “ Dia mengambil tasnya dari pergi meninggalkan istri dan mertuanya

“ Tolong jangan ada satupun yang boleh abang bawa. Karena semua bukan milik abang. Kecuali barang yang abang bawa sewaktu abang datang kerumah saya “ Teriak istrinya ketika dia melangkahkan kakinya keluar.

Delapan tahun perkawinan yang sia sia. Memanglah perkawinan yang salah karena diawali dengan niat yang salah. Karena dia hanya melihat dari kecantikan wanita dan kekayaannya. Bahkan dalam banyak hal dia memang tidak pernah membuat keputusan yang benar. Delapan tahun bagai menumpang tawa ditempat ramai namun akhirnya menangis dalam kesendirian tanpa ada yang mau peduli.Bayangannya kini kembali kepada ketika dia pergi meninggalkan tempat dimana dia menyelesaikan kuliahnya. Bayangan tentang seorang wanita yang begitu setia berkorban dan akhirnya dia tinggalkan begitu saja hanya karena dia tidak mencintai wanita itu. Tapi dengan keadaannya kini maka dia sangat merindukan wanita itu. Ternyata bagi laki laki yang sangat dibutuhkan adalah cinta dari seorang wanita yang ikhlas berkorban..

Ketika dia datang kerumah yang dulu pernah dia tempati , hatinya bergetar dirudung rasa bersalah. Ingat akan seorang wanita yang selama dua tahun sabar dan setia menantikan cintanya. Kamarnya masih seperti dulu. Hanya kini sudah ditempati oleh seorang mahasiswa yang baru setahun kost. Ibu kost nya menyambut hangat kedatangannya

“ Mbok, Sri masih tinggal diujung gang ini “ tanyanya kepada Ibu kost.

“ Masih. “

“ Apakah dia sudah menikah “

“ Yang Mbok tahu , dia belum menikah.” Ibu kost menatapnya dengan tersenyum “ sebetulnya dulu si mbok ingin mengingatkan kamu agar tidak berhubungan dengan Sri. Dia itu bekerja sebagai wanita panggilan “. Dia terkejut. Mengapa dia tidak pernah tahu ? Mungkin karena selama dua tahun hubungannya hanyalah bertepuk sebelah tangan dan dia memang tidak peduli dengan segala kegiatan wanita itu. Yang dia tahu , wanita itu selalu datang menyelesaikan masalahnya bila mengetahui dia membutuhkan uang untuk keperluan kuliahnya. Kini lengkaplah sesalnya terhadap seorang wanita yang telah menjual tubuhnya hanya karena satu harapan untuk pria yang dicintainya.

“ Bukankahn dia bekerja di Salon “ Katanya mencoba meyakinkan diri bahwa informasi itu tidak benar.

“ Itu hanya kedok saja. “

“ Sampai sekarang ?”

“ Sejak kamu pergi dia tidak lagi bekerja di salon. Dia menjadi TKW di Saudi. Dua tahun lalu dia kembali dan sekarang buka warung nasi di Pasar. “

“ Ohhh “

“Oh ya ,kamu sudah menikah ? sudah berapa anaknya “ tanya Ibu Kostnya.

“ Saya belum punya anak , Mbok. Delapan tahun menikah dan akhirnya kami bercerai”

“ Oh…yang sabar ya..Nak. “

“ Ya , Mbok “

Pasar yang dulu biasa dilewatinya bila pergi kekampus masih seperti dulu. Kumuh dengan sampah yang bertebaran dimana mana. Disamping pasar itu terdapat terminal angkutan dalam kota. Dia melangkahkan kaki melintasi terminal dan masuk kedalam pasar. Dari kejauhan dia melihat warung tenda yang menjual nasi dan didalamnya nampak wanita yang dulu sangat mencitainya. Dia memilih menunggu wanita itu menutup warungnya agar dia dapat dengan bebas berbicara. Ketika sore datang, Wanita itu pergi meninggalkan warungnya dan menuju keterminal.

“ Sri …” serunya. Wanita itu terkejut menatapnya

“ Mas Bram ya “

“ ya, Aku , Sri. “ Jawabnya “ apakah kamu baik baik saja “

“ Baik Mas. “ Wanita itu hanya diam sambil menundukan wajah. Dia sudah berjilbab. Beda dengan dulu penampilan yang selalu bersolek layaknya wanita salon

.“ Sri, apakah kamu masih mencintaiku “ katanya ragu.

“ Aku sangat mencintai Mas dan itu tidak akan pernah hilang didalam hatiku. Tapi kepergian Mas , menyadarkan ku bahwa aku memang bersalah. Sikap Mas yang tidak mencintaiku adalah awal aku mendapatkan hidayah dari Allah bahwa cinta Allahlah yang harus kujemput lebih dulu agar aku dapat dicintai oleh manusia.. Pengorbananku terhadap sesuatu yang aku cintai tidak akan ada artinya bila aku berpaling atas cintaku kepada Allah.. Aku tidak pernah menyesali sikap Mas. Dalam taubah ku, aku selalu berharap agar Allah mengampuni segala dosaku. “

“ Pengorbananmu adalah ujud dari keikhlasan dan keyakinanmu dengan kekuatan cinta yang kamu miliki. Cinta adalah anugrah dari Allah. Perjalanan waktu telah mengantarkan mu kepada jalan untuk meraih cinta yang sesungguhnya.” Katanya tapi wanita itu terus tertunduk “ Kamu berhak untuk mendapatkan kembali cintamu yang hilang setelah Allah menerima taubahmu “

“ Maksud , Mas ? “

“ Aku ingin melamarmu ..” Katanya dan kini dilihatnya wanita itu menatapnya dengan ari mata berlinang.

“ Benarkah itu ? “

“ Ya , Sri “ Wanita itu nampak ceria namun kemudian mundur kebelakang ‘ Bagaimana dengan istri Mas ? “ Katanya.

“ Aku sudah bercerai. Dia tidak pernah mencitaiku. “ jawabnya.

Senja semakin pekat dan dari jauh terdengar suara azan mengumandang. Mereka berdua berjalan menuju Masjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Tentu mereka bahagia dengan bertautnya kembali cinta namun kebahagiaan itu datang ketika mereka mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari pemberi cinta. Allah.

0 komentar: