04/12/09

Sajadah istriku

“ Pah , aku mau ke rumah sakit. Lihat ayah, boleh engga ? “ terdengar suara istriku dari seberang telp untuk minta izin membesuk orangtunya yang sakit. Dia selalu begitu. Apapun yang akan dilakukannya keluar rumah pasti minta izin kepadaku. Begitupula segala keputusan yang dia ambil selalu bersandar padaku. Walau sebetulnya tidak ada pendapat yang dia harap. Karena pada akhirnya keinginannya juga yang harus dipenuhi. Aku tahu dia hanya butuh dukunganku. Itu saja. Akupun belajar memaklumi sikapnya. Aku mencintainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

“ Pah “ Terdengar suaranya agak tinggi

“ Ya, Mah..ada apalagi ?

“ Itu,Nanti kalau pulang kerumah jangan lupa pakaiannya tarok ditempatnya. Jangan digantung, Suruh siMbok angetin makanannya. Jangan makan kalau dingin. Jangan lupa jam 9 TV anak anak dikamarnya dimatiin dari centralnya. Terus...” Dia terdiam seakan berpikir. Tapi aku cepat menjawab “ Ya. Mah..”

“ Apanya yang Iya “

“ Ya aku ngerti. “

“ Jangan lupa ya. Aku jam 10 udah pulang kok. Oh ya, Pah..Itu bill tagihan di periksa. Besok harus dibayar semua. “

“Ya Mah..”

“ Ya udah..” Telp langsung dimatiin. Tak ada kata mesra dari istriku. Seperti kata “sayang”. Atau apalah dengan nada lembut mesra seperti artis sinetron. Atau seperti Pramugari melayani penumpang pesawat. Aku dapat memaklumi itu semua.

Itulah istriku yang kukenal hampir 25 tahun. Wanita sederhana yang tak bertitel tinggi. Yang tak pernah bermuka lembut terhadap segala apa yang dia mau dari ku. Yang selalu mengingatkanku dengan keras. Yang selalu teliti bersikap dan tak ingin aku lalai dengan segala yang kecil. Anda bisa bayangkan bagaimana duniaku. Terkungkung dalam putaran cinta dengan seorang wanita yang menjadi belahan jiwaku.

Satu ketika aku mendapatkan peluang business yang besar dan berhasil mendapatkannya. Tentu aku bersegera untuk menyampaikan kepada istriku. Ada sebersit harapan dia akan memujiku dengan kata kata mesra berlompatan dari mulutnya. Tapi tahukah anda, apa yang kudapat “Oh gitu. Baguslah “ Hanya itu kata yang keluar. Aku terperanjat. Inikah wanita belahan jiwaku yang tak bisa memberikan sedikit kebanggaan terhadap diriku. Setelah itu diapun cepat beralih kemasalah lain. Padahal masih banyak kata kata yang akan kusampaikan agar dia kagum. Tapi itulah istriku. Sejak itu akupun tak pernah lagi membahas tentang prestasiku, Akupun dapat menerima dan akhirnya malas untuk mendapatkan pujian.

Aku tidak tahu apakah aku mentor baginya atau malah sebaliknya. Bila terjadi masalah dengan anak anak maka dia dengan cepat meminta perlindungan dariku. Karena aku maklum pendidikannya rendah dan kurang minat membaca. Hingga banyak hal yang berhubungan dengan anak anak tak bisa diatasinya. Tapi logikanya tetap jalan. Namun sikapnya kadang membuat anak anak bingung. Maklum saja anak anak akrab dengan informasi dan pendidikan mereka juga jauh lebih tinggi dari istriku. Dalam hal ini akupun dipaksanya untuk bersikap seperti apa yang dia mau namun menyampaikan kepada anak anak dengan bahasaku. Inilah yang sulit tapi berjalannya waktu keadaan menjadi biasa saja. Akupun dapat menerima.

Istriku bukan tipe wanita yang suka konsumsi yang tidak perlu.Dia sangat selektif sekali soal pengeluaran. Masalah ini yang kadang membuat aku pening. Karena aku justru tak pernah berhitung soal itu. Aku ingin membawa anak anak seminggu sekali ke restoran makan malam diluar. Tapi istriku menolak keras. “ Aku bisa masak yang seperti di restoran itu.Untuk apa menghabiskan uang diluar sana” Anak anak termasuk yang protes. Tapi kata kompromi datang dari istriku sendiri ketika dia dapat menerima makan sebulan sekali diluar rumah. Tapi restoran , dia yang tentukan. Tentu yang tidak seperti yang anak anak mau. Setiap perjalanan keluar negeri aku ingin memberikan oleh oleh untuk anak anak tapi dengan tegas istriku menolak. “ Tak perlulah. Kamu terlalu memanjakan anak anak. Jangan”

Ketika pulang kantor , aku bertemu dengan seseorang. “ Hai, Harlan. Kamu ya..” .

“ Ya..”

“ Ingat aku engga ? Kata wanita itu. Sekejap aku memandang wanita itu , dan memori otakku cepat mengingat “ Eh. Kamu Yuli..”

Yuli langsung memelukku namun aku menerimanya agak resih. Maklum saja istriku selalu mengingatkanku untuk tidak menyentuh wanita yang bukan muhrim. Dia bukan tipe wanita pecemburu. “ Setiap habis sholat aku selalu berdoa agar suamiku terhindar dari perbuatan zina. “ Begitu katanya yang tak pernah kulupa. Begitulah sikapnya bila menghadapi suatu masalah yang tak bisa diselesaikannya dengan logika.Doa kepada Allah adalah senjata akhirnya untuk menentramkan jiwanya. Dia tak ingin mengekangku sebagai businesman tapi diapun tak ingin aku larut dengan pergaulan yang salah seperti businessman lainnya.

“ Eh. Mobil kamu keren ya. .Hebat kamu sekarang. “

“ Aku biasa aja kok. Kamu gimana ?. Udah berapa anaknya ?“

“ Dua. Tapi masih kecil kecil. Maklum aku telat kawin. Engga seperti kamu cepat kawin. Eh aku dengar kamu sudah jadi pengusaha sukses sekarang ya...Gimana anak anak.” Begitulah Yuli kalau bicara selalu nyerocos.

“ Anaku juga dua. Tapi sudah besar besar. Yang tua sudah selesai kuliah. Yang bungsu tahun depan kuliah. Suami kamu gimana?

“ Aku sudah cerai tahun lalu. Anak anak ikut aku. “

“ Kenapa begitu.?

“ Ya , entahlah. Nasip kali. Oh ya ini kartu namaku. “ Yuli menyerahkan kartu namanya. Tertera jabatannya sebagai Advocate pada law frim terkenal . Dia memang berhasil dengan karirnya.

Kamipun berbisah. Tapi bayanganku tetap kepada Yuli. Karena dia adalah wanita yang kuincar ketika SMA dulu. Melihat Yuli, aku melihat pancaran mata dari seorang wanita yang cerdas. Walau tak muda lagi tapi dia modis. Beda dengan istriku yang tak lepas dari baju gamis dan kerudung kepala. Walau masih muda namun terlihat sudah tua. Ah. Kenapa sampai aku membandingkan istriku dan Yuli. Akupun cepat melupakan Yuli.

Keesokannya “ Lan, Ketemuan yukkk “ Terdengar suara Yuli diseberang. Aku agak sungkan untuk bertemu karena ini Friday night. Apalagi anak bungsuku minta diajarin bahasa Inggeris. “ Kok diam. Ayolah..Lan..” Kembali terdengar suara Yuli agak memelas. Akupun tak bisa menolak. Tak lupa aku menelphone istriku bahwa aku pulang agak telat karena harus ketemu dengan relasi kantor. Istriku menjawab cepat “ jangan lupa sholat dulu sebelum pergi ketemu teman. Entar kebablasan waktu sholat kerna keasikan bicara” Itulah istriku yang tak pernah lupa mengingatkanku.

Ketika bertemu dengan Yuli, aku menemukan sisi lain yang selama ini tak kudapatkan dari istriku, Yuli selalu menatap cerah kewajahku bila ku cerita tentang businessku. Matanya berbinar memancarkan kekaguman. Juga ketika aku cerita tentang anak anakku. Dia selalu memujiku. Diapun pandai membahas segala hal yang hangat dibicarakan oleh publik. Dia pembicara yang ulung dan pendengar yang baik. Beda sekali dengan istriku yang tak suka berdiskusi yang tak perlu.

Pertemuan antara aku dan Yuli ternyata terus berlanjut sampai kami saling membutuhkan. Aku tidak tahu apakah aku selingkuh, Karena selama ini kami hanya bertemu dan berbicara. Kadang tertawa. Kadang becanda. Mungkin sentuhan inilah yang membuat aku merasa lain dan dihargai sebagai pria. Akupun merasa tidak berdosa bila mendapatkan sedikit kebahagian dari sikap wanita lain diluar rumah, Itupula yang membuatku merasa tak bersalah dihadapan istriku. Walau aku menyimpan rapat rahasia ini.

Suatu hari, Yuli bertemu dengan ku dalam suasana lain. Aku merasakan itu. Ketika dengan redup matanya berkata kepadaku “ Lan, Aku tak bisa membayangkan betapa kamu adalah tipe pria yang selama ini aku idamkan. Kamu cerdas.Religius. Sopan. Sabar dan sukses. Beda sekali dengan dulu kamu yang aku kenal. Dulu kamu arogan. Nyebelin. Cuek dan engga disiplin. Kalau bicara keras dan mau menang sendiri. Mungkin perjalanan waktu merubah seseorang menjadi lain.”

“ Ah kamu bisa aja. Aku tetap Harlan yang dulu kamu kenal. Aku engga merasa berubah kok”

“ Kamu berubah. Kamu sekarang sempurna sebagai pria sejati yang diidamkan oleh semua wanita. “ Katanya dengan lembut. Aku tersentak dengan kata kata Yuli ini. Ini tak pernah kusadari.Mungkin orang tuaku , adik adiku , orang sekitarku tidak pernah menyadari tentang ini. Mungkin karena setiap hari melihat dan bertemu denganku. Kalaupun orangtuaku tahu aku berubah tapi dia melihat itu hal yang wajar karena proses yang panjang. Orang sekitarku hanya tahu adalah aku yang kini bukan yang dulu. Tapi Yuli melihatku kini setelah 28 tahun berpisah sejak kami menamatkan SMA dikotaku. Tentu wajar dia terkejut melihat perubahanku. Tentu dia jujur dengan sikapnya. Begitulah , kadang kita tidak pernah menyadari kita berubah kecuali orang lain yang melihat kita.

“ Sulit membayangkan kamu yang tak disiplin , royal tak beritungan, tak sabaran, akhirnya bisa berhasil jadi businessman.

Kembali aku tesentak. Ini kali pertama aku disadarkan tentang diriku. Ternyata tanpa kusadari aku telah bermetamorfosa menjadi lain. Dan kini dipuja oleh wanita seperti Yuli yang dulu sangat ku harapkan menjadi pendampingku. Barulah terbayang olehku bahwa bertahun tahun aku satu rumah, satu ranjang dengan seorang wanita yang selalu membuatku pening namun akhirnya bisa merubah diriku . Sipat royal, arogan, pemalas, tidak disiplin dihadapi istriku dengan keras. Dia tidak pernah bisa menyembunyikan suasana hatinya bila menghadapi sifatku yang seperti itu. Walau dia bukanlah seorang psikolog yang ahli merubah karakter orang tapi caranya menyikapiku membuat aku harus menerima. Mengapa ? Itulah misteri cinta.

Kami berpisah.Aku masih terus memikirkan kata kata Yuli. Sampai dirumah kudapati istriku sedang mengaji dikamar dengan sejadah masih terhampar dan mukena membalut tubuhnya. “ Kenapa malam baru pulang. “ Tanya istriku.

“ Habis ketemu dengan relasi.” Tapi aku tidak bisa menatap matanya. Kulihat kening istriku berkerut. Aku tahu dia mencurigaiku. Kutahu betul istriku punya indra keenam yang sangat tajam. “ Sudah makan ?“ Katanya singkat. Sambil melipat sajadah.

“ Sudah”

“ Ya udah. Aku mau tidur “

Kupandangi istriku selagi tidur. Bayangan Yuli kembali terhampar didepanku. Kucoba untuk kosentrari untuk meyakinkan kepada diriku bahwa hanya istrikulah wanita pendamping hidupku. Aku tak ingin terbuai dengan pujian Yuli. Selama ini karena sikap istriku, aku terlatih untuk tidak pernah mau menerima pujian. Karena istriku membuat Yuli yang dulu tidak tertarik padaku kini malah memujiku. Seketika aku melayang menuju satu tempat yang sangat indah. Terdengar suara bergema sambil berkata:

. “ Ketika kamu sendiri kamu tidaklah sempurna. Wanita sebagai pendamping hidupmu adalah pelengkap dirimu. Allah hadir dalam setiap sikap istrimu untuk melatihmu menjadi sempurna. Perasaan cinta kepada istrimu adalah anugerah terindah dari Allah. Karena lewat cinta itulah kamu dididik. Mungkin banyak hal yang kamu tak suka terhadap istrimu tapi ketahuilah dibalik yang tidak kamu suka itu terdapat kebaikan. Ikhlas dan sabarlah melewati sang waktu untuk hanya beribadah kepada Allah.”

Kucoba menggapai suara itu sambil berlari terengah engah. Terasa wajahku dingin. Mataku terbuka, Dihadapanku sudah ada wajah istriku berwajah kawatir.” Bangun, bangun. Katanya sambil menggoyang goyang tubuhku. “ Kamu mimpi ya. Bangunlah.” Nampak istriku berbalut mukena.

“ Jam berapa sekarang ?

“ Tuh..jam 3 pagi. " Katanya sambil menunjuk kearah jam dingiding " emang kenapa" ? sambungnya.

“ Ah engga. “ Kutahu istriku selalu bangun malam untuk tahajud. Itulah kebiasaanya sejak kukenal. Istriku kembali kesajadahnya. Nampak dia berdoa setelah berzikir. Aku kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Istriku memandang aneh kearahku. ” Tumben kamu mau ikut sholat tahajud. Emang mimpi apa tadi” Katanya.

” Mimpiin kamu. ” Kataku sambil tersenyum membelai kepalanya. Pada saat itulah aku merasa beruntung dan bersyukur atas nikmat Allah yang telah mengirim seorang wanita menjadi pelengkap hidupku. Yang telah merubahku menjadi apa yang Allah mau. Walau kadang tak menentramkan dengan segala sikapnya. Darinya aku dilatih sabar, tawadhu, ikhlas untuk istiqamah sebagai kepala keluarga. Dialah istriku. Yang tak pernah lepas dari sajadah dan wudhu. Yang tak mungkin kuduakan...

03/12/09

Semua kembali kepada Allah...

Seusai sholat subuh , Budi bersiap siap untuk pergi keluar rumah.Ini hari jadwal untuk mengikuti test calon pegawai. Dalam surat panggilan tertera dengan jelas bahwa dia harus datang tepat waktu.Maklum saja perusahaan yang akan mengadakan test calon pegawai ini adalah perusahaan berkalas international yang sangat terkenal disiplin. Namun , ketika dia melihat kalender barulah dia tahu bahwa ini hari jumat. Jadwal test berlangsung dari pagi sampai jam 1 siang. Artinya bertepatan dengan waktu sholat jumat. Dia gundah. Apakah dia akan datang untuk test dengan berharap mendapatkan peluang untuk bekerja ataukah dia abaikan namun nasipnya tetap sebagai pengangguran.

“ Jangan sampai terlambat.Kamu harus disiplin. Jangan kecewakan aku yang sudah capek capek rekomendasi kamu” Demikian SMS dia terima dari kakaknya. Dia tidak menjawab SMS itu. Karena pikirannya masih bingung antara pergi atau tidak. Memang benar bahwa sudah hampir 3 tahun dia menganggur sejak tamat kuliah. Statusnya tidak jelas. Tapi ada kebahagiaan yang menentramkan jiwanya dalam kondisi menganggur formal ini. Sholatnya makin khusu. Waktunya makin banyak untuk belajar agama.

Namun kesehariannya dia merasa tidak juga menganggur. Dia selalu sibuk seperti membimbing mahasiswa menyusun skripsi. Membantu kegiatan Yayasan sosial membuat proposal pendanaan kepada donatur. Mengajar ponakannya mengaji dan juga tetangga yang butuh bantuannya menyelesaikan berbagai masalah yang berhubungan dengan perizinan. Banyak kegiatannya yang membuat dia sudah sangat sibuk. Walau tidak menghasilkan uang yang pasti tapi dia mendapatkan kepastian bahwa setiap hari dia selalu dibutuhkan oleh orang lain dan mereka ikhlas memberi nya uang. Bukan besar jumlah yang dia terima tapi besarnya rasa senang orang lain ketika mendapatkan bantuan darinya. Itulah yang membuatnya sangat bahagia.

“ Heran , ya kamu itu tidak pernah resah dengan keadaan kamu. Emang enak ya nganggur itu.? Kamu kan laki laki. Masak sih engga ada kepikiran untuk giat sedikit cari kerjaan” Demikian kekesalan kakaknya terhadapnya.

“ Saya terus cari kesempatan kerja, Bang. Tapi memang Allah belum izinkan saya bekerja. Mungkin Allah inginkan agar saya lebih punya waktu bantu orang lain dulu. Juga lebih banyak waktu jaga bunda dirumah “ Kata Budi, memang dia anak bungsu dan semua kakaknya sudah mandiri. Hanya tinggal dia dirumah bersama ibunya.

“ Jangan salahkan Allah bila kamu belum bekerja. Banyak kesempatan kalau kamu mau. Berkali kali aku kasih kamu kesempatan kerja tapi kamu engga pernah berhasil ikutin test. “

“ Saya tidak salahkan Allah. Saya mencitai Allah dengan segala kondisi. Termasuk bila kini saya masih nganggur..”

Sampai pada satu kesimpulan bahwa Kakaknya, orang tuanya menganggap dia hidup menyia nyiakan umur. Tapi dia tidak merasa umurnya sia sia. Dia tidak pernah memperdulikan status formal. Tapi orang sekitarnya peduli dengannya. Dan mereka inginkan dia ada status. Pegawai. Termasuk pacarnya. Satu demi satu wanita yang dikenalnya pergi meninggalkannya hanya karena statusnya tidak jelas. Tentu orang tua pacarnya punya alasan yang jelas untuk tidak mengambil resiko menyerahkan masa depan anak wanitanya kepada pria yang tidak punya status. Namun dia tetap ikhlas bila semua pada akhirnya lingkungannya mencibirkannya karena statusnya itu.

“ Ya, bang, Aku berangkat sekarang ..” akhirnya dia membalas SMS kakaknya. Dia tahu bahwa kakaknya sangat peduli dengannya. Semua orang sekitarnya mencintainya agar dia bisa menjadi seperti yang mereka mau. Apakah ini juga sebagai upaya mereka mendapatkan status dikelasnya bahwa punya adik bukan pengangguran. Entahlah. Yang pasti dia tetap berprasangka baik bahwa semua orang punya alasan sendiri untuk bersikap dan mencintainya. Baginya sudah jelas bahwa Allah punya rencana sendiri tentang hidupnya. Makanya setiap waktu dia hanya berdoa kepada Allah agar hidupnya dapat berguna bagi orang lain.

Dengan mengendarai Bus, dia menuju kealamat kantor dimana dia akan mengikuti test. Sesampai disana , semua pelamar sudah datang. Mereka datang lebih awal namun Budi datang tidak terlambat. Suasana tenang namun mencekam menjelang test akan dilakukan. Dia tetap tenang. Ini bukan masalah besar yang harus dicemaskan. Dia sudah mengalami ini berkali kali. Mungkin ini test yang ke sekian puluh kalinya dan semua gagal. Maka diapun siap untuk gagal.

Test tertulis usai dilewatinya. Ketika itu jam menunjukan pukul 11.30 Siang. Diapun bergegas untuk pergi ke masjid. Ketika dia melangkah keluar dari kantor itu, dia sadar bahwa dia tidak bisa ikut untuk test wawancara. Maka sudah dipastikan dia gagal untuk proses seleksi itu. Dia tetap melangkah pasti. Ketika menunggu lift turun telphone bergetar. Tertera yang telp itu adalah kakaknya

“ Ya, Bang..”

“ Sudah selesai test tertulisnya. Tapi aku harus sholat jumat. Mungkin engga bisa ikut test wawancara. “ Kata Budi dengan tenang. Kemudian Budi terdiam sambil mendengar dengan seksama ocehan kakaknya yang bilang dia “keterlaluan meninggalkan jadwal test hanya karena mau sholat jumat. “ Ya bang...aku harus sholat. Maafkan aku..” Itulah kata terakhirnya. Disampingnya nampak seorang pria setengah umur memperhatikannya. Didalam lift pria menegurnya “ Anda ikut test juga ya “

“ Ya, Pak.”

“ Kan testnya belum selesai. “

“ Ya pak belum, Tinggal wawancara. Tapi ini waktu sholat jumat. Saya harus sholat”

“Loh gimana dengan test itu “

“ Biarlah pak. Saya ikhlas engga diterima. “

“ Sekali kali tidak apalah tidak sholat jumat. Kan sayang peluang itu dibiarkan hanya karena waktu sholat. Allah juga maklum keadaan kamu. ” Kata pria itu sambil tersenyum.

“Mungkin sebagian orang bisa melupakan waktu sholat dengan mudah. Tapi bagi saya ketika waktu sholat datang,jiwa saya tidak tenang sebelum melakukannya. Saya gelisah. Semua keliatannya jadi serba salah. Tidak tenang. “

“ Ya, cobalah untuk ditenangkan jiwa kamu tanpa sholat. Semua orang bisa tenang kok hidupnya tanpa sholat. Jangan sampai sholat itu seperti Narkoba, yang membuat kamu ketergantungan penuh. Sayang sekali hidup hanya sekali. Nikmati hidup dengan segala kebebasan”

“ Biarlah sholat sebagai narkoba jiwa saya. Karena itu menyehatkan jiwa dan raga saya. “

Pintu lift terbuka. Mereka keluar lift bersama sama. “ Saya juga mau kemasjid, kok “ Kata pria itu sambil tersenyum. Masjid terletak dibelakang gedung perkantoran itu. Budi melihat pria itu ketempat parkir untuk mengambil sajadah. Dia melihat kendaraan orang itu cukup mewah. Dia yakin pria itu orang berada.

Usai sholat jumat, pria itu kembali mendekati Budi.

“ Ini kartu nama saya. Saya senang ada anak muda yang pencandu Sholat. “Benarlah bahwa pria itu adalah direktur perusahaan yang cukup terkenal. “ Kalau ada waktu mampirlah kekantor saya “ Sambung pria itu.

Walau Budi tahu waktu test kerja sudah habis. Namun dia tetap kembali kekantor itu. Sekedar memberi tahu kepada petugas kantor itu bahwa dia tidak bisa mengikuti test karena harus sholat. Dia sadar bahwa walau syariat agama tidak boleh dilanggar namun urusan duniapun harus diutamakan dengan cara meminta maaf karena dia sudah melanggar janji yang disepakati. Ketika sampai di depan recepsionis , petugas recepsionis sudah menyambutnya dengan senyuman “ Anda Budi, ya “

“ Ya, Bu..”

“ Masuk. Mari saya antar ketemu dengan pimpinan saya.” Kata petugas recepsionis itu menuntun Budi kesuatu ruangan dimana sudah ada seorang pria duduk dibelakang meja dengan paras berwibawa.

” Apa hubungan kamu dengan Pak Rahmat ” Kata pria itu. Budi bingung. Dia tidak mengenal nama Rahmat itu. Namun dia cepat ingat dengan kartu nama yang barusan dia terima dari seseorang yangdikenalnya di lift. ” Rahmat Santoso ” Katanya.

”Ya. ” Jawab pria itu dengan cepat.

” Saya kenal dia dilift Pak. “

“ Sebelumnya ?

“ Tidak kenal. “

Pria itu menatap matanya dengan seksama. Budi tetap tersenyum menatap pria itu.

” Hasil test kamu tidak begitu bagus dibanding yang lain tapi juga tidak buruk. Saya ingin bertanya satu hal kepada kamu”

” Silahkan , pak ”

” Kamu kan tahu disiplin itu segala galanya. Mengapa kamu tinggalkan jadwal test wawancara tadi. Dan sekarang kamu kembali kesini setelah waktu test habis”

” Saya tidak bisa meninggalkan sholat jumat Pak.”

” Mengapa ?

” Sehari waktu saya sholat hanya lima kali. Setiap sholat itu hanya membutuhkan waktu tidak lebih 10 menit. Artinya dalam 24 jam waktu tersedia sehari, saya hanya perlu waktu tidak lebih 1 jam untuk sholat. Saya rasa tidak berlebihan bila saya harus mengutamakan disiplin soal ini diatas segala urusan yang lain.”

” Lantas bagaimana dengan urusan lain. Apakah kamu tetap bisa disiplin seperti waktu sholat itu. ”

” Tentu. Pak. Sholat adalah latihan jiwa dan mental agar stabil.. Bahwa hidup harus diperjuankan dengan apapun taruhannya. Hanya jiwa yang stabil yang bisa menghadapi goncangan kehidupan yang tak pernah stabil. ”

” Walau kamu tahu ada goncangan yang akan kamu terima karena mengutamakan sholat. ”

”Ya tahu itu dan sadar akan resiko itu. Tapi saya yakin tak akan membuat saya hancur karena tidak mendapatkan kesempatan kerja. ” Budi sudah mulai berani tegas sebagaimana sikapnya dihadapan kakak dan orang tuanya.

Pria itu tersenyum kearahnya. ” Tahukah kamu. Pak Rahmat itu adalah calon mitra strategis kami. Sudah lebih dua tahun kami mendekatinya untuk membantu kami mengembangkan usaha tapi tak pernah berhasil. Tapi tadi barusan saya dapat telp, Pak Rahmat bersedia bergabung asalkan kami mau menerima anda sebagai karyawan. Saya secara pribadi harus belajar banyak tentang hakikat sikap hidup anda yang dapat dengan mudah membuat seorang Rahmat bertekuk lutut. ”

Pria itu terdiam. Sambil tersenyum menatap Budi. ” Selamat bergabung diperusahaan kami. Semoga kami tidak hanya mendapatkan kemampuan kerja terbaik anda tapi juga cahaya hidup anda dapat menerangi perusahaan kami untuk lahirnya budaya santun dan ikhlas. Begitulah juga diharapkan oleh Pak Rahmat atas bergabungnya anda dalam keluarga besar perusahaan kami.

Walau jabatannya masih pekerja biasa. Namun awalnya dia bekerja karena sikap hidupnya. Bukan karena ijazahnya. Bukan karena hasil testnya.Maka ketika dia mendapatkan pekerjaan ini maka inilah kehendak Allah yang berlaku. Maka pertolongan Allah akan senantiasa hadir.

Apapun di dunia ini yang mampir dalam diri kita maka yakinkan bahwa itu karena kehendak Allah. Allah hanya berkehendak seperti yang Dia yang mau. Tentu untuk kebehagiaan kita ketika kita tak pernah lalai untuk menyapaNya siang dan malam. Senantiasa bersyukur dalam kondisi apapun serta tetap berprasanka baik untuk istiqamah melewati kehidupan yang penuh dengan goncangan. Budi adalah jelmaan manusia mukhlis yang kehadirannya dapat memberikan cahaya untuk lahirnya perubahan dilingkungannya. Semakin menyadari bahwa pada akhirnya semua urusan kembali kepada Allah...Allah lah diatas segala galanya...

22/11/09

Tidak kenal

Baskoro tahu bahwa ini bukanlah urusan sederhana. Seharusnya bukan dia yang menyelesaikan masalah. Dia hanyalah kurcaci dikantornya. Walau statusnya sebagai mitra namun tak lebih hanyalah nama didalam akte perusahaan. Penguasa sebenarnya adalah seseorang yang disebutnya sebagai BOSS. Namanya tidak tercantum dalam akte sebagai pengurus perusahaan. Hanya tercantum sebagai pemegang saham. Tapi dia penguasa sesungguhnya. Tak ada satupun kebijakan direksi dan komisari dapat dilaksanakan tanpa persetujuannya. Ini memang menyakitkan bagi Baskoro. Duduk ditahta dan diakui oleh undang Undang negera tapi dihadapan pemegang saham dia hanyalah jongos yang harus berkata ” siap Pak ” bila sang Boss memerintah.

Sebetulnya antara Baskoro dan Boss nya tidak saling mengenal karena hubungan mereka hanyalah soal kepentingan. Tidak dengan hatinya, tetap dengan matanya, pun tidak dengan pikirannya. Mereka pun sebenarnya saling mengenal untuk tujuan fana. Begitulah yang diyakini oleh Baskoro. Bila hormatnyanya pun kepada boss nya hanya sekedar hormat untuk seseorang yang tidak dikenalnya. Serba formal saja. Ketika Boss nya menelphone dnegan suara keras. Dia tahu ini ada masalah. Dia bersikap sempurna walau lewat telpon sambil berkata ” siap Pak. Saya segera datang.”

Ditemuinya sang Boss di ruang kerja yang tertata dengan apik.

Sang Boss langsung berkata ” Aku dapat kabar dari kenalanku bahwa project kita akan diusut oleh Petugas Anti Korupsi. Ini masalah besar. Padahal semua orang yang saya kenal sudah saya bayar untuk itu. Tapi mengapa sampai begini. ” Suara Boss terdengar semakin keras dengan wajah memerah , mata melotot.

” Siap , Boss ” Seperti biasa dia menegaskan dirinya siap untuk diperintah. Dia tidak perlu tahu alasan dan kegundahan sang Boss. Dia hanya bersiap untuk diperintah. Itu saja.

” Aku kenal baik dengan Petugas Anti Korupsi itu sebelum mereka menjabat sebagai petugas anti Korupsi. Mereka biasa melayaniku sebagai teman dan menjaga ku sebagai teman. Tapi aku tidak boleh berhadapan langsung dengan mereka. Itu saran mereka kepada ku agar aku lebih baik tidak kenal mereka. Bukankah tidak penting kenal atau tidak dikenal. Yang penting urusan selesai. ”

” Siap Boss ”

” Nah tugas kamu sekarang adalah usahakan kenal mereka tapi tidak perlu mengenal mereka. Bayar berapapun mereka minta. Yang penting urusan selesai. ”

Baskoro terdiam. Dia bingung . Apa yang dimaksud si Bos kenal tapi tidak perlu mengenal. Dengan kikuk dia ingin bertanya sesuatu. Kata kata itu sudah ada didepan lidahnya tapi si Boss menjawab lebih cepat ” Maksudku, temui mereka tapi tidak perlu bicara soal kasus ku. Tidak perlu. Ajak saja dia makan malam. Itu saja. Setelah itu atur orang lain untuk membayar petugas itu. Pastikan maksud dan tujuan kita membayar. Paham kan !”
” Siap Boss. Saya paham ” jawab Baskoro dengan tegas.

Selanjutnya Baskoro bergerak seperti yang diarahkan oleh sang Boss. Dia mendatangi petugas anti Korupsi. Hanya berbicara kosong dan sekalian menyampai salam dan sang Boss. Petugas anti korupsi itu tersenyum cerah karena ”salam ” berarti berkah akan datang. Ini bahasa sandi dalam lingkaran peradilan untuk saling melindungi antara sang boss dan penegak hukum. Satu sama lain tahu cara berbuat untuk tahun sama tahu dihadapan hukum. Sebuah cara kenal dalam bahasa hati antar pengerat. Makan malam itu disudahi dengan akrab dan keluar restoran tanpa saling kenal.

Keesokannya sang Boss menelphonnya untuk datang ke kamar kerjanya. ” Ini pengacara saya” kata sang Boss memperkenalkan sesorang kepada Baskoro. ” Dia yang akan menuntun kamu untuk urusan bayar membayar. Ikutin apapun permintaannya. ”

” Siap , Boss ”

Pertemuan berakhir. Baskoro pun tetap menganggap pengacara itu tidak dikenalnya. Walau sudah kenal nama dan statusnya. Dia hanya menunggu perintah itu datang. Dan siap membayar.
***

” Kamu harus temui seseorang di hotel jam 10 malam. Alamat dan nama orang itu akan saya kirim via sms ” Demikian suara terdengar lewat telp selularnya. Begitulah cara pengacara berbicara lewat telp. Selalu hati hati karna tahu setiap pembicaran bisa disadapt oleh sistem pemberantasan Korupsi. Benarlah tak berapa lama SMS datang dari nomor yang tidak dikenalnya. Dia tidak peduli. Karena memang dia tak perlu mengenal bahkan menyimpan nomor telp pengacara itu.

Seseorang yang dimaksud itu ternyata anak muda. Usianya sedikit dibawahnya. Tapi dia tidak peduli. Yang dia tahu orang ini berbicara banyak tentang kedekatannya dengan para pejabat tinggi negara. Dari pejabat executive , legislatif sampai yudikatif ada didalam genggamannya. Soal pengalaman menjadi penghubung tidak perlu diragukan. Orang ini bercerita tentang berbagai kasus yang sudah diurusnya dan selesai dengan gemilang. ” Di negeri ini tidak ada masalah hukum yang tidak dapat diselesaikan , asalkan ada uang. Hanya saja era sekarang harus lebih cerdas menebar uang. Karna pejabat korup sekarang lebih cerdas dibanding pejabat era sebelumnya. Mereka bagaikan tikus yang sangat hapal setiap jebakan hukum yang mematikan mereka. ” demikiran orang itu bercerita. Baskoro hanya tersenyum untuk sekedar memastikan dia peduli walau sebetulnya dia tidak mau tahu.

Keesokannya seseorang itu menelphonenya untuk bertemu lagi. Baskoro menyanggupi. Pertemuan kali ini tak ada lagi kata kata. Hanya singkat saja. Orang itu menentukan jumlah uang yang harus dia sediakan dan juga tahapannya. Kepada siapa saja uang itu akan ditujukan. Semua itu disampaikan dengan jelas. Tugas Baskoro hanyalah menyerahkan uang itu kepada orang itu dan selesai.

Hal ini dilaporkan kepada sang Boss yang disampingnya ada sang pengacara. Sang Boss tersenyum. Kemudian menyerahkan beberapa lembar cek kepada Baskoro sesuai tahapan pemberian uang yang ditentukan oleh seseorang itu. Sang pengacara menelphone seseorang itu. Memastikan bahwa semua harus berjalan lancar. Dihadapan sang Boss, Baskoro pun menelphon pejabat anti korupsi yang dikenalnya. Dia menegaskan pula tentang salam dari sang Boss. Semua keliatan beres.

Baskoro berjalan keluar dari kantor sang Boss. Ketika sampai di bank , dia berpikir keras. Apakah uang ini harus diserahkan kepada seseoang itu atau diambil. Bukankah dia tidak mengenal pasti siapa seseorang itu. Bukankah dia tidak tahu pasti apakah petugas anti korupsi akan menerima uang dari seseorang itu. Dengan berketatap hati dia mencairkan setiap lembar cek itu dan menemui seseorang itu.

” uang ada ditangan saya. ” Katanya kepada seseorang itu.

”: serahkan kepada saya ” kata orang itu dengan cepat.

B askoro menatap orang itu dengan seksama sambil tersenyum penuh arti.

” Kenapa ? ” Kata seseoarang itu dengan nada curiga. ” Oh kamu mau minta bagian. Ya silahkan ambil berapa dan sisanya serahkan kepada saya ” sambung seseorang itu. Tahulah Baskoro bahwa jumlah uang ditetapkan itu bukanlah jumlah sesungguhnya. Ada juga bagian untuknya dan tentu juga bagian dari orang lain yang akan menjaga urusan ini. Jadi tidak sepenuhnya untuk petugas anti korupsi.

Baskoro menyerahkan setengah dari uang itu kepada seseorang itu dan diterima dengan senyum cerah. Baskoro yakin dia menjadi pemenang. Bossnya maupun lainnya jadi pecundang. Dia juga tidak peduli urusan ini akan selesai. Dia hanya kurcaci yang harus pandai merampas uang dari orang kaya yang rakus. Diapun harus cerdas. Dia melangkah ringan meninggal seseorang itu. Dia tersenyum kemenangan diatas orang orang yang sakit.

Baskoro baru menyadari bahwa tidak ada kemenangan yang sesungguhnya. Ketika dia merasa menang dengan cara kotor dilingkungan kotor diapun sebetulnya langsung kalah. Itulah yang disadarinya ketika Polisi menangkapnya sebagai pihak yang memberi suap. Semua bukti ada ditangannya. Sang Boss berbicara kepada aparat hukum tentang jumlah uang ditebar lewat Baskoro karena kesal urusannya tak kunjung selesai. Semua menjadi terbuka. Semua orang yang sebetulnya tidak dikenalnya secara batin telah menempatkannya sebagai pesakitan. Semua pihak marah. Marah karena mereka tidak mendapatkan apa apa. Itu saja. Dan benarlah tak ada satupun petugas itu mengatakan mereka mengenalnya.

18/11/09

takdir

Suara kereta api merauang dikegelapan malam bagai suara naga yang marah. Kereta api itu me nuju ke timur dari tempat dia dilahirkan. Ini adalah daerah yang memberikan banyak harapan setelah darah tertumpah merebut legitimasi sebagai bangsa berdaulat. Dia masih terlalu muda untuk pergi. Usianya baru 28 tahun. Ia naik kereta api ini yang tampak kotor tak terawat. Di luar jendela pemandangan tampak sepi dan terasing. Tidak terlihat pegunungan , tidak juga sungai, jauh mata memandang yang nampak hanyalah hutan yang gundul dan tandus.

Seorang tua duduk disebelahnya. Bertanya apakah ada yang menarik diluar sana. Dia hanya tersenyum untuk sekedar memastikan dia tak ingin menyinggung perasaan orang itu untuk tak mau berbicara. Matahari mulai meninggi. Laki laki dan wanita sedang membajak di sawah. Para wanita menggendong bayinya dipunggung. Lelaki itu mengatakan kepadanya bahwa ditahun ini ada jutaan rakyat kelaparan didaerah ini akibat hama.

Mulanya daerah ini merupakan sebuah tempat yang asing baginya. Sebuah tempat yang entah dimana. Sangat berlawanan dengan jakarta. Dia merasa dirinya seperti wanita buta disebuah lorong. Sedang mencari jalan dengan meraba raba tembok. Setelah jakarta dia mencoba beberapa tempat lainnya. Ia telah mencoba pergi ke wilayah lainnya. Ia berbicara dengan kawan kawan kawan dan para kenalan dan memohon orang orang tidak mendengar keluhannya atau mereka telah mendengar terlalu banyak. Ia mengetok pintu pintu , menyebutkan namanya ke orang orang yang asing baginya. Ia terus berusaha mendorong dirinya, dan tetap menyumpan harapan dikepalanya.

Ia mulai mulai lebih sering mendengar nama seorang pria. Sebuah harapan akan bersua. Entah dimana saja. Mungkin kelak. Yang dia tahu pria itu dikenal akrab dibanyak tulisan. Sebagai pejuang kemanusiaan yang lahir dan akrab dari komnitas yang miskin terpinggirkan oleh system yang brengsek. Para pemimpinnya yang tidak peduli bila akhirnya semua potensi negerinya dikuasai asing. Rakyat terpuruk dalam lembah kemiskinan dari tahun ketahun. Sulit untuik mendapatkan pendidikan yang semakin mahal. Tapi seni sebagai penghibur negeri ini. Orang bisa segera melupakan masa depannya yang muram bila sudah ada jaipongan digelar dikampungnya.

Dia memiliki mata seorang pelopor. Dengan pandangan dan sikap ini dia menemukan masa depannya. Ini adalah daerah yang menjadi tempat tinggalnya. Sebelum keberangkatannya dia menulis sebuah esai dibuku hariannya yang memuat tentang kegalauannya tentang semua hal. Akan lebih seperti sebuah pandangan terhadap hidupnya . Dia yakin tak ada lagi yang bisa bersuara tentang keadilan. Kata kata yang keluar dari mulut mudah sekali disalah tafsirkan. Disanggah oleh para cerdik pandai yang culas. Ya, hanya lewat seni dan budaya , orang berbicara dengan bebas. Sebuah pentas yang berbicara kepada nurani orang. Sebuah gerak yang meliuk menyayat hati. Sudah cukup orang menterjemahkan apa yang harus dikatakan kepada penguasa yang pongah.

Banyak ungkapan seni dan budaya yang tampil bila laku dijual,. Itu tak lebih pelacuran seni. Yang mekar bagaikan kembang plastik tanpa ruh. Seni yang ada kini telah pucat tanpa darah gelora melawan. Tak lebih sebuah seni sentimentalis kaum kaya buta hati. Filem atau sinetron hanya menampilkan wanita dipuji akan kecantikannya dan pengorbanannya. Film yang menutup mata terhadap kondisi negara yang centang perenang. Dia menyebut semua ini sebagai ”pelacuran seni”. Sebetulnya dia ingin berontak dan berkata ” seni adalah senjata: Senjata untuk memerangi ketidak adilan. Membuka mata hati rakyat untuk bangkit dengan seluruh jiwanya melawan. Ya melawan.

Truk tua yang ditumpanginya mengerang seperti binatang sekarat. Dialapisi abu berwarna merah tubunya, dia tetap bersemangat. ”Sampai juga akhirnya aku disini” suaranya terdengar halus berbisik kepada angin dan matahari. Dari kejauhan nampak temannya berlari menghampirinya.

” akhirnya kamu datang juga. Terimakasih.”

” Ya. ” lama dia menatap kearah temannya yang nampak tua dari dirinya. ” Aku akan tinggal disini.”

” Disini ?”

” ya disini. Bersama kamu”

” Ah, Yun, engga salah tuh. Tempat kamu bukan disini. Bukan. Jakarta sudah memberikan segala galanya untuk kamu. ”

” Aku sudah putuskan untuk tinggal disini. Bantu aku ya. ”

Dirangkulnya temannya itu. Lama sekali. Mereka terdiam membiarkan rambut mereka terurai dibelai angin sore. ” Masuklah kerumahku yang reot. Nanti kita bicara lebih banyak lagi.’ Kata temannya. Mereka masuk kedalam rumah berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu.

Ketika malam datang. Sunyi mendekap desa ini. Orang cepat sekali tertidur dalam kelelahan setelah menapak hari berpanas terik disawah, diladang. Untuk sebuah hari ini dan besok. Cara kuno bertahan hidup dan menghidupi. Dia puas karena sebuah sikap telah ditentukan dan dia senang karena dia ada disini. Temannya telah bersenang hati untuk menerimanya. Dia mengenal temannya lima tahun lalu ketika temannya itu be kerja sebagai cleaning service. Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan dia merasakan ada sesuatu yang lain dari seorang cleaning service yang dikenalnya. Dia seorang sarjana pertanian dengan jabatan sebagai junior consultant akhirnya menemukan kesejatiannya ketka betemu dengan wanita ini.

***
Apa yang membuat dia akhirnya bersikap? Inilah yang tak pernah dilupakannya. Ketika temannya berkata ” Besok aku akan pulang kampung,. Aku akan menikah. Inilah takdirku”

’ Takdir ? Mengapa harus pulang kekampung. Disini ada banyak pria untuk kamu jadikan suami. Mengapa ? ”

” Tidak ada artinya aku tetap disini. Dikampung walau semua serba terbatas aku bisa berbuat sesuatu. Pendidikan Pesantren yang kudapat akan sangat berguna bagi anak anak desa. Aku dapat mencerahkan mereka untuk tegak berdiri. Untuk tidak takut melihat masa depan.”

” Tapi disini kamupun dapat mengajar mengaji dan agama kepada anak anak...kenapa harus pulang..”

” Disini tak ada ruang bagi anak anak untuk menghayati agama sebagai sebuah jalan hidup. Terlalu banyak pengaruh kotor lewat televisi dan media lainnya membuat siraman rohani mudah ternoda. Di desa, dimana kemiskinan membuat mereka teisolasi oleh budaya modern , adalah hikmah untuk kita membangun satu generasi yang kuat akal dan aqidahnya sebagai rahmat bagi alam semesta”

” Mengapa kamu seperti ini ?

” Kita kaum ibu, kita harus menjadi pelopor untuk terbangunnya satu generasi yang mampu berjihad meninggikan kalimat Allah. Ini tanggung jawab kita. Siapa lagi. Ini kodrat kita. ”

Pagi dia terbangun untuk sholat subuh. Dia menghirup udara fajar dan menyapanya dengan takbir, takhmid, tahlil. Dia merasa sangat siap untuk bersama sama temannya. Menjadi pelopor. Berbuat dan mati. Di sini.

@ Untuk seseorang, Terimakasih untuk menyumbangkan tulisannya dalam blog saya. Semoga rahmat allah menyertai anda. Moga suatu saat kita dapat bertemu.

09/11/09

Keadilan

Siang itu saya mendapat surat dari Posbakum ( Pos Bantuan Hukum ) , yang isinya meminta saya untuk mendampingi seorang tersangka yang tertangkap massa ketika mencuri.. Seperti biasa sebagai Sarjana Hukum yang baru lulus , tentu saya merasa bersyukur untuk membuktikan diri membela orang yang tidak mampu. Tugas ini saya terima. Segera saya mendatangi Kantor Posbakum. Berkas BAP (Berita Acara Pemeriksaan ) terhadap tersangka saya ambil dari kantor untuk saya pelajari.. Saya memilih untuk bertemu terlebih dahulu dengan tersangka sebelum saya mempelajari BAP tersebut.

“ Nama saya Yusuf. “ kata saya memperkenalkan diri. “ Saya diminta oleh Posbakum untuk menjadi pengacara saudara. Untuk itu saya minta saudara memberikan Kuasa Penunjukan saya sebagai pengacara. “ lanjut saya , sambil menyerahkan selembar surat untuk dia tanda tangani. Tanpa membaca terlebih dahulu , dia langsung tandatangani surat itu.

“ Tolong saya, Pak pengacara ...” katanya lirih setelah menandatangani surat Kuasa itu. Saya perhatikan , dia memang nampak sangat ketakutan. Rasa penyesalan terbias vulgar diwajahnya. Tidak sama dengan orang yang biasa melakukan kejahatan dan berurusan dengan penjara. Batin saya berkata orang ini pendatang baru didunia criminal.

“ Apakah benar anda bersalah “ tanya saya.

“ Saya tidak salah pak. “ jawabnya tanpa berani menatap langsung wajah saya.

“ Baiklah, kalau anda tidak bersalah maka tidak perlu saya membantu anda. “

“ Pak, tolong saya. Tidak sanggup saya menghuni penjara. Terlalu berat bagi saya Pak.Apalagi memikirkan anak dan istri saya dirumah “ Kembali dia memelas.

“ Anda tau,kan. Saya adalah pengacara. Saya membela orang salah. Kalau anda tidak salah, lantas untuk apa saya bela. Hadapi saja pengadilan. “

“ Ya...memang saya bersalah ...” jawabnya lirih. Sayapun tersenyum kala mendengar pengakuannya. Artinya dia mulai mau bersikap jujur. Ini penting sekali bagi saya. Karena kejujuran dari client sangat membantu saya mengatur strategi pembelaan kelak.

“ Baik. Ceritakan kepada saya semua yang terjadi. Ceritakan dengan jujur karena saya akan membela anda. Setiap kesalahan tentu punya alasan. Dan saya akan mencoba menegakkan keadilan dari kesalahan anda tersebut. Tentu sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku.” Kata saya sekedar menentramkan jiwanya.

“ Baiklah Pak. “ katanya sambil menghela nafas panjang. “ Ditengah kebingungan memikirkan anak yang sakit. Saya tidak punya uang untuk membawanya kerumah sakit. Saya terus melangkah ditengah malam. Sementara istri saya terus menangis melihat penderitaan anak. Ditengah jalan , saya melihat ada rumah mewah dan saya tau bahwa rumah itu jarang dihuni oleh pemiliknya. Rumah itu hanya dihuni oleh pembantu. Timbullah pikiran untuk mengambil sesuatu dari rumah itu yang dapat saya jual untuk mengobati anak saya. Saya sebetulnya takut sekali untuk melakukan itu. Tapi bayangan anak dan istri saya terus membayang. Akhirnya dengan kegalauan , saya beranikan diri untuk masuk kerumah itu. Malang, ketika saya menaiki pagar rumah itu, anjing menggonggong. Saya tidak peduli. Saya terus naik kepagar dan terus kearah loteng. Saya akan membuka genteng rumah dan langsung masuk. Karena kalau saya masuk dari depan, anjing akan menggigit saya. Belum sempat saya membuka genteng, petugas ronda memergoki aksi saya. Akhirnya massapun berdatangan. Mereka menangkap saya. Setelah puas memukuli saya, akhirnya mereka menyerahkan saya ke kantor Polisi. “ Demikian ceritanya dengan mimik penyesalan. Saya merekam semua kata katanya.

“ Ketika anda dikantor Polisi , Apakah anda mengakui semua yang ditanyakan Polisi.” Tanya saya.

“ Ya Pak, saya takut sekali. Semua yang ditanyakan Polisi saya akui semua. “ jawabnya.

“ Baiklah.. Pak saya rasa sudah cukup. Saya permisi dulu. “ kata saya mengakiri pembicaraan.

“ Pak, tolong saya ya Pak...” katanya memelas , sebelum saya pergi meniggalkan ruangan. Saya hanya tersenyum. “ Insya Allah...berdoalah dan bertobatlah..”Sehari sebelum sidang. Saya kembali menemui client saya dipenjara.“ Baiklah , pak, Besok pagi jam 10. Anda akan disidangkan. Setelah mempelajari semua berkas anda, saya putuskan bahwa saya tidak bisa membela anda secara langsung “ kata saya mengawali pembicaraan.

“ Pak...tolong saya...saya sudah tidak sanggup lagi menahan derita dipenjara. Saya sudah bertobat. Saya berjanji akan menghadapi penderitaan hidup saya dengan mendekatkan diri kepada Allah. “ katanya dengan lirih.

“ Tentu saya akan membantu anda. Tapi tidak secara langsung. Saya minta anda sendiri tampil didepan hakim untuk membela diri anda dan saya akan tetap mendampingi anda selama masa persidangan.” Jawab saya , sedikit menenangkannya.

“ bagaimana caranya ? “ tanyanya sedikit bingung.

“ Hukum membutuhkan alat bukti. Anda dituduh berdasarkan BAP sebagap tersangka pencurian dan memasuki rumah orang tanpa izin. Saya melihat , anda punya celah untuk bebas. Anda berhak meminta buki kepada Hakim “

“ Terus , bagaimana Pak ? “

“ Saya hanya butuh anda mempunyai kesiapan mental membela diri anda sendiri. Caranya , akan saya ajarkan secara rinci kepada anda, bila anda siap” Kata saya . Dia menyanggupi setelah saya beri motifasi. Akhirnya saya memberikan langkah langkah menghadapi setiap pertanyaan hakim.

Keesokan harinya. Sidang dimulai. Tepat jam 10. Jaksa dan hakim telah hadir di ruang sidang. Saya datang lebih cepat 10 menit. Client saya datang dengan baju putih berkopiah. Dikorsi pengunjung nampak Istrinya, berjilbab. Nampak murung dan air mata berlinang dipelupuk matanya. Ada keharuan. Tapi inilah kehidupan. Sidang pun dimulai. Jaksa mengajukan tuntutan. Ringkas tapi padat. Mungkin karena ini kasus orang miskin dan sederha makanya tidak bertele tele. Semua begitu yakin ,sidang ini akan selesai cepat dan keputusanpun cepat dibuat.

Setelah usai dakwaan Jaksa. Hakimpun menanyakan kepada saya apakah saya punya sanggahan. Saya menjawan “ tidak ada “. Kemudian hakim, mulai memeriksa client saya dengan mengajukan pertanyaan.

“ Apakah , anda sudah mengerti dakwaan jaksa “ tanya hakim

“ Maaf , Pak Hakim. Saya tidak mengerti. “

“Dalam dakwaan itu , anda dituduh mencuri “ jawab hakim menjelaskan secara ringkas materi dakwaan jaksa.

“ Saya tidak mencuri Pak Hakim. Kalau benar saya mencuri , Mana buktinya “ jawab client saya. Dalam hati saya tersenyum. Client saya mulai berani tampil dengan ide saya. Hakim terdiam , melihat BAP.“ Apakah ini BAP yang saudara tanda tangani. “ tanya hakim

“ ya. Tapi saya menanda tangani BAP itu dalam keterpaksaan. Saya takut dipulul oleh Pak Polisi.”

“ Baiklah. Mengapa anda datang kerumah orang malam malam tanpa izin pemilik rumah “ tanya hakim.

“ Karena saya ingin mengambil burung saya yang hinggap diatas atap rumah orang itu”

”Mengapa tidak minta izin kepada pemilik rumah ?

” Saya sudah minta izin tapi yang keluar dari rumah malah Anjing sambil menggonggong. Tanyalah sama anjing ! “ jawab client saya dengan agak gemetar. Hakim menatap wajah client saya. Jaksa penuntut tersenyum. Saya hanya diam tanpa ekspresi.

“ Mengapa harus malam malam , bukankah masih ada waktu siang untuk anda mengambil burung itu.” Tanya hakim.

“ Burung itu , kalau malam matanya rabun pak hakim. Jadi lebih mudah didekati dan ditangkap bila malam hari. “ jawab client saya..

„Mengapa anda begitu membela burung itu. ”tanya hakim yang mulai larut dengan emosi client saya.

“ Harta saya didunia ini adalah Istri dan anak . Selain itu adalah burung perkutut yang merupakan pemberian orang tua saya sebelum wafat bulan lalu. Jadi ketika burung itu lepas dari sangkarnya. Serasa hidup saya tidak sempurna. Ada perasaan kurang dan merasa bersalah terhadap orang tua yang telah menitipkan burung itu . “ Jawab client saya dengan sedikit bersemangat. Keliatan dia sudah mulai mampu mengendalikan suasana. Hakim ,Jaksa saling bertatapan. Mereka menatap kearah saya. Tapi saya tetap diam tanpa komentar apapun.

Setelah hening beberapa saat. Akhirnya Hakim membuat keputusan “ Setelah melakukan pemeriksaan dan bukti bukti yang ada selama persidangan maka saya memutuskan , Saudara terdakwa tidak terbukti syah melakukan pencurian. Maka dengan ini saudara dinyatakan bebas demi hukum. “ Kemudian Hakim berdiri dan menyalami Jaksa , client dan saya.

Suasana sidang sangat mengharukan ketika sang istri dan anak yang masih berusia 4 tahun berlarian mendekap sang terdakwa. Mereka bertangisan. Saya diperkenalkan kepada istrinya. Sebelum pergi berlalu dari ruang sidang saya hanya berpesan “ Bertobatlah kepada Allah. Karena kita bisa mempermainkan hukum didunia tapi dihadapan Allah kita tidak bisa lari. Bila kelak gundah datang karena didera kesulitan hidup , karena kemiskinan atau apa saja maka ingatlah Allah. Tidak akan Allah datangkan kesulitan dan penderitaan kecuali untuk menguji kesabaran kita. Belum tentu kesulitan hidup adalah laknat allah dan begitu pula belum tentu kesenangan hidup itu adalah rahmat Allah.

Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang tetap istiqomah menahan kegundahaannya dengan senyum keikhlasan.. Yakinlah pertolongan Allah akan sampai kepada hambanya yang sabar .Karena Allah tidak bersifat zolim kepada hambanya. Dia pengasih lagi penyayang.

21/10/09

Untaian lara

Sundari namanya. Orang kampung mengenal dia sebagai wanita yang lincah. Walau tidak begitu cantik namun senyumnya membuat kebanyakan pemuda kampung acap melirik diam diam kearahnya. Sundari memang mudah sekali akrab dengan siapapun. Namun dalam usia delapan tahun, dia sudah yatim karena ayahnya meninggal. Dua tahun kemudian, ibunyapun meninggal. Maka tinggalah Sundari seorang diri .. Kalaupun ada sanak family namun kehidupan mereka tak cukup mampu dibebani oleh Sundari. Salah satu penduduk kampung juragan kaya berbaik hati untuk menolongnya. Sundari pun tinggal sama keluarga itu. Demikianlah sekilas yang kukenal tentang Sundari. Selebihnya aku tidak tahu lagi. Karena aku keburu berangkat kekota untuk meneruskan kuliah.

Usiaku dengan Sundari terpaut empat tahun. Jadi ketika dia masih kelas 1 SMP aku sudah menamatkan SLA. Aku memang jarang pulang kampung. Dalam lima tahun kuliah ke dokteran di kota baru dua kali pulang Itupun ketika mau susun skripsi dan mendapat kabar ayah sakit. Ketika aku pulang baru kutahu dari Bunda bahwa Sundari dalam usia 14 tahun sudah diambil sebagai istri oleh juragan kaya. Sebelumnya juragan kaya itu adalah ayah angkatnya. Namun ketika istri juragan itu meninggal Sundari-pun dijadikan istri. Mungkin diam diam, juragan kaya itu menaruh hati kepada Sundari. Aku tidak banyak komentar ketika Bunda cerita soal Sundari. Namun yang membuatku miris adalah Sundari diperlakukan seperti pembantu rumah tangga oleh anak anak juragan itu yang sebagian mereka sudah besar besar. Bahkan ada yang seusia Sundari.

Berjalannya waktu, setelah menamatkan kedokteran, aku diterima untuk bekerja. Ditempatkan di Puskesmas dikecamatan. Kebetulan tak begitu jauh dari kampungku. Hanya 2 jam perajlanan dengan bus kekampungku. Walau ada rumah dinas disediakan dekat puskemas namun aku memilih untuk setiap libur pulang kekampung. Sejak itulah aku mengenal lebih banyak tentang Sundari. Setelah juragan kaya itu meninggal, Tak berapa lama setelah itu, Sundari menikah.. Diapun hamil. Namun setelah itu suaminya mengusirnya keluar dari rumah. Tak berapa lama setelah itu diapun menikah lagi. Hamil dan punya anak. Seperti sebelumnya, diapun diusir oleh suaminya.. Tinggalah Sundari dengan beban dua anak. Dia tinggal dirumah gubuk dipinggir kampung. Untuk menopang hidupnya dia bekerja dipabrik bata.

Siang itu , aku hendak pulang kerumah untuk makan siang. Karena rumahku tepat berada disebelah Puskesmas. Ketika tepat dipintu keluar, aku melihat diruang tunggu Sundari sedang terduduk lemas. Matanya redup dan wajahnya pucat. Dua anaknya ada disampingnya.

” Sun ” Sapaku.

Dia membuka matanya dengan lemah. ” Eh, Mas..aku mau berobat...”

”: Ya sudah masuk kedalam. Biar aku periksa ” Aku membimbingnya kedalam ruang pemeriksaan. Setelah kuperiksa, Ternyata Sundari hamil.Kupandang wajahnya dengan seksama. Siapa yang telah menghamilinya? Padahal dia tidak ada suami. Semua sudah bercerai.

” Sun, kamu hamil ” Kataku dengan hati hati sambil tersenyum

” Ya, Mas..” Nampak air matanya berlinang.

” Jaga kesehatan kamu , ya. Itu yang penting”

” Ya Mas...”

Tak banyak yang bisa kukatakan. Aku hanya terenyuh dengan keadaan Sundari. Apalagi melihat kedua anaknya yang masih kecil kecil. Pikiranku masih kepada Sundari walau dia sudah lama pergi. Entah kenapa , aku melihat sosok ketegaran dibalik tubuhnya yang rapuh, matanya yang redup kelelahan dalam derita. Ya, aku tahu pasti bahwa Sundari sangat menderita. Dulu bersuami dan punya anak tapi kini hamil tak jelas siapa suaminya. Lantas bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Sundari melacurkan diri ? Atau ada orang lain yang memperkosanya ?

Entah bagaimana cerita , hanya seminggu setelah pemeriksaan di puskesmas , cerita tentang Sundari hamil beredar keseluruh kampung. Jadi pembicaraan ibu ibu dipasar atau disawah. Yang anehnya tak ada satupun yang tahu siapa yang telah menghamili Sundari. Makanya para ibu mulai kawatir bila salah satu dari suami mereka adalah yang menghamili Sundari. Tak ada satupun tetua kampung ataupun para ibu ibu yang berani bertanya langasung kepada Sundari tentang siapa yang telah menghamilinya. Namun , yang pasti Sundari semakin terisolasi dari pergaulan dikampung. Dia cemoohkan oleh orang banyak. Namun dia tetap sabar. Senyumnya menatap siapapun tak pernah kering. Walau perutnya semakin membesar.

Aku mencoba untuk mencari tahu tentang keadaan Sundari. Ketika libur aku pulang kampung. Kudatangi Rumah Sundari dengan membawa vitamin. Sebetulnya keluargaku melarang keras. Alasan aib berkunjung kerumah janda yang hamil. Tapi aku tidak peduli. Karena alasan kemanusiaan. Tidak ada salahnya dokter untuk mengunjungi pasiennya, diminta ataupun tidak. Apalagi Sundari hidup dalam kemiskinan.

” Sun, ini aku bawakan vitamin untuk kamu makan.” Kataku ketika berada didepan pintu rumahnya. Ketika itu siang hari. Sun masih dalam keadaan memakai mukena. Aku terkejut. Bayanganku bahwa dia melacurkan diri ,adalah tidak mungkin. Dia mempersilahkan aku masuk.

” Engga usah repot repot mas. Aku baik baik aja kok. ” Wajahnya menunduk.

” Ya ini vitamin bagus untuk kesehatan kamu yang lagi hamil”

” Terimakasih Mas,”

Tak tahu harus bicara apa lagi. Namun entah kenapa aku berkata ” Sun, siapa ayah dari cabang bayi yang ada didalam rahim kamu ? Maaf sebelumnya ”

Sundari hanya diam dan kemudian airmata mengalir dibalik tubir kelopak matanya. Dia berkata ” Saya mikin, saya tak berdaya., tapi inilah cobaan yang harus saya terima. Saya tahu orang kampung membenci saya dengan keadaan saya ini.” .Sekonyong konyong anak laki lakinya yang masih kecil datang mendekatinya. Anak itu merangkulnya dengan erat. Tak ada kata kata yang keluar.Namun nampak anak itu ingin melindungi ibunya dari segala nestapa. Aku mendekati anak itu. Kubelai kepala anak itu namun dengan cepat anak itu mengelak. Matanya merah menatapku. ” Ada apa? Kataku. Tak ada jawaban apapun dari anak itu.

” Ya, sudah Sun. Aku permisi dulu. Maaf kalau sudah menyinggung kamu”

Sundari hanya mengangguk. Akupun berlalu.

Setelah Sundari melahirkan anak, aku usulkan agar Sundari bekerja di Puskemas. Dia menerima pekerjaan itu. Sundari dapat tempat tinggal dibelakang Puskemas bersama anak anaknya. Pekerjaannya disamping membersihkan Puskesmas juga menyediakan minuman bagi dokter dan perawat. Dari sinilah aku mengenal Sundari sebagai wanita yang soleha. Dia selalu menjaga sholatnya. Karena rumahnya tak begitu jauh dari rumaku maka setiap aku melintasi rumahnya acap aku mendengar dia lagi mengaji. Tapi pikiranku masih diliputi misteri tentang kehadiran bayi dalam kandungannya. Mungkinkah Sundari jatuh cinta kepada seseorang dan akhir berzina. Kemudian dia insap. Entah lah..

Ketiga anak Sum kujadikan anak asuh dan biaya ketiga anak itu setiap bulan ku bayar. Anak laki laki yang tertua , sudah berusia enam tahun. Anak ini cukup cerdas. Kadang aku melihatnya bermain main dipekarangan Puskemas. Suatu waktu aku melihatnya pucat pasi seperti orang ketakutan dan berlari kesudut ruangan ketika melihat seorang pemuda berlumuran darah. Mata anak itu melotot dan beteriak ” Mak...mak...” Aku cepat berlari mendekap anak itu. ” Ada apa sayang...engga apa apa. Kan kamu sudah biasa liat seperti itu..” kataku. Tapi anak itu terus menunjuk dengan tatapan kosong. Tak berapa lama Sundari datang. Dia menarik anaknya dari dekapanku. Anak itu digendong sambil membelai kepalanya. Tak berapa lama anak itu dapat tenang.Nampak mata Sundari menatap sinis kearah pria yang berlumuran darah itu.

” Sun, itukan anak juragan bukas suami kamu, kan ” Kataku menunjuk kearah pemuda yang berlumuran darah. Aku tahu bahwa setelah juragan itu meninggal dunia seluruh harta yang ada dibagi diantara anak anaknya. Tanpa ada satu sen bagian untuk Sundari sebagai istri. Setelah itu anak anaknya hidup bermewah dan berpoya poya. Setelah harta habis, yang wanita pergi kekota untuk jadi PSK, yang pria jadi preman dan mabuk mabukan setiap hari. Dan kini terbujur berlumuran darah oleh pelor panas polisi tubuhnya karena melarikan diri ketika akan ditangkap.

” Ya , Mas..” Mata Sundari cepat berpaling kearah lain dan segera berlalu dari hadapanku.

Sorenya aku mendatangi Rumah Sundari untuk melihat keadaan anaknya. ” Ada apa dengan anak kamu. Kenapa dia ketakutan tadi siang ? ”

” Mas...ini rahasia mohon jangan dibuka kepada siapapun. Kalau Mas mau tahu siapa anak dari bayi ini ” kata sundari sambil menunjuk bayi yang ada dalam pangkuannya ” Itulah dia. Si Somad, anak juragan. Dia memperkosa saya. Kejadian itu disaksikan oleh anak laki laki saya. Ketika itu usianya baru lima tahun. Makanya ketika anak saya melihat Somad dia ketakutan...”

” Mengapa kamu tidak lapor polisi ? Tanyaku

” Somad itu preman. Dia mengancam akan membunuh anak anak saya kalau saya lapor dan lagi setelah kejadian itu Somad pergi entah kemana. Baru tadi saya melihatnya, Itupun dalam keadaan parah karena ditembak polisi. ”

” Mengapa kamu tidak beritahu kepada orang kampung hal yang sebenarnya ? Mengapa harus dirahasiakan ?

”Juragan sudah seperti orang tua kandung bagi saya. Ketika aku terlunta lunta sebagai yatim piatu, juraganlah yang menampung saya. Dia bersama istrinya merawatku dengan tulus walaupun anak anaknya tidak menyukaiku. Setelah istrinya meninggal dia menikahi ku, itupun karena dia ingin melindungiku dari ulah anak anaknya. Buktinya dia tidak pernah menyentuhku. Aku terima kebaikannya dengan tak pernah berhenti berterima kasih. Apapun pekerjaan dirumah , aku kerjakan. Aku tidak tahu kalau juragan cepat sekali menyusul istrinya. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga kehormatan keluarganya sebisa kulakukan.Itulah sebabnya aku tidak mau membuka aib ini. ”

” Bukankah setelah juragan meniggal kamu mendapatkan suami. Kenapa begitu cepatnya mereka menceraikan kamu tanpa memberi apapun.”

” Dua kali aku bersuami. Itupun karena ulah anak anak juragan sebagai cara mereka membayar hutang yang ditinggalkan juragan. ”

” Oh...”

” Dan terakhir anak tertuanya memperkosaku ...” Sundari menangis. Namun dia tetap mendekap anaknya dipangkuannya. Curahan kasih sayang kepada anak anaknya tak pernah lekang walau dia sadar kehadiran anak anak itu karena hasil penidasan dan pemerkosaan.

” Ya, Sun...berat sekali cobaan hidup kamu. Yatim piatu, teraniaya, terbebani sepanjang hayat mu...”

” Dengan semua ini membuatku semakin dekat kepada Allah. ”

” Mengapa ? ”

” Karena Allah mengirim manusia sebaik Mas untuk mengurangi bebanku agar ku tetap bisa bertahan dengan cobaan yang ada. Karena Allah tidak akan membebani manusia diluar batas kemampuan manusia”

” Kamu percaya itu ”

” Mereka yang telah menzolimiku adalah ladang ibadah bagiku untur bersabar menerimanya. Karena itulah aku begitu mencintai anak anakku . Sebagaimana Allah juga mencintaiku...” Demikian Sun yang kukenal. yang walau derita datang silih berganti namun tetap berprasangka baik kepada Allah dan bahkan semakin dekat kepada Allah. Karena apapun peristiwa yang meliputinya tak lain adalah untuk mengujinya agar menjadi sempurna untuk kembali kepada sang penciptanya. HIkmah yang terlalu mahal untuk dipahami, tapi Sun menerimanya dengan ikhlas dan bagiku menolong SUn yang teraniaya lagi miskin adalah ladang ibadah yang tak ada habis habisnya..