“ Pah “ Terdengar suaranya agak tinggi
“ Ya, Mah..ada apalagi ?
“ Itu,Nanti kalau pulang kerumah jangan lupa pakaiannya tarok ditempatnya. Jangan digantung, Suruh siMbok angetin makanannya. Jangan makan kalau dingin. Jangan lupa jam 9 TV anak anak dikamarnya dimatiin dari centralnya. Terus...” Dia terdiam seakan berpikir. Tapi aku cepat menjawab “ Ya. Mah..”
“ Apanya yang Iya “
“ Ya aku ngerti. “
“ Jangan lupa ya. Aku jam 10 udah pulang kok. Oh ya, Pah..Itu bill tagihan di periksa. Besok harus dibayar semua. “
“Ya Mah..”
“ Ya udah..” Telp langsung dimatiin. Tak ada kata mesra dari istriku. Seperti kata “sayang”. Atau apalah dengan nada lembut mesra seperti artis sinetron. Atau seperti Pramugari melayani penumpang pesawat. Aku dapat memaklumi itu semua.
Itulah istriku yang kukenal hampir 25 tahun. Wanita sederhana yang tak bertitel tinggi. Yang tak pernah bermuka lembut terhadap segala apa yang dia mau dari ku. Yang selalu mengingatkanku dengan keras. Yang selalu teliti bersikap dan tak ingin aku lalai dengan segala yang kecil. Anda bisa bayangkan bagaimana duniaku. Terkungkung dalam putaran cinta dengan seorang wanita yang menjadi belahan jiwaku.
Satu ketika aku mendapatkan peluang business yang besar dan berhasil mendapatkannya. Tentu aku bersegera untuk menyampaikan kepada istriku. Ada sebersit harapan dia akan memujiku dengan kata kata mesra berlompatan dari mulutnya. Tapi tahukah anda, apa yang kudapat “Oh gitu. Baguslah “ Hanya itu kata yang keluar. Aku terperanjat. Inikah wanita belahan jiwaku yang tak bisa memberikan sedikit kebanggaan terhadap diriku. Setelah itu diapun cepat beralih kemasalah lain. Padahal masih banyak kata kata yang akan kusampaikan agar dia kagum. Tapi itulah istriku. Sejak itu akupun tak pernah lagi membahas tentang prestasiku, Akupun dapat menerima dan akhirnya malas untuk mendapatkan pujian.
Aku tidak tahu apakah aku mentor baginya atau malah sebaliknya. Bila terjadi masalah dengan anak anak maka dia dengan cepat meminta perlindungan dariku. Karena aku maklum pendidikannya rendah dan kurang minat membaca. Hingga banyak hal yang berhubungan dengan anak anak tak bisa diatasinya. Tapi logikanya tetap jalan. Namun sikapnya kadang membuat anak anak bingung. Maklum saja anak anak akrab dengan informasi dan pendidikan mereka juga jauh lebih tinggi dari istriku. Dalam hal ini akupun dipaksanya untuk bersikap seperti apa yang dia mau namun menyampaikan kepada anak anak dengan bahasaku. Inilah yang sulit tapi berjalannya waktu keadaan menjadi biasa saja. Akupun dapat menerima.
Istriku bukan tipe wanita yang suka konsumsi yang tidak perlu.Dia sangat selektif sekali soal pengeluaran. Masalah ini yang kadang membuat aku pening. Karena aku justru tak pernah berhitung soal itu. Aku ingin membawa anak anak seminggu sekali ke restoran makan malam diluar. Tapi istriku menolak keras. “ Aku bisa masak yang seperti di restoran itu.Untuk apa menghabiskan uang diluar sana” Anak anak termasuk yang protes. Tapi kata kompromi datang dari istriku sendiri ketika dia dapat menerima makan sebulan sekali diluar rumah. Tapi restoran , dia yang tentukan. Tentu yang tidak seperti yang anak anak mau. Setiap perjalanan keluar negeri aku ingin memberikan oleh oleh untuk anak anak tapi dengan tegas istriku menolak. “ Tak perlulah. Kamu terlalu memanjakan anak anak. Jangan”
Ketika pulang kantor , aku bertemu dengan seseorang. “ Hai, Harlan. Kamu ya..” .
“ Ya..”
“ Ingat aku engga ? Kata wanita itu. Sekejap aku memandang wanita itu , dan memori otakku cepat mengingat “ Eh. Kamu Yuli..”
Yuli langsung memelukku namun aku menerimanya agak resih. Maklum saja istriku selalu mengingatkanku untuk tidak menyentuh wanita yang bukan muhrim. Dia bukan tipe wanita pecemburu. “ Setiap habis sholat aku selalu berdoa agar suamiku terhindar dari perbuatan zina. “ Begitu katanya yang tak pernah kulupa. Begitulah sikapnya bila menghadapi suatu masalah yang tak bisa diselesaikannya dengan logika.Doa kepada Allah adalah senjata akhirnya untuk menentramkan jiwanya. Dia tak ingin mengekangku sebagai businesman tapi diapun tak ingin aku larut dengan pergaulan yang salah seperti businessman lainnya.
“ Eh. Mobil kamu keren ya. .Hebat kamu sekarang. “
“ Aku biasa aja kok. Kamu gimana ?. Udah berapa anaknya ?“
“ Dua. Tapi masih kecil kecil. Maklum aku telat kawin. Engga seperti kamu cepat kawin. Eh aku dengar kamu sudah jadi pengusaha sukses sekarang ya...Gimana anak anak.” Begitulah Yuli kalau bicara selalu nyerocos.
“ Anaku juga dua. Tapi sudah besar besar. Yang tua sudah selesai kuliah. Yang bungsu tahun depan kuliah. Suami kamu gimana?
“ Aku sudah cerai tahun lalu. Anak anak ikut aku. “
“ Kenapa begitu.?
“ Ya , entahlah. Nasip kali. Oh ya ini kartu namaku. “ Yuli menyerahkan kartu namanya. Tertera jabatannya sebagai Advocate pada law frim terkenal . Dia memang berhasil dengan karirnya.
Kamipun berbisah. Tapi bayanganku tetap kepada Yuli. Karena dia adalah wanita yang kuincar ketika SMA dulu. Melihat Yuli, aku melihat pancaran mata dari seorang wanita yang cerdas. Walau tak muda lagi tapi dia modis. Beda dengan istriku yang tak lepas dari baju gamis dan kerudung kepala. Walau masih muda namun terlihat sudah tua. Ah. Kenapa sampai aku membandingkan istriku dan Yuli. Akupun cepat melupakan Yuli.
Keesokannya “ Lan, Ketemuan yukkk “ Terdengar suara Yuli diseberang. Aku agak sungkan untuk bertemu karena ini Friday night. Apalagi anak bungsuku minta diajarin bahasa Inggeris. “ Kok diam. Ayolah..Lan..” Kembali terdengar suara Yuli agak memelas. Akupun tak bisa menolak. Tak lupa aku menelphone istriku bahwa aku pulang agak telat karena harus ketemu dengan relasi kantor. Istriku menjawab cepat “ jangan lupa sholat dulu sebelum pergi ketemu teman. Entar kebablasan waktu sholat kerna keasikan bicara” Itulah istriku yang tak pernah lupa mengingatkanku.
Ketika bertemu dengan Yuli, aku menemukan sisi lain yang selama ini tak kudapatkan dari istriku, Yuli selalu menatap cerah kewajahku bila ku cerita tentang businessku. Matanya berbinar memancarkan kekaguman. Juga ketika aku cerita tentang anak anakku. Dia selalu memujiku. Diapun pandai membahas segala hal yang hangat dibicarakan oleh publik. Dia pembicara yang ulung dan pendengar yang baik. Beda sekali dengan istriku yang tak suka berdiskusi yang tak perlu.
Pertemuan antara aku dan Yuli ternyata terus berlanjut sampai kami saling membutuhkan. Aku tidak tahu apakah aku selingkuh, Karena selama ini kami hanya bertemu dan berbicara. Kadang tertawa. Kadang becanda. Mungkin sentuhan inilah yang membuat aku merasa lain dan dihargai sebagai pria. Akupun merasa tidak berdosa bila mendapatkan sedikit kebahagian dari sikap wanita lain diluar rumah, Itupula yang membuatku merasa tak bersalah dihadapan istriku. Walau aku menyimpan rapat rahasia ini.
Suatu hari, Yuli bertemu dengan ku dalam suasana lain. Aku merasakan itu. Ketika dengan redup matanya berkata kepadaku “ Lan, Aku tak bisa membayangkan betapa kamu adalah tipe pria yang selama ini aku idamkan. Kamu cerdas.Religius. Sopan. Sabar dan sukses. Beda sekali dengan dulu kamu yang aku kenal. Dulu kamu arogan. Nyebelin. Cuek dan engga disiplin. Kalau bicara keras dan mau menang sendiri. Mungkin perjalanan waktu merubah seseorang menjadi lain.”
“ Ah kamu bisa aja. Aku tetap Harlan yang dulu kamu kenal. Aku engga merasa berubah kok”
“ Kamu berubah. Kamu sekarang sempurna sebagai pria sejati yang diidamkan oleh semua wanita. “ Katanya dengan lembut. Aku tersentak dengan kata kata Yuli ini. Ini tak pernah kusadari.Mungkin orang tuaku , adik adiku , orang sekitarku tidak pernah menyadari tentang ini. Mungkin karena setiap hari melihat dan bertemu denganku. Kalaupun orangtuaku tahu aku berubah tapi dia melihat itu hal yang wajar karena proses yang panjang. Orang sekitarku hanya tahu adalah aku yang kini bukan yang dulu. Tapi Yuli melihatku kini setelah 28 tahun berpisah sejak kami menamatkan SMA dikotaku. Tentu wajar dia terkejut melihat perubahanku. Tentu dia jujur dengan sikapnya. Begitulah , kadang kita tidak pernah menyadari kita berubah kecuali orang lain yang melihat kita.
“ Sulit membayangkan kamu yang tak disiplin , royal tak beritungan, tak sabaran, akhirnya bisa berhasil jadi businessman.
Kembali aku tesentak. Ini kali pertama aku disadarkan tentang diriku. Ternyata tanpa kusadari aku telah bermetamorfosa menjadi lain. Dan kini dipuja oleh wanita seperti Yuli yang dulu sangat ku harapkan menjadi pendampingku. Barulah terbayang olehku bahwa bertahun tahun aku satu rumah, satu ranjang dengan seorang wanita yang selalu membuatku pening namun akhirnya bisa merubah diriku . Sipat royal, arogan, pemalas, tidak disiplin dihadapi istriku dengan keras. Dia tidak pernah bisa menyembunyikan suasana hatinya bila menghadapi sifatku yang seperti itu. Walau dia bukanlah seorang psikolog yang ahli merubah karakter orang tapi caranya menyikapiku membuat aku harus menerima. Mengapa ? Itulah misteri cinta.
Kami berpisah.Aku masih terus memikirkan kata kata Yuli. Sampai dirumah kudapati istriku sedang mengaji dikamar dengan sejadah masih terhampar dan mukena membalut tubuhnya. “ Kenapa malam baru pulang. “ Tanya istriku.
“ Habis ketemu dengan relasi.” Tapi aku tidak bisa menatap matanya. Kulihat kening istriku berkerut. Aku tahu dia mencurigaiku. Kutahu betul istriku punya indra keenam yang sangat tajam. “ Sudah makan ?“ Katanya singkat. Sambil melipat sajadah.
“ Sudah”
“ Ya udah. Aku mau tidur “
Kupandangi istriku selagi tidur. Bayangan Yuli kembali terhampar didepanku. Kucoba untuk kosentrari untuk meyakinkan kepada diriku bahwa hanya istrikulah wanita pendamping hidupku. Aku tak ingin terbuai dengan pujian Yuli. Selama ini karena sikap istriku, aku terlatih untuk tidak pernah mau menerima pujian. Karena istriku membuat Yuli yang dulu tidak tertarik padaku kini malah memujiku. Seketika aku melayang menuju satu tempat yang sangat indah. Terdengar suara bergema sambil berkata:
. “ Ketika kamu sendiri kamu tidaklah sempurna. Wanita sebagai pendamping hidupmu adalah pelengkap dirimu. Allah hadir dalam setiap sikap istrimu untuk melatihmu menjadi sempurna. Perasaan cinta kepada istrimu adalah anugerah terindah dari Allah. Karena lewat cinta itulah kamu dididik. Mungkin banyak hal yang kamu tak suka terhadap istrimu tapi ketahuilah dibalik yang tidak kamu suka itu terdapat kebaikan. Ikhlas dan sabarlah melewati sang waktu untuk hanya beribadah kepada Allah.”
Kucoba menggapai suara itu sambil berlari terengah engah. Terasa wajahku dingin. Mataku terbuka, Dihadapanku sudah ada wajah istriku berwajah kawatir.” Bangun, bangun. Katanya sambil menggoyang goyang tubuhku. “ Kamu mimpi ya. Bangunlah.” Nampak istriku berbalut mukena.
“ Jam berapa sekarang ?
“ Tuh..jam 3 pagi. " Katanya sambil menunjuk kearah jam dingiding " emang kenapa" ? sambungnya.
“ Ah engga. “ Kutahu istriku selalu bangun malam untuk tahajud. Itulah kebiasaanya sejak kukenal. Istriku kembali kesajadahnya. Nampak dia berdoa setelah berzikir. Aku kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Istriku memandang aneh kearahku. ” Tumben kamu mau ikut sholat tahajud. Emang mimpi apa tadi” Katanya.
” Mimpiin kamu. ” Kataku sambil tersenyum membelai kepalanya. Pada saat itulah aku merasa beruntung dan bersyukur atas nikmat Allah yang telah mengirim seorang wanita menjadi pelengkap hidupku. Yang telah merubahku menjadi apa yang Allah mau. Walau kadang tak menentramkan dengan segala sikapnya. Darinya aku dilatih sabar, tawadhu, ikhlas untuk istiqamah sebagai kepala keluarga. Dialah istriku. Yang tak pernah lepas dari sajadah dan wudhu. Yang tak mungkin kuduakan...