Tahun 2004
Wajah cantik itu masih terus membayang. Tak bisa lepas dari memoriku. Berusaha ku mengalihkan ketempat lain namun seakan dia hadir bagaikan virus komputer yang membuat hang system memori otakku. Hanya ada satu ingatan adalah tubuhnya yang tinggi semampai dan kulit yang bersih ba’lilin. Senyumnya yang berhias lesung pipit yang indah. Belum lagi caranya bicara yang selalu memancarkan magnit dari matanya yang indah. Postur tubuh yang ideal melenggok dibalut gaun malam yang serasi. Duh, kenapa bayangan ini tak bisa hilang. Dia bukanlah siapa siapa. Dia hanya wanita yang kukenal yang tidak pantas kukenal. Dia hanya seorang escort Dia hanyalah produk kapitalis yang dikemas indah untuk harga yang “pantas” dibeli.
Betulkan, dia hanyalah produk. Itu kata batinku mencoba untuk menghapur memori tentang wanita itu. Tapi , lagi lagi tampil visual lain sebuah argumen. Apa yang diiginkan oleh pria ? teriak akalku. Busyet nih akal. Mana ada pria yang tak suka kecantikan. Tolong sebutkan satu saja pria didunia yang tak suka kencantikan. Sebutkan ! Teriak akalku. Hatiku hanya diam. Hatiku tak bergeming dengan pertanyaan itu. Begitu banyak pria beristri akhirnya menikahi wanita karena kecantikannya. Tak peduli itu ulama hebat, maupun pangeran,intelektual, bahkan menteripun bersedia lepas dari istrinya demi kecantikan wanita. Akalku terus mencerahkanku. Tapi hati ku tetap diam.
Disebelah kamarku wanita itu ada. Dia berbeda kamar karena permintaan hatiku. Aku menurut kata hatiku dan kini otakku meradang marah. Kepalaku dijejali oleh berbagai tesis tentang kepatutan bahwa pria pantas mendapatkan kepuasan dari wanita diluar rumah. Bayangkanlah..bayangkanlah...teriak akalku. Keindahan tubuh wanita itu dibalik gaun malamnya yang hanya tersangkut pengikat kecil. Hanya sejentik hentakan maka kamu akan melihat semua keindahan itu dan bukan itu saja, kamupun dapat memuaskan imaginasimu dengan merengkuhnya dalam kenikamatan tak tertandingi. Ketika itulah jantungku berdetak kencang. Oh, Hatiku mulai marah. Marah dengan logika akalku. Hatiku tidak membalas argumen itu tapi malah bertindak keras dengan memacu jantungku berdetak kencang. Aku menghela nafas, mencoba meredam detak jatungku. Sejenak mereda. Pikirankupun mulai jernih. Hati berkompromi.
Virus itu datang lagi. Teringat kata kata wanita itu “ Mungkin saya bukan yang terbaik untuk kamu. Tapi kasihanilah saya. Bila kamu tolak layanan saya maka boss saya akan mengeliminate saya. Saya akan kehilangan pekerjaan. Padahal untuk menjadi premium escort ini saya menghabiskan waktu 3 tahun pendidikan.Dipilih dari sekian ribu wanita terbaik. Kini, saya akan kehilangan segala galanya. Please, terimalah saya, dan saya akan buktikan.! kamu tidak akan kecewa. “ Terbayang wajah wanita itu dengan kesan memelas memohon pengertianku. Lihatlah, kata akalku lagi, apakah pantas kamu disebut sebagai pria sejati bila pada akhirnya dengan mudah kamu menghancurkan seorang wanita yang lemah. Dia sangat lemah. Dia hanya butuh hidup untuk makan. Dia tak bersuami yang bisa menjamin hidupnya kecuali professinya. Apa salahnya untuk berbuat baik kepada wanita lemah itu. Apa salahnya ?
Akupun membayangkan peperangan antara akal dan hatiku ketika kembali kehotel setelah melewati makan malam termewah bersama relasi businessku. Wanita itu berusaha dengan segala cara agar aku feel confortable bersamanya. Dia aktif menempatkan makanan yang kupilih ke piringku. Dia perhatikan dengan seksama setiap suapanku. Bila ada sedikit saja lemak menempel diujung bibirku, dia dengan sigap menghapusnya dengan sapu tangannya. Dan tak lupa diiringi dengan senyuman teridahnya. Relasiku nampak puas karena layanan yang diberikannya membuat aku senang. Senangkah aku? Justru selama makan malam itu aku sedang menghadapi pertarungan hebat antara hati dan akalku. Aku gelisah namun berusaha kututupi dengan sikap gentelman. Usai makan malam, tanpa diminta wanita itu merangkul tanganku layaknya permaisuri yang selalu siap untuku.
“ Saya akan pulang sendiri kehotel. Terimakasih untuk malam yang menyenangkan” kataku dengan detak jantung yang meninggi.
“ Mengapa ? “ Dia terkejut . Matanya menatap kearahku dengan kebingungan.
“ Cukuplah sampai disini. “ Aku mencoba tersenyum kearahnya.
Wanita itu melirik kearah relasiku. “ Please, bawalah saya dari tempat ini. Setidaknya meyakinkan relasimu bahwa saya pantas menemanimu. Please..”
Aku menghela nafas mencoba meredam gejolak hatiku antara menolak dan rasa kasihan. “ Baiklah. Kamu ikut saya..”
Wanita itu tersenyum cerah. Dia semakin merapatkan dekapan tangannya ketubuhku. Parfurmed mahal dengan aroma lembut terasa menggoda kelaki lakianku. Kendaraan dengan standard limo mengantarku dan wanita itu kehotel dimana aku menginap. Didalam kendaraan wanita itu menjatuhkan kepalanya kepundakku. Matanya terpejam. Aroma harum dari rambutnya membuat mataku nanar. ‘ Ya Allah , ditanganmulah kebaikan dan keburukan. Tetapkanlah hatiku padamu. Hindarilah aku dari perbuatan zina. “ Doa itu mengalir lembut dari relung hatiku terdalam. Akupun terkuatkan untuk berusaha menggeser tubuhku dan dia terbangun. Kembali wajahnya yang indah dengan senyumnya menatapku. Mungkin dia sadar pundaku terbebani dengan kepalanya yang rebah makanya dia kembali duduk secara normal namun tetap tidak melepaskan pagutan tangannya.
Sesampai di Hotel , kakiku berat melangkah Namun wanita itu menuntunku dengan langkah ringan masuk kedalam hotel. ‘ Jangan kau dekati zina ! Takulah kepada Allah. “ Suara itu bergema kencang, Kencang sekali. Seakan membuat akal sehatku berhenti bekerja. Kecantikan wanita itu justru menjadi moster yang menakutkan. Dengan sigap langkahku berbelok kearah desk reservation. Akupun memesan satu kamar lagi untuk wanita itu
“ Untuk apa ? “
“ Untuk kamu.”Jawabku tegas. “ Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk ikut bersamaku.Dan sekarang kamu bisa tidur dikamar sendiri.”
“ Mengapa tidak satu kamar saja “
“ My religion forbids it.”
“ Why ?
“ Very difficult to explain but please understand…” kataku
“ I don’t understand, really.. “ katanya yang nampak bingung.
“ Ok, Saya akan jelaskan kepadamu. ” kataku Kita bicara di cafe itu saja. ” sambungku menunjuk lounge executive yang terdapat didalam hotel itu. Wanita itu mengikuti.
“ Kamu cantik dan sangat cantik. Mungkin ini permata kali saya melihat wanita secantik kamu. Teman saya mengatakan bahwa premium escort punya standard yang sangat ketat untuk memilih wanitanya. Kamu dipilih dari ribuan pelamar dan ikut standard pelatihan escort terbaik selama tiga tahun. Saya tahu betul itu. Dan saya juga tahu layanan ini tidak murah. Sangat mahal. ” Kataku. Wanita itu memperhatikan setiap kata kataku dengan seksama dan tetap tersenyum.
” Memang saya tidak bisa menolak hadiah relasi saya. Ini juga standard business yang sulit saya hindari ketika saya masuk dalam dunia business. Makanya kita sampai disini” Wanita itu menyentuh jariku seakan memaklumi kata kataku.
” So...” Selanya
” Menerima hadiah adalah satu hal dan menggunakan hadiah itu ,lain hal. Saya hormati relasi saya dan tentu saya juga harus menghormati prinsip hidup saya. ”
” Apa prinsip hidup kamu ”
” Saya tidak punya prinsip hidup sendiri kecuali apa yang diajarkan oleh agama saya. Termasuk untuk menolak layanan escort kamu. ” Kataku tegas.
” Jelaskan kepada saya soal princip itu ”?
” Sex adalah hubungan yang sangat sakral. Ini berhubungan dengan jiwa dan ruh. Fisik hanyalah mediasi , sebuah syariat tapi hakikatnya adalah bersatunya jiwa dan ruh antara pasangan, wanita dan pria. Terjalinnya penyatuan ruh dan jiwa ini tidak bisa hanya dengan terjadinya suatu deal, seperti layaknya sebuah transaksi jual beli. Tapi harus melalui keyakinan tentang hakikat ruh dan jiwa. ”
” Apa keyakinan itu ”
” Sincerely..” Jawabku tegas.
” saya tidak mengerti. ”
” keyakinan bukan karena wanita cantik, pria gagah dan kaya. Bukan karena apapun tapi soal keyakinan yang dipersatukan oleh agama dan diridhoi oleh Allah. ”
” How ”
Saya terdiam. Barulah saya sadar dihadapan saya bukanlah wanita biasa. Ini wanita terdidik dengan high class. Dia mendengar dan paham untuk sampai kepada pokok persoalan”
” How..bila kamu menyerahkan dirimu kepada pria bukan karena uang atau harta , Dan pria mengemban tanggung jawab wanita bukan karena kecantikan. Titik. ”
” Well, sincerely...”
” Yupp ” Kataku tegas sambil menatap matanya. Dia tertunduk dan nampak airmatanya berlinang.
***
Saya melangkah kekamar mandi dan berwudhu. Seusai wudhu, bayangan wanita itu langsung menghilang. Virus diotakku menghilang seketika. Tak lagi hang. Seusai sholat, tak berapa lama , mataku terpejam. Aku bermimpi seakan akan berdialogh dengan diriku sendiri’ Jihad yang tak ada habisnya adalah melawan nafsumu. Dengarlah kata hatimu untuk mengendalikan akalmu agar nafsumu dapat memberikan manfaat sebaik baiknya bagimu untuk bersyariat dengan benar.
Paginya aku kembali bertemu dengan wanita itu. Matanya nampak merah ” Saya tidak bisa tidur samalaman. Saya terus teringat kata kata kamu. Sincerely..." kata wanita itu sambil berlinang airmata. " BIsahkan kita terus bersahabat setelah ini..." Sambungnya.
" Tentu. tentu. Kamu akan jadi sahabatku. " kataku sambil memberikan kartu namaku " Ini kartu namaku dan kamu bisa kirim email atau telp bila perlu sesuatu. "
***
2005
Itulah yang dapat kupahami tentang wanita itu, yang kukenal namanya Xiau Lien. Seperti halnya kedatangan ke Beijing di musim dingin. Suasana kota diliputi oleh kabut dengan tempratur nol derajat celcius. Dengan ditemanin oleh team kerja , aku melangkah keluar corridor Marriot Hotel Beijing. Mungkin bagi mereka cuaca dingin ini tidak begitu masalah karena dinegeri mereka ini sudah biasa . Namun tidak bagi saya yang tinggal di Indonesia yang selalu dimanjakan Tuhan dengan tempratur yang bersahabat. Van VW standard limo sudah menanti tepat didepan loby hotel. Langkahku terhenti ketika melihat didepan gerbang hotel berdiri seorang wanita dengan jaket musim dingin. Dia tersenyum. Akupun membalas senyumnya. Dia melambaikan tangannya kearahku. Senyumnya segera mengingatkan ku tentang seseorang, aku segera mendekati wanita itu.
“Lien..are you Xiau Lien” seruku. Dia membalas ragu namun tetap dengan senyumnya. Cepat kugenggam tangannya. Dia memeluk hangat tubuhku.
“ Aku baru terima emailnya kemarin. Terimakasih kamu sudi memberitahu kedatanganmu” Katanya dan kemudian mundur. Baru kusadari bahwa Xiau Lien yang dulu kukenal tidak sama seperti yang sekarang. Penampilannya nampak kumuh.
“ Dari dua jam lalu aku menunggumu keluar dari Hotel ini. “ katanya. Dan aku dapat membayangkan betapa menderitanya dia menahan dingin diluar hanya karena ingin bertemu denganku.
“ Mengapa tidak masuk kedalam ? kamu bisa telp aku ..mengapa ? “
“ Aku malu. Malu dengan keadaanku. Aku tidak mau kamu dipermalukan dihadapan teman temanmu hanya karena menerima aku dalam kondisi seperti ini “ Katanya sambil menunduk.
“ Aku tidak peduli orang ngomong apa. Kamu sahabatku. Itu tidak akan pernah berubah” jawabku sambil memegang bahunya. “ Xiau Lien, lihat aku.! . Dia menatapku sekilas dan kemudian mamalingkan wajahnya kesamping “ aku masih seperti yang dulu kamu kenal.. Bahkan kamu sekarang lebih cantik dan anggun dibanding yang dulu.” Sambungku sambil tersenyum
“ Aku tahu hatimu mulia sekali. Aku sudah senang bertemu dengan kamu dan pergilah. Teman kamu sudah menunggu dimobil. Nanti lain waktu kita bertemu kembali” katanya dan melangkah kearah tempat sepedanya dipagut. Ku coba untuk menghalanginya pergi tapi dia sudah diatas sepedanya.Dia melaju dengan sepedanya ditengah kabut dingin Beijing.
“ Pak , Apakah anda membutuhkan wanita untuk menemanin anda “ Tegur supir yang suaranya membuyarkan lamunanku. “ Wanita tadi setahun yang lalu dia bekerja di Hotel kami sebagai cleaning service tapi sekarang tidak tau dimana dia bekerja. Tapi dia memang cantik” Sambung supir itu sambil menatapku melalui kaca spion.."Mengapa dia berhenti bekerja "
" Dia cantik dan banyak tamu yang ingin membelinya tapi dia tidak pernah melayaninya. Sampai akhirnya ada tamu yang merasa tersinggung karena ditolaknya dan meminta manager kami untuk memberhentikannya. " Saya hanya terdiam…. XiauLien
***
Tahun 2006
Di awal musim semi. Bunga mulai mukar dan tamanpun mulai menampakan keindahannya. Begitu yang aku lihat di Shenzhen dan Hong Kong. Sebetulnya aku lebih ingin cepat kembali ke Jakarta sebelum tahun baru china karena tidak ada yang dapat dikerjakan di China karena semua kegiatan business praktis berhenti. Mereka libur selama 10 hari. Sama seperti hari raya muslim di Indonesia. Namun karena ada urusan mendesak yang memaksa aku untuk datang ke GuangZhou. Rencana hari jumat sore selesai meeting , aku akan langsung kembali kejakarta. Tapi karena jadwal pesawat yang begitu padat, aku terpaksa harus ikhlas menunda kepulangan kejakarta pada hari minggu sore dari Hong Kong. Maka jadilah aku tahun baru di china. Aku memilih untuk tinggal di Shenzhen karena lebih dekat ke Hong Kong.
Ketika check in hotel, telpon cellular aku bergetar. “ My brother !” terdengar suara diseberang “ Its me , Xiau Lien” maka akupun segera teringat nama seorang sahabat yang di Beijing.
“ Ya. How are you, my dear “ Kataku
“ I am fine. I miss you.” Suaranya terdengar meninggi tanda keceriaan“ Where are you now ? sambungnya.
“ In Shenzhen. “
“ Oh thanks god. Can I see you ? " Aku agak terkejut karena setahu aku dia di Beijing.
“ Me in Guangzhou.” Sambungnya lagi. Akupun segera menjawab “ Tentu. “ Kemudian dia memberikan alamat lengkap dimana dia tinggal. Aku memutuskan untuk menemuinya.
PErtemuan dua tahun lalu terasa membayang dihadapanku. Karena perkenalan denganku telah menyadarkannya untuk keluar dari professinya sebagai lady Escort. Namun setelah itu dia harus menghadapi cobaan yang terlalu berat sebagai konsekwensi pilihan hidupnya. Walau kami jarang bertemu namun komunikasi via email tetap terjalin. Dia berusaha mengatahui banyak hal tentang makna kehidupan dan aku berusaha mencoba menjawab semua pertanyaannya dalam bahasa yang mudah dimengerti dan bersifat universal.
Ketika sampai di Apartmentnya, betapa terkejutnya aku ketika melihatnya. Dia sudah berhijab dengan pakai gamis yang sangat anggun. Dengan senyum indahnya , dia menjemput kedatanganku didepan apartmentnya. Tidak ada pelukan namun senyum dan pancaran matanya sudah cukup bagiku bahwa dia sangat mengharapkan kedatanganku.
“ Kebetulan hari ini aku tidak ada kerjaan. Besok harus segera ke Hong Kong dan terus kejakarta.”
" Tentu kamu lelah sekali. Maaf sudah merepotkan.” Katanya dengan tersenyum “ Aku ingin mengajak kamu dalam suatu pertemuan “ Lanjutnya.
“ Pertemuan apa ? “ Aku agak terkejut karena dia tidak menceritakan dari awal. Namun dia tidak menjawab melainkan terus melangkah kedepan dan meminta aku mengikutinya.Di lantai dua apartement itu terdapat aula besar. Dilorong apartement itu aku sudah melihat ada sesuatu yang aneh. Karena banyak orang yang berjalan beriringan dengan kami. Mereka semua berpakaian muslim. Ketika didalam ruangan kami berpisah karena pria dan wanita tidak dicampur tempatnya. Ada hijab yang memisahkan antara pria dan wanita. Maka tahulah aku bahwa ini adalah acara pengajian yang dipimpin oleh seorang ustadz. Belum hilang keterkejutan aku xaiu lien tampil didepan membacakan kalam illahi sebagai pembukaan pengajian. Suaranya sangat merdu dengan lantunan yang memukau. Semua dengan khidmat mengikuti pengajian itu. Walaupu aku tidak tahu banyak isi pengajian itu karena menggunakan bahasa mandarin namun aku yakin bahwa mereka yang datang ketempat ini memang membutuhkan siraman rohani.
Ketika usai acara itu, mereka saling berpelukan sebagai ujud persaudaraa muslim. Xiau Lien menghampiri aku dengan tersenyum
“ Luar biasa. “ hanya itu yang dapat aku katakan.
“ Semua ini berkat kamu. Kamulah yang telah membawa aku dalam keislaman. “ Aku terkejut. Padahal aku tidak pernah mengajak dia untuk masuk dalam agama yang aku yakini. Kecuali memintanya agar keluar dari lubang maksiat agar dia tidak hidup dalam kebodohan.
" Ketika awal kita berjumpa aku sempat berpikir bahwa ternyata ada sesuatu yang hilang dalam diri aku. Kamu membukakan hati aku tentang cara yang benar bersikap. Karena kamulah satu satunya pria yang aku temui dapat menolak layanan escortku. Bagaimana mungkin aku yang didalam genggamanmu dapat kamu abaikan. Hanya karena nilai nilai agama yang kamu yakini. Padahal kamu memiliki segala galanya untuk membeli apa saja yang kamu mau. Dari email kamu , aku mencoba mencari tahu. Bagaimana pria yang aku kenal ini dapat begitu mudah menjawab semua pertanyaan tersulit yang tidak pernah aku dapatkan jawaban sebelumnya. Barulah aku tahu bahwa agamamu lah yang menuntunmu dalam bersikap."
“ Lantas bagaimana kamu mengenal islam dan akhirnya menjadi muslimah “ tanya aku,masih dalam keterkejutan karena senang.
" Melalui sahabat yang juga sudah menjadi muslimah. Dia membawa aku ke ustadz di Guangzhou. Ya disini. Ternyata benarlah apa yang kamu katakan. Bahwa persaudaraan dalam islam itu indah sekali. Mereka tidak pernah bertanya tentang masa lalu aku. Mereka menerima aku dengan suka cita. “ katanya dengan tesenyum.
" bagaimana dengan pekerjaan mu “ Aku berharap dapat membantunya untuk meringankan bebannya.
" Mereka pula yang memberikan jalan bagi ku untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan kelebihan yang allah berikan kepada ku. Melalui travel world yang ada di internet mereka mendaftarkan nama ku sebagai translator dan sekaligus sebagai guide professional. Alhamdulillah, sekarang sudah cukup sibuk aku terutama melayani pebisnis dari saudara muslim kita dari Arab, banngladesh, Pakistan yang berkunjung ke China ini. Alhamdulillah. “ Memang Xiau Lien menguasai bahasa ingeris sangat sempurna. Ini didapatnya ketika dulu sebagai lady escort. Kemampuan berkomunikasi dan bergaul dengan pebisnis kalangan atas adalah sangat membantunya menjalani professi sebagai guide dan translator.
" ALhamdulillah “Kataku senang
" Benarlah apa yang kamu bilang bahwa hidup adalah pilihan. Allah memberikan kita banyak pilihan dan tentu setiap pilihan itu bukanlah hal yang mudah. Namun bila allah cinta kita maka tidak ada didunia ini yang sulit. “ Katanya yang membuat aku menjadi kecil dihadapannya. Seorang mualaf dapat bersikap dengan benar dan telah membuktikan dirinya mampu melewati process dengan sabar sebagai ujud keyakinannya tentang Islam. Bagaimana dengan kita yang islam sejak lahir namun masih saja berhitung untuk bersikap istiqamah.
“ Terimakasih , ya bang. “ katanya dengan tertunduk.
Xiau Lien mengantarku sampai ke Stasiun. Jalanan penuh dengan suara petasan. Orang orang turun kejalan untuk menantikan detik detik Lunar New Year.
“ Bang, tahukah kamu bahwa aku sangat bahagia sekali hari ini. Dapat bersama mu menanti pergantian tahun. Semoga kebahagiaan bagi semua orang yang hidup dalam tali kasih sayang. “ katanya. Kutatap sekilas dari samping wajahnya. Nampak Xiau Lien yang lebih bercahaya dalam lindungan allah. Tidak ada make up diwajahnya. Suaranya tidak lagi terkesan genit atau manja. Dia telah menjadi sosok wanita yang muslimah yang tangguh menerima takdirnya ditengah satu milliar lebih penduduk negeri ini.
" Setiap hari aku larut dalam tangis ketika sholat. Semua tentang dosa masa laluku terbayang. Aku takut kembali kepada Allah bila mengingat dosa dosaku. “ katanya tertunduk.
" Allah sangat mencintai makhluk ciptaannya. Allah tidak akan menzolimi makhluk ketika dia menciptakannya. Karenanya selagi hayat dikandung badan, Allah senantiasa menanti kehadiran kita untuk bertobat. Berharap agar kelak bila kitakembali kepadanya dalam keadaan bersih. “ Kutatap dia nampak tersenyum
“ ya itulah yang kutahu dari Ustadz” Jawabnya.
Ketika sedang menanti kereta, dia duduk disampingku. Dari jauh nampak seorang pria yang tadi kami temui dalam pengajian datang menghampiri kami. “ Assalamualaikum “ kata pria itu sambil menyalamiku. Xiau Lien tersenyum sambil melirikku. “ Bang, kenalkan ini temanku. Dialah yang mengajariku tentang islam dan membawaku kedalam lingkaran pengajian. “ Kata Xiau Lien. Pria itu tersenyum. Tak banyak yang dapat kukatakan karena pria ini memang tidak bisa berbahasa inggeris. Sebelum naik kereta aku berbisik kepaa xiau Lien “ Pria itu kelihatannya sangat mencintaimu. Aku yakin dia pria yang baik untuk mu. Jaga dirimu baik baik. Aku akan berdoa semoga kebahagiaanmu akan lengkap bersama pria yang dapat melindungimu menuju sorga. “ Xiau Lien tersenyum memerah wajahnya. “ Thanks so much , my dear brother. “ katanya sambil melambaikan tangan.