19/02/12

Ayah yang baik..

Hujan deras mengguyur kota , bagaikan ditumpahkan dari langit. Jalanan sebagaimana biasanya tentu juga macet , apalagi diwaktu hujan. Dengan menyetir sendiri kendaraan ditengah hujan deras dan macet , Sundoro sedikit kesal karena Gimin , supirnya tidak masuk hari ini. Mungkin karena hujan atau apalah. Lambat namun pasti jalanan mulai tergenang. Dari kejauhan nampak mobil sudah tidak ada lagi yang bergerak. Ini macet total. Dalam kebingungan itulah , sundoro baru menyadari bawa jalanan tergenang air cukup tinggi. Tak berapa lama , akhirnya mesin mobilnya mati dengan sendirinya. Diliriknya dari jendela mobil , ternyata air sudah melewati kenalpotnya. Dia terhenyak terkurung ditengah hujan deras dan kendaraan yang mati mogok.
Dari kejauhan nampak anak muda datang menghampirinya. ” Pak ..” teriak anak muda itu sambil menggedor pintunya. Sundoro agak takut karena pria itu berpakaian lusuh dan basah. Tidak ada nampak orang baik baik. Namun dengan senyum mengambang diwajah pria itu, membuat Sundora berkeyakinan bahwa pria ini orang baik baik. ” Ya, Ada apa ? Sundoro membuka jendela mobilnya ”
” Bapak harus segera keluar dari mobil. Sebentar lagi air akan terus naik. atau mobil ini saya bantu dorong” Pria itu menatap keseliling pinggiran jalan ” Kita kesana pak. Itu ada rumah besar yang agak tinggi dari jalan. Saya akan minta izin kepada satpamnya agar bapak dapat parkir disana ” kata pria itu lagi sambil berlari kearah rumah besar itu. Tak berapa lama pria itu datang lagi kepada Sundoro dengan tersenyum ” Dia mengizinkan , Pak. ” kata pria itu , Tanpa komando, dia mendorong mobil sundoro dengan sekuat tenaga. Sundoro masih didalam mobil sambil memperhatikan dari kaca spion perjuangan pria itu mendorong mobil ditengah hujan deras. Lambat mobil itu bergerak namun pasti kearah rumah besar dipinggir jalan. Kemudian pria itu bersama satpam membantu mendorong mobil ketempat parkiran rumah yang agak tinggi dari jalan. Akhinrya mobil itu selamat pada tempat yang aman. Sundoro keluar dari Mobil dan menghampiri peria itu sambil mengeluarkan dompet ” Berapa saya harus bayar untuk bantuan anda ” tanya sundoro.
" Maaf pak, Saya hanya membantu bapak. Karena melihat bapak didalam mobil , saya ingat almarhum Ayah saya. ” jawab pemuda itu.
" Baiklah, Nak. Terimalah uang ini sebagai ungkapan terimakasih dari ayah kepada anaknya ” jawab Sundoro.
” Tidak ada imbalan yang lebih patut dari ayah kepada anak kecuali terimakasih tulus. Itu lebih dari cukup untuk saya. Karena seorang ayah tidak pernah lelah berkorban untuk anaknya dan menanamkan cinta untuk itu... ”
” Oh , tentu ayah kamu orang tua yang beruntung karena mendapatkan anak sebaik kamu ” Sundoro agak terharu sambil menepuk pundak anak muda itu.
” Oh ya , siapa nama kamu, nak ?

" Toni, pak  ” 
" sekali lagi, terimakasih nak Toni. ” 
Anak muda itu membalasnya dengan tersenyum tanpa bersedia menerima sesenpun uang dan kemudian belalu dari hadapan Sundoro. < Dua hari kemudian, Sundoro bersama istrinya sudah berada di Airport untuk berangkat keluar negeri, mengunjungi putri bungsu yang akan melahirkan cucunya. Sebelum berangkat Sundoro pergi ke Toilet ,didepan pintu nampak seorang wanita muda , petugas toilet yang sedang hamil. 
" Sudah usia berapa kandungan kamu , nak " 
 "Enam bulan , Pak ” jawab wanita muda itu sambil tersenyum. 
Sundoro menatap dengan seksama kearah wanita itu. Dia terbayang putri bungsunya yang sedang hamil namun dalam perlindungan penuh diapartement mewah. Sementara wanita muda ini masih harus berjuang berpeluh ditempat kerjanya. Juga terbayang anak muda yang dua hari lalu menolongnya.. Teringat kata kata anak muda itu ” Seorang ayah tidak pernah lelah berkorban untuk anaknya dan menanamkan cinta untuk itu...” 
Sundoro berlalu dari hadapan wanita itu dan masuk kedalam Toilet sambil mengeluarkan 10 lembar pecahan 100 dollar dan dimasukannya kedalam amplop. Ketika keluar dari pintu toilet, Sundoro menyerahkan amplop itu kepada wanita muda itu sambil tersenyum ” terimalah...” wanitai muda itu menerimanya dalam kebingungan. Namun sundoro sudah berlalu cepat dari hadapan wanita muda itu. 
***
Disudut kota , diperkampungan kumuh. Satu Keluarga dari pasangan muda sedang menuju perbaringan setelah lelah bekerja seharian. Disebelah wanita muda itu , terbaring pria muda yang sedang terlelap tidur. Wanita itu kembali membuka amplop yang tadi dterimanya dari orang tua yang ditemuinya di toilet kebarangkatan pesawat. Didalam amplop itu ada tulisan ” Saya yakin , bayi dalam kandungan kamu ini sangat dinantikan oleh seorang ayah yang baik dan juga oleh seoran kakek yang baik..” Wanita muda itu menghela nafas panjang dan tersenyum.
” alhamduillah ya, allah, Engkau mendengar doaku siang dan malam. Aku bersyukur dengan semua yang kuterima, apalagi engkau kirim seorang pria yang soleh sebagai suamiku dan juga kelak akan menjadi ayah yang baik...”
 " Terimakasih , Mas Toni, sudah bersedia menjadi suamiku.” Dikecupnya kening Toni yang sedang pulas. Kini wanita itu tidak perlu pusing lagi memikirkan biaya untuk melahirkan karena uang dari pemberian orang tua itu , lebih dari cukup untuk menjemput kedatangan bayinya kedalam kehidupan mereka berdua. Maha suci Allah.

18/02/12

Ketika...

Dikamar tak lebih berukur 4 meter. Dia tergeletak di dipan lusuh. Tubuhnya terbujur lemah. Matanya terpejam. Wajahnya pucat. Itu yang kusaksikan ketika sampai ditempat kost nya. “ Sejak kepulangannya dari Taipeh , dia nampak murung. Kadang menangis sendiri tanpa sebab. Bila ditanya dia hanya diam. Bila malam dia tahajud dan berdoa dalam berurai air mata.  Ketika pulang dari Taipeh uang dia hanya bisa menyewa kosan ini untuk tiga bulan. Kini dia sakit. Tak ada uang untuk berobat. Sayapun sebagai sahabatnya tak bisa berbuat banyak.  Ingin saya ajak dia pulang kampung tapi dia bersikeras tak mau pulang. “ Demikian sahabat Dewi mengatakan kepadaku. Aku terenyuh. Dengan serta merta aku memanggil ambulance untuk membawa Dewi ke rumah sakit.  Dewi terkena radang usus dan butuh perawatan dokter di Rumah sakiat. Aku berikhlas hati untuk menanggung semua biaya berobat Dewi untuk diopname selama dua minggu.

Ketika Dewi sembuh dari penyakitnya ,seorang kenalanku  yang kebetulan membutuhkan karyawan customer service menerima Dewi sebagai karyawan. Setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Dewi.  Mengapa aku ceritakan tentang Dewi kepadamu ? sebetulnya tidak ada yang istimewa. Namun baiklah aku ceritakan selengkapnya. Dia kali pertama aku mengenalnya di Taipeh 10 tahun yang lalu.  Perkenalanku dengan Dewi disuatu tempat hiburan di Taipeh. Ralasi businessku mengajaku menikmati hiburan malam di Taipeh disebuah KTV berkelas. Ketika deretan gadis ayu berjejer didepan kami, pandanganku kepada seorang wanita bermata sipit, yang disebutkan oleh Mamisan bahwa dia berasal dari Indonesia,namanya Dewi. Aku memilihnya untuk menjadi pendampingku.

Aku memang acap terjabak dalam pergaulan dunia hiburan seperti ini tapi ini bagian dari resikoku dalam dunia business. AKu berusaha untuk tidak larut dan sadar bahwa minuman keras dan free sex adalah dosa besar. Dua hal ini kujaga dengan segala daya agar aku tetap tawar ditengah laut yang asin.  Itulah sebabnya kuminta mamas an mengizinkan Dewi mengganti pakaiannya yang sopan selama mendampingiku. Kulihat mamasan nampak terkejut dan merasa aneh dengan sikapku namun aku tak peduli.
“ Kamu dari Indonesia “ tanyaku.
“ Ya Om.
“ Sudah berapa lama kerja disini ?
“ sudah hampir setahun. “ katanya dengan pandangan tertunduk kebawah. Kutahu Dewi merasa tidak nyaman berada disampingku karena mungkin aku berasal dari Indonesia. Namun , mamisan, mengatakan bahwa Dewi memang begitu sifatnya. Namun dia tetap primadona di KTV ini. Dia lembut dan pasrah untuk memanjakan setiap tamunya.
“ Bagaimana kamu sampai kerja ditempat ini ?
“ Awalnya saya ditawari untuk menjadi duta seni datang kemari.Setelah melewati standard test di agend modeling di Jakarta, akhirnya saya diberangkatkan ke Taipeh. Namun setelah sampai disini malah diperkerjakan ditempat hiburan., Tak ubahnya sebagai pelacur. Saya tak berdaya karena sudah kontrak. Dan lagi ketika kerja disini orang tua saya terpaksa menggadaikan sawah rumah untuk bayar biaya keberangkatan. “
“ Kamu tamatan apa sekolahnya ?
“ Saya tamatan ABA. “
“ Oh itu sebabnya kamu bisa bahasa inggeris dengan sempurna dan bekerja ditempat berkelas seperti ini.”
Dewi hanya mengangguk. 

Aku tak mau lagi bertanya lebih jauh. Bagiku ini sudah menjadi cerita klasik ditempat hiburan bahwa semua wanita pada dasarnya tak ingin menjadi pelacur. Karena tuntutan hidup atau karena kebodohan mereka akirnya menjadi korban. Namun yang  saya tahu pasti bahwa mereka sadar akan dosa dan setiap hari mereka tentu menyesal dengan perbuatannya itu. Sementara dibanyak kehidupan , banyak orang tak sadar dia berbuat dosa. Bisa saja orang yang bangga akan amalannya namun pada waktu bersamaan dia sedang menggenggam dosa besar akibat sombong dengan amalannya. Entahlah. Aku lemah untuk mengatakan aku lebi baik dari pelacur karena kelemahan itulah aku bersikap halus untuk sekedar meyakinkan mereka aku tidak termasuk orang yang suka mengexploitasi mereka.

Ketika jam menunjukan dini hari , relasiku menutup Bill. Aku memberikan tip kepada Dewi. Dia menolak dengan halus. Alasannya cancel bill untuk membawa dia kehotel.  Namun aku tetap bersikeras agar dia menerima tip dua lembar 100 dollar amerika ketangannya.

“ tidak perlu om.  “ Katanya sambil mundur dan berusaha untuk menjauh dariku. Namun ketika aku keluar dari ruang KTV , Dewi tetap mengantarku sampai didepan pintu dan saat itulah aku memaksakan agar dia menerima tip dariku, Diapun menerima dan nampak airmatanya berlinang. Entah kenapa aku memberinya kartu namaku.

Sebulan setelah pertemua itu, aku mendapat email dari Dewi. Pesan yang ditulisnya dalam email itu sangat mengharukan. Betapa tidak. Menurutnya dan berdasarkan pengalaman teman temannya, mereka akan di rotasi dari tempat yang mewah sampai ketempat yang kumuh. Dia mengkawatirkan keselamatannya bila sampai di rotasi ketempat yang kumuh.  Dia hanya berharap agar aku dapat menolongnya pulang ke Indonesia.  “ Dewi ingin pulang, om. Bantu Dewi. “ Demikian diakhir kalimatnya.

Email Dewi aku forward keteman di Taipeh yang kukenal punya relasi kuat di pemerintahan. Aku tidak menjanjikan apapun kepada Dewi. Aku hanya bisa berdoa semoga teman di Taipeh bisa membantunya pulang ke Indonesia. Pada saat itu aku marah kepada pemerintah yang membiarkan izin agent duta seni menyalahkan gunakan izinnya. Seharusnya tidak sulit bagi pemerintah untuk mengetahui penyelewengan izin itu asalkan pihak kedutaan atau konsulat mau bekerja melakukan investigasi terhadap penempatan tenaga kerja. Tapi memang rakyat tak bisa berharap banyak pemerintah akan peduli kepada mereka.  Sudah nasip menjadi buruh migrant memang tak ubahnya seperti orang buangan. Terlupakan didalam negeri dan terabaikan diluar negeri.

Dua bulan setah itu, akupun mendapat telp dari seseorang mengatakan bahwa dia sahabat Dewi dan Dewi sedang sakit keras. Itulah mengapa aku datang ketempat kost Dewi dan akhirya tergerak hati untuk menolongnya. 

Tahun 2003 Desember. Aku berangkat ke tanah suci melaksanakan rukun islam ke lima. Pada  hari Jumat, aku melaksanakan sholat jumat di Masjidil Haram. Ketika itu semua tempat yang beratap penuh. Tersisanya hanya satu tempat luang didekat Ka’bah. Cuaca panas sekali. Teman yang satu rombongan haji, kebetulan juga adalah ustadz, memilih keluar dari shap. 

” Ini konyol. Kita bisa mati kepanasan disini.Bukan soal keimanan tapi ini sudah konyol. ” Kata teman itu yang segera berdiri dan berusaha mencari tempat lain yang ada atapnya. Aku mem ilih tetap ditempat. Sementara Kotbah jumat sedang berlangsung. Beberapa orang dari negara lain, tetap bertahan karena mamang mereka punya daya tahan tubuh yang kuat. Selang beberapa menit , kepala terasa pusing dan lemah sekujur tubuh. Kening berkeringat banyak. Aku tertunduk dalam keadaan duduk bersila. Serasa tubuh seperti melayang jauh keudara. Nampak seorang wanita berhijab putih tersenyum kearahku . Dia memberi air zam zam. Seketika tubuh terasa segar dan sekonyong konyong aku sudah  berada didalam istana nan indah dan sejuk. Nampak dari kejauhan pengkotbah jumat dan orang yang hadir, semua berseragam putih. 

Ketika usai sholat jumat , aku berdiri melangkah kegerbang Babusalam. Aku  terkejut ketika nampak dari jauh Dewi melambaikan tangan kearahku  dan menghilang dibalik punggung orang ramai. Teman taman satu rombongan denganku  nampak  semua bingung karena melihatku tidak berkeringat dan tetap segar.

Ketika sampai di hotel. aku teringat Dewi dan ingin mengirim email kepada dia. Tapi , didalam mail box aku sudah terdapat email dari dia. Isinya.

Aku terima email dari Om tentang rencana keberangkatan om ketanah suci. Setiap malam aku tahajud untuk memohon ampun kepada Allah. Juga aku tidak pernah berhenti berterimakasih dengan segala keikhlasan om membantuku. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk membalas kebaikan om, kecuali dalam setiap tahajud, aku berdoa untuk keselamatan om. Doa ku kepada Allah ” Tuhan dengan segala dosaku rasanya aku tidak pantas untuk meminta apapun kepadamu. Karena begitu banyak nikmat yang telah engkau berikan kepadaku. Namun, ya Allah, Seorang manusia yang engkau kirim kepadaku yang akhirnya aku dapat menemukan kembali keimananku setelah masuk dalam lembah hitam, kini dia sedang berada di rumah mu ya Allah. Bila semua adalah karena Mu, maka lindungilah seseorang itu dari segala bencana. Engkau maha tahu dan berkuasa diatas segala galanya. ...”

Telah lebih 10 tahun aku tidak pernah bertemu lagi dengan Dewi. Aku yakin Dewi akan bahagia hidupnya ketika dia menemukan kembali Allah , jalan Allah,. Karena sudah janji Allah bahwa manusia akan selamat hidupnya bila dia mendekat kepada Allah dengan sesal tak bertepi atas segala dosa dosanya. Bagiku , kisah tentang Dewi tak ubahnya cara Allah berdiallogh denganku tentang makna sabar atas segala godaan nafsu rendah  dan ikhlas berbuat. 



***
Siapapun kita bisa berbuat salah dan akhirnya terjerumus dalam kemaksiatan. Namun siapapun kita akan kembali kepada jalan Allah asalkan kita sadar akan perbuatan kita itu dilarang dan dibenci oleh Allah. Dan teruslah  berjuang untuk kembali kepada Allah maka pertolongan Allah akan sampai dengan pintu tobat seluas luasnya. Namun ada orang yang begitu bangga dengan amalannya dan tanpa disadarinya dia sombong dengan amalannya. Dosa sombong orang yang beramal banyak jauh lebih besar bencananya daripada dosa seorang pelacur yang jelas sadar perbuatannya tercela dan hina...

Hidayah...

Tahun 2004
Wajah cantik itu masih terus membayang. Tak bisa lepas dari memoriku. Berusaha ku mengalihkan ketempat lain namun seakan dia hadir bagaikan virus komputer yang membuat hang system memori otakku. Hanya ada satu ingatan adalah tubuhnya yang tinggi semampai dan kulit yang bersih ba’lilin. Senyumnya yang berhias lesung pipit yang indah. Belum lagi caranya bicara yang selalu memancarkan magnit dari matanya yang indah. Postur tubuh yang ideal melenggok dibalut gaun malam yang serasi. Duh, kenapa bayangan ini tak bisa hilang. Dia bukanlah siapa siapa. Dia hanya wanita yang kukenal yang tidak pantas kukenal. Dia hanya seorang escort Dia hanyalah produk kapitalis yang dikemas indah untuk harga yang “pantas” dibeli.

Betulkan, dia hanyalah produk. Itu kata batinku mencoba untuk menghapur memori tentang wanita itu. Tapi , lagi lagi tampil visual lain sebuah argumen. Apa yang diiginkan oleh pria ? teriak akalku. Busyet nih akal. Mana ada pria yang tak suka kecantikan. Tolong sebutkan satu saja pria didunia yang tak suka kencantikan. Sebutkan ! Teriak akalku. Hatiku hanya diam. Hatiku tak bergeming dengan pertanyaan itu. Begitu banyak pria beristri akhirnya menikahi wanita karena kecantikannya. Tak peduli itu ulama hebat, maupun pangeran,intelektual, bahkan menteripun bersedia lepas dari istrinya demi kecantikan wanita. Akalku terus mencerahkanku. Tapi hati ku tetap diam.

Disebelah kamarku wanita itu ada. Dia berbeda kamar karena permintaan hatiku. Aku menurut kata hatiku dan kini otakku meradang marah. Kepalaku dijejali oleh berbagai tesis tentang kepatutan bahwa pria pantas mendapatkan kepuasan dari wanita diluar rumah. Bayangkanlah..bayangkanlah...teriak akalku. Keindahan tubuh wanita itu dibalik gaun malamnya yang hanya tersangkut pengikat kecil. Hanya sejentik hentakan maka kamu akan melihat semua keindahan itu dan bukan itu saja, kamupun dapat memuaskan imaginasimu dengan merengkuhnya dalam kenikamatan tak tertandingi. Ketika itulah jantungku berdetak kencang. Oh, Hatiku mulai marah. Marah dengan logika akalku. Hatiku tidak membalas argumen itu tapi malah bertindak keras dengan memacu jantungku berdetak kencang. Aku menghela nafas, mencoba meredam detak jatungku. Sejenak mereda. Pikirankupun mulai jernih. Hati berkompromi.

Virus itu datang lagi. Teringat kata kata wanita itu “ Mungkin saya bukan yang terbaik untuk kamu. Tapi kasihanilah saya. Bila kamu tolak layanan saya maka boss saya akan mengeliminate saya. Saya akan kehilangan pekerjaan. Padahal untuk menjadi premium escort ini saya menghabiskan waktu 3 tahun pendidikan.Dipilih dari sekian ribu wanita terbaik. Kini, saya akan kehilangan segala galanya. Please, terimalah saya, dan saya akan buktikan.! kamu tidak akan kecewa. “ Terbayang wajah wanita itu dengan kesan memelas memohon pengertianku. Lihatlah, kata akalku lagi, apakah pantas kamu disebut sebagai pria sejati bila pada akhirnya dengan mudah kamu menghancurkan seorang wanita yang lemah. Dia sangat lemah. Dia hanya butuh hidup untuk makan. Dia tak bersuami yang bisa menjamin hidupnya kecuali professinya. Apa salahnya untuk berbuat baik kepada wanita lemah itu. Apa salahnya ?

Akupun membayangkan peperangan antara akal dan hatiku ketika kembali kehotel setelah melewati makan malam termewah bersama relasi businessku. Wanita itu berusaha dengan segala cara agar aku feel confortable bersamanya. Dia aktif menempatkan makanan yang kupilih ke piringku. Dia perhatikan dengan seksama setiap suapanku. Bila ada sedikit saja lemak menempel diujung bibirku, dia dengan sigap menghapusnya dengan sapu tangannya. Dan tak lupa diiringi dengan senyuman teridahnya. Relasiku nampak puas karena layanan yang diberikannya membuat aku senang. Senangkah aku? Justru selama makan malam itu aku sedang menghadapi pertarungan hebat antara hati dan akalku. Aku gelisah namun berusaha kututupi dengan sikap gentelman. Usai makan malam, tanpa diminta wanita itu merangkul tanganku layaknya permaisuri yang selalu siap untuku.

“ Saya akan pulang sendiri kehotel. Terimakasih untuk malam yang menyenangkan” kataku dengan detak jantung yang meninggi.

“ Mengapa ? “ Dia terkejut . Matanya menatap kearahku dengan kebingungan.

“ Cukuplah sampai disini. “ Aku mencoba tersenyum kearahnya.

Wanita itu melirik kearah relasiku. “ Please, bawalah saya dari tempat ini. Setidaknya meyakinkan relasimu bahwa saya pantas menemanimu. Please..”

Aku menghela nafas mencoba meredam gejolak hatiku antara menolak dan rasa kasihan. “ Baiklah. Kamu ikut saya..”

Wanita itu tersenyum cerah. Dia semakin merapatkan dekapan tangannya ketubuhku. Parfurmed mahal dengan aroma lembut terasa menggoda kelaki lakianku. Kendaraan dengan standard limo mengantarku dan wanita itu kehotel dimana aku menginap. Didalam kendaraan wanita itu menjatuhkan kepalanya kepundakku. Matanya terpejam. Aroma harum dari rambutnya membuat mataku nanar. ‘ Ya Allah , ditanganmulah kebaikan dan keburukan. Tetapkanlah hatiku padamu. Hindarilah aku dari perbuatan zina. “ Doa itu mengalir lembut dari relung hatiku terdalam. Akupun terkuatkan untuk berusaha menggeser tubuhku dan dia terbangun. Kembali wajahnya yang indah dengan senyumnya menatapku. Mungkin dia sadar pundaku terbebani dengan kepalanya yang rebah makanya dia kembali duduk secara normal namun tetap tidak melepaskan pagutan tangannya.

Sesampai di Hotel , kakiku berat melangkah Namun wanita itu menuntunku dengan langkah ringan masuk kedalam hotel. ‘ Jangan kau dekati zina ! Takulah kepada Allah. “ Suara itu bergema kencang, Kencang sekali. Seakan membuat akal sehatku berhenti bekerja. Kecantikan wanita itu justru menjadi moster yang menakutkan. Dengan sigap langkahku berbelok kearah desk reservation. Akupun memesan satu kamar lagi untuk wanita itu

“ Untuk apa ? “

“ Untuk kamu.”Jawabku tegas. “ Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk ikut bersamaku.Dan sekarang kamu bisa tidur dikamar sendiri.”

“ Mengapa tidak satu kamar saja “

“ My religion forbids it.”

“ Why ?

“ Very difficult to explain but please understand…” kataku

“ I don’t understand, really.. “ katanya yang nampak bingung.

“ Ok, Saya akan jelaskan kepadamu. ” kataku Kita bicara di cafe itu saja. ” sambungku menunjuk lounge executive yang terdapat didalam hotel itu. Wanita itu mengikuti.

“ Kamu cantik dan sangat cantik. Mungkin ini permata kali saya melihat wanita secantik kamu. Teman saya mengatakan bahwa premium escort punya standard yang sangat ketat untuk memilih wanitanya. Kamu dipilih dari ribuan pelamar dan ikut standard pelatihan escort terbaik selama tiga tahun. Saya tahu betul itu. Dan saya juga tahu layanan ini tidak murah. Sangat mahal. ” Kataku. Wanita itu memperhatikan setiap kata kataku dengan seksama dan tetap tersenyum.

” Memang saya tidak bisa menolak hadiah relasi saya. Ini juga standard business yang sulit saya hindari ketika saya masuk dalam dunia business. Makanya kita sampai disini” Wanita itu menyentuh jariku seakan memaklumi kata kataku.

” So...” Selanya

” Menerima hadiah adalah satu hal dan menggunakan hadiah itu ,lain hal. Saya hormati relasi saya dan tentu saya juga harus menghormati prinsip hidup saya. ”

” Apa prinsip hidup kamu ”

” Saya tidak punya prinsip hidup sendiri kecuali apa yang diajarkan oleh agama saya. Termasuk untuk menolak layanan escort kamu. ” Kataku tegas.

” Jelaskan kepada saya soal princip itu ”?

” Sex adalah hubungan yang sangat sakral. Ini berhubungan dengan jiwa dan ruh. Fisik hanyalah mediasi , sebuah syariat tapi hakikatnya adalah bersatunya jiwa dan ruh antara pasangan, wanita dan pria. Terjalinnya penyatuan ruh dan jiwa ini tidak bisa hanya dengan terjadinya suatu deal, seperti layaknya sebuah transaksi jual beli. Tapi harus melalui keyakinan tentang hakikat ruh dan jiwa. ”

” Apa keyakinan itu ”

” Sincerely..” Jawabku tegas.

” saya tidak mengerti. ”

” keyakinan bukan karena wanita cantik, pria gagah dan kaya. Bukan karena apapun tapi soal keyakinan yang dipersatukan oleh agama dan diridhoi oleh Allah. ”

” How ”

Saya terdiam. Barulah saya sadar dihadapan saya bukanlah wanita biasa. Ini wanita terdidik dengan high class. Dia mendengar dan paham untuk sampai kepada pokok persoalan”

” How..bila kamu menyerahkan dirimu kepada pria bukan karena uang atau harta , Dan pria mengemban tanggung jawab wanita bukan karena kecantikan. Titik. ”

” Well, sincerely...”

” Yupp ” Kataku tegas sambil menatap matanya. Dia tertunduk dan nampak airmatanya berlinang.

***
Saya melangkah kekamar mandi dan berwudhu. Seusai wudhu, bayangan wanita itu langsung menghilang. Virus diotakku menghilang seketika. Tak lagi hang. Seusai sholat, tak berapa lama , mataku terpejam. Aku bermimpi seakan akan berdialogh dengan diriku sendiri’ Jihad yang tak ada habisnya adalah melawan nafsumu. Dengarlah kata hatimu untuk mengendalikan akalmu agar nafsumu dapat memberikan manfaat sebaik baiknya bagimu untuk bersyariat dengan benar.

Paginya aku kembali bertemu dengan wanita itu. Matanya nampak merah ” Saya tidak bisa tidur samalaman. Saya terus teringat kata kata kamu. Sincerely..." kata wanita itu sambil berlinang airmata. " BIsahkan kita terus bersahabat setelah ini..." Sambungnya.

" Tentu. tentu. Kamu akan jadi sahabatku. " kataku sambil memberikan kartu namaku " Ini kartu namaku dan kamu bisa kirim email atau telp bila perlu sesuatu. "

***

2005
Itulah yang dapat kupahami tentang wanita itu, yang kukenal namanya Xiau Lien. Seperti halnya kedatangan ke Beijing di musim dingin. Suasana kota diliputi oleh kabut dengan tempratur nol derajat celcius. Dengan ditemanin oleh team kerja , aku melangkah keluar corridor Marriot Hotel Beijing. Mungkin bagi mereka cuaca dingin ini tidak begitu masalah karena dinegeri mereka ini sudah biasa . Namun tidak bagi saya yang tinggal di Indonesia yang selalu dimanjakan Tuhan dengan tempratur yang bersahabat. Van VW standard limo sudah menanti tepat didepan loby hotel. Langkahku terhenti ketika melihat didepan gerbang hotel berdiri seorang wanita dengan jaket musim dingin. Dia tersenyum. Akupun membalas senyumnya. Dia melambaikan tangannya kearahku. Senyumnya segera mengingatkan ku tentang seseorang, aku segera mendekati wanita itu.

“Lien..are you Xiau Lien” seruku. Dia membalas ragu namun tetap dengan senyumnya. Cepat kugenggam tangannya. Dia memeluk hangat tubuhku.

“ Aku baru terima emailnya kemarin. Terimakasih kamu sudi memberitahu kedatanganmu” Katanya dan kemudian mundur. Baru kusadari bahwa Xiau Lien yang dulu kukenal tidak sama seperti yang sekarang. Penampilannya nampak kumuh.

“ Dari dua jam lalu aku menunggumu keluar dari Hotel ini. “ katanya. Dan aku dapat membayangkan betapa menderitanya dia menahan dingin diluar hanya karena ingin bertemu denganku.

“ Mengapa tidak masuk kedalam ? kamu bisa telp aku ..mengapa ? “

“ Aku malu. Malu dengan keadaanku. Aku tidak mau kamu dipermalukan dihadapan teman temanmu hanya karena menerima aku dalam kondisi seperti ini “ Katanya sambil menunduk.

“ Aku tidak peduli orang ngomong apa. Kamu sahabatku. Itu tidak akan pernah berubah” jawabku sambil memegang bahunya. “ Xiau Lien, lihat aku.! . Dia menatapku sekilas dan kemudian mamalingkan wajahnya kesamping “ aku masih seperti yang dulu kamu kenal.. Bahkan kamu sekarang lebih cantik dan anggun dibanding yang dulu.” Sambungku sambil tersenyum

“ Aku tahu hatimu mulia sekali. Aku sudah senang bertemu dengan kamu dan pergilah. Teman kamu sudah menunggu dimobil. Nanti lain waktu kita bertemu kembali” katanya dan melangkah kearah tempat sepedanya dipagut. Ku coba untuk menghalanginya pergi tapi dia sudah diatas sepedanya.Dia melaju dengan sepedanya ditengah kabut dingin Beijing.

“ Pak , Apakah anda membutuhkan wanita untuk menemanin anda “ Tegur supir yang suaranya membuyarkan lamunanku. “ Wanita tadi setahun yang lalu dia bekerja di Hotel kami sebagai cleaning service tapi sekarang tidak tau dimana dia bekerja. Tapi dia memang cantik” Sambung supir itu sambil menatapku melalui kaca spion.."Mengapa dia berhenti bekerja "

" Dia cantik dan banyak tamu yang ingin membelinya tapi dia tidak pernah melayaninya. Sampai akhirnya ada tamu yang merasa tersinggung karena ditolaknya dan meminta manager kami untuk memberhentikannya. " Saya hanya terdiam…. XiauLien

***

Tahun 2006

Di awal musim semi. Bunga mulai mukar dan tamanpun mulai menampakan keindahannya. Begitu yang aku lihat di Shenzhen dan Hong Kong. Sebetulnya aku lebih ingin cepat kembali ke Jakarta sebelum tahun baru china karena tidak ada yang dapat dikerjakan di China karena semua kegiatan business praktis berhenti. Mereka libur selama 10 hari. Sama seperti hari raya muslim di Indonesia. Namun karena ada urusan mendesak yang memaksa aku untuk datang ke GuangZhou. Rencana hari jumat sore selesai meeting , aku akan langsung kembali kejakarta. Tapi karena jadwal pesawat yang begitu padat, aku terpaksa harus ikhlas menunda kepulangan kejakarta pada hari minggu sore dari Hong Kong. Maka jadilah aku tahun baru di china. Aku memilih untuk tinggal di Shenzhen karena lebih dekat ke Hong Kong.

Ketika check in hotel, telpon cellular aku bergetar. “ My brother !” terdengar suara diseberang “ Its me , Xiau Lien” maka akupun segera teringat nama seorang sahabat yang di Beijing.

“ Ya. How are you, my dear “ Kataku

“ I am fine. I miss you.” Suaranya terdengar meninggi tanda keceriaan“ Where are you now ? sambungnya.

“ In Shenzhen. “
“ Oh thanks god. Can I see you ? " Aku agak terkejut karena setahu aku dia di Beijing.

“ Me in Guangzhou.” Sambungnya lagi. Akupun segera menjawab “ Tentu. “ Kemudian dia memberikan alamat lengkap dimana dia tinggal. Aku memutuskan untuk menemuinya.

PErtemuan dua tahun lalu terasa membayang dihadapanku. Karena perkenalan denganku telah menyadarkannya untuk keluar dari professinya sebagai lady Escort. Namun setelah itu dia harus menghadapi cobaan yang terlalu berat sebagai konsekwensi pilihan hidupnya. Walau kami jarang bertemu namun komunikasi via email tetap terjalin. Dia berusaha mengatahui banyak hal tentang makna kehidupan dan aku berusaha mencoba menjawab semua pertanyaannya dalam bahasa yang mudah dimengerti dan bersifat universal.

Ketika sampai di Apartmentnya, betapa terkejutnya aku ketika melihatnya. Dia sudah berhijab dengan pakai gamis yang sangat anggun. Dengan senyum indahnya , dia menjemput kedatanganku didepan apartmentnya. Tidak ada pelukan namun senyum dan pancaran matanya sudah cukup bagiku bahwa dia sangat mengharapkan kedatanganku.

“ Kebetulan hari ini aku tidak ada kerjaan. Besok harus segera ke Hong Kong dan terus kejakarta.”

" Tentu kamu lelah sekali. Maaf sudah merepotkan.” Katanya dengan tersenyum “ Aku ingin mengajak kamu dalam suatu pertemuan “ Lanjutnya.

“ Pertemuan apa ? “ Aku agak terkejut karena dia tidak menceritakan dari awal. Namun dia tidak menjawab melainkan terus melangkah kedepan dan meminta aku mengikutinya.Di lantai dua apartement itu terdapat aula besar. Dilorong apartement itu aku sudah melihat ada sesuatu yang aneh. Karena banyak orang yang berjalan beriringan dengan kami. Mereka semua berpakaian muslim. Ketika didalam ruangan kami berpisah karena pria dan wanita tidak dicampur tempatnya. Ada hijab yang memisahkan antara pria dan wanita. Maka tahulah aku bahwa ini adalah acara pengajian yang dipimpin oleh seorang ustadz. Belum hilang keterkejutan aku xaiu lien tampil didepan membacakan kalam illahi sebagai pembukaan pengajian. Suaranya sangat merdu dengan lantunan yang memukau. Semua dengan khidmat mengikuti pengajian itu. Walaupu aku tidak tahu banyak isi pengajian itu karena menggunakan bahasa mandarin namun aku yakin bahwa mereka yang datang ketempat ini memang membutuhkan siraman rohani.

Ketika usai acara itu, mereka saling berpelukan sebagai ujud persaudaraa muslim. Xiau Lien menghampiri aku dengan tersenyum

“ Luar biasa. “ hanya itu yang dapat aku katakan.

“ Semua ini berkat kamu. Kamulah yang telah membawa aku dalam keislaman. “ Aku terkejut. Padahal aku tidak pernah mengajak dia untuk masuk dalam agama yang aku yakini. Kecuali memintanya agar keluar dari lubang maksiat agar dia tidak hidup dalam kebodohan.

" Ketika awal kita berjumpa aku sempat berpikir bahwa ternyata ada sesuatu yang hilang dalam diri aku. Kamu membukakan hati aku tentang cara yang benar bersikap. Karena kamulah satu satunya pria yang aku temui dapat menolak layanan escortku. Bagaimana mungkin aku yang didalam genggamanmu dapat kamu abaikan. Hanya karena nilai nilai agama yang kamu yakini. Padahal kamu memiliki segala galanya untuk membeli apa saja yang kamu mau. Dari email kamu , aku mencoba mencari tahu. Bagaimana pria yang aku kenal ini dapat begitu mudah menjawab semua pertanyaan tersulit yang tidak pernah aku dapatkan jawaban sebelumnya. Barulah aku tahu bahwa agamamu lah yang menuntunmu dalam bersikap."

“ Lantas bagaimana kamu mengenal islam dan akhirnya menjadi muslimah “ tanya aku,masih dalam keterkejutan karena senang.

" Melalui sahabat yang juga sudah menjadi muslimah. Dia membawa aku ke ustadz di Guangzhou. Ya disini. Ternyata benarlah apa yang kamu katakan. Bahwa persaudaraan dalam islam itu indah sekali. Mereka tidak pernah bertanya tentang masa lalu aku. Mereka menerima aku dengan suka cita. “ katanya dengan tesenyum.

" bagaimana dengan pekerjaan mu “ Aku berharap dapat membantunya untuk meringankan bebannya.

" Mereka pula yang memberikan jalan bagi ku untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan kelebihan yang allah berikan kepada ku. Melalui travel world yang ada di internet mereka mendaftarkan nama ku sebagai translator dan sekaligus sebagai guide professional. Alhamdulillah, sekarang sudah cukup sibuk aku terutama melayani pebisnis dari saudara muslim kita dari Arab, banngladesh, Pakistan yang berkunjung ke China ini. Alhamdulillah. “ Memang Xiau Lien menguasai bahasa ingeris sangat sempurna. Ini didapatnya ketika dulu sebagai lady escort. Kemampuan berkomunikasi dan bergaul dengan pebisnis kalangan atas adalah sangat membantunya menjalani professi sebagai guide dan translator.

" ALhamdulillah “Kataku senang

" Benarlah apa yang kamu bilang bahwa hidup adalah pilihan. Allah memberikan kita banyak pilihan dan tentu setiap pilihan itu bukanlah hal yang mudah. Namun bila allah cinta kita maka tidak ada didunia ini yang sulit. “ Katanya yang membuat aku menjadi kecil dihadapannya. Seorang mualaf dapat bersikap dengan benar dan telah membuktikan dirinya mampu melewati process dengan sabar sebagai ujud keyakinannya tentang Islam. Bagaimana dengan kita yang islam sejak lahir namun masih saja berhitung untuk bersikap istiqamah.

“ Terimakasih , ya bang. “ katanya dengan tertunduk.

Xiau Lien mengantarku sampai ke Stasiun. Jalanan penuh dengan suara petasan. Orang orang turun kejalan untuk menantikan detik detik Lunar New Year.

“ Bang, tahukah kamu bahwa aku sangat bahagia sekali hari ini. Dapat bersama mu menanti pergantian tahun. Semoga kebahagiaan bagi semua orang yang hidup dalam tali kasih sayang. “ katanya. Kutatap sekilas dari samping wajahnya. Nampak Xiau Lien yang lebih bercahaya dalam lindungan allah. Tidak ada make up diwajahnya. Suaranya tidak lagi terkesan genit atau manja. Dia telah menjadi sosok wanita yang muslimah yang tangguh menerima takdirnya ditengah satu milliar lebih penduduk negeri ini.

" Setiap hari aku larut dalam tangis ketika sholat. Semua tentang dosa masa laluku terbayang. Aku takut kembali kepada Allah bila mengingat dosa dosaku. “ katanya tertunduk.

" Allah sangat mencintai makhluk ciptaannya. Allah tidak akan menzolimi makhluk ketika dia menciptakannya. Karenanya selagi hayat dikandung badan, Allah senantiasa menanti kehadiran kita untuk bertobat. Berharap agar kelak bila kitakembali kepadanya dalam keadaan bersih. “ Kutatap dia nampak tersenyum

“ ya itulah yang kutahu dari Ustadz” Jawabnya.

Ketika sedang menanti kereta, dia duduk disampingku. Dari jauh nampak seorang pria yang tadi kami temui dalam pengajian datang menghampiri kami. “ Assalamualaikum “ kata pria itu sambil menyalamiku. Xiau Lien tersenyum sambil melirikku. “ Bang, kenalkan ini temanku. Dialah yang mengajariku tentang islam dan membawaku kedalam lingkaran pengajian. “ Kata Xiau Lien. Pria itu tersenyum. Tak banyak yang dapat kukatakan karena pria ini memang tidak bisa berbahasa inggeris. Sebelum naik kereta aku berbisik kepaa xiau Lien “ Pria itu kelihatannya sangat mencintaimu. Aku yakin dia pria yang baik untuk mu. Jaga dirimu baik baik. Aku akan berdoa semoga kebahagiaanmu akan lengkap bersama pria yang dapat melindungimu menuju sorga. “ Xiau Lien tersenyum memerah wajahnya. “ Thanks so much , my dear brother. “ katanya sambil melambaikan tangan.