09/11/09

Keadilan

Siang itu saya mendapat surat dari Posbakum ( Pos Bantuan Hukum ) , yang isinya meminta saya untuk mendampingi seorang tersangka yang tertangkap massa ketika mencuri.. Seperti biasa sebagai Sarjana Hukum yang baru lulus , tentu saya merasa bersyukur untuk membuktikan diri membela orang yang tidak mampu. Tugas ini saya terima. Segera saya mendatangi Kantor Posbakum. Berkas BAP (Berita Acara Pemeriksaan ) terhadap tersangka saya ambil dari kantor untuk saya pelajari.. Saya memilih untuk bertemu terlebih dahulu dengan tersangka sebelum saya mempelajari BAP tersebut.

“ Nama saya Yusuf. “ kata saya memperkenalkan diri. “ Saya diminta oleh Posbakum untuk menjadi pengacara saudara. Untuk itu saya minta saudara memberikan Kuasa Penunjukan saya sebagai pengacara. “ lanjut saya , sambil menyerahkan selembar surat untuk dia tanda tangani. Tanpa membaca terlebih dahulu , dia langsung tandatangani surat itu.

“ Tolong saya, Pak pengacara ...” katanya lirih setelah menandatangani surat Kuasa itu. Saya perhatikan , dia memang nampak sangat ketakutan. Rasa penyesalan terbias vulgar diwajahnya. Tidak sama dengan orang yang biasa melakukan kejahatan dan berurusan dengan penjara. Batin saya berkata orang ini pendatang baru didunia criminal.

“ Apakah benar anda bersalah “ tanya saya.

“ Saya tidak salah pak. “ jawabnya tanpa berani menatap langsung wajah saya.

“ Baiklah, kalau anda tidak bersalah maka tidak perlu saya membantu anda. “

“ Pak, tolong saya. Tidak sanggup saya menghuni penjara. Terlalu berat bagi saya Pak.Apalagi memikirkan anak dan istri saya dirumah “ Kembali dia memelas.

“ Anda tau,kan. Saya adalah pengacara. Saya membela orang salah. Kalau anda tidak salah, lantas untuk apa saya bela. Hadapi saja pengadilan. “

“ Ya...memang saya bersalah ...” jawabnya lirih. Sayapun tersenyum kala mendengar pengakuannya. Artinya dia mulai mau bersikap jujur. Ini penting sekali bagi saya. Karena kejujuran dari client sangat membantu saya mengatur strategi pembelaan kelak.

“ Baik. Ceritakan kepada saya semua yang terjadi. Ceritakan dengan jujur karena saya akan membela anda. Setiap kesalahan tentu punya alasan. Dan saya akan mencoba menegakkan keadilan dari kesalahan anda tersebut. Tentu sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku.” Kata saya sekedar menentramkan jiwanya.

“ Baiklah Pak. “ katanya sambil menghela nafas panjang. “ Ditengah kebingungan memikirkan anak yang sakit. Saya tidak punya uang untuk membawanya kerumah sakit. Saya terus melangkah ditengah malam. Sementara istri saya terus menangis melihat penderitaan anak. Ditengah jalan , saya melihat ada rumah mewah dan saya tau bahwa rumah itu jarang dihuni oleh pemiliknya. Rumah itu hanya dihuni oleh pembantu. Timbullah pikiran untuk mengambil sesuatu dari rumah itu yang dapat saya jual untuk mengobati anak saya. Saya sebetulnya takut sekali untuk melakukan itu. Tapi bayangan anak dan istri saya terus membayang. Akhirnya dengan kegalauan , saya beranikan diri untuk masuk kerumah itu. Malang, ketika saya menaiki pagar rumah itu, anjing menggonggong. Saya tidak peduli. Saya terus naik kepagar dan terus kearah loteng. Saya akan membuka genteng rumah dan langsung masuk. Karena kalau saya masuk dari depan, anjing akan menggigit saya. Belum sempat saya membuka genteng, petugas ronda memergoki aksi saya. Akhirnya massapun berdatangan. Mereka menangkap saya. Setelah puas memukuli saya, akhirnya mereka menyerahkan saya ke kantor Polisi. “ Demikian ceritanya dengan mimik penyesalan. Saya merekam semua kata katanya.

“ Ketika anda dikantor Polisi , Apakah anda mengakui semua yang ditanyakan Polisi.” Tanya saya.

“ Ya Pak, saya takut sekali. Semua yang ditanyakan Polisi saya akui semua. “ jawabnya.

“ Baiklah.. Pak saya rasa sudah cukup. Saya permisi dulu. “ kata saya mengakiri pembicaraan.

“ Pak, tolong saya ya Pak...” katanya memelas , sebelum saya pergi meniggalkan ruangan. Saya hanya tersenyum. “ Insya Allah...berdoalah dan bertobatlah..”Sehari sebelum sidang. Saya kembali menemui client saya dipenjara.“ Baiklah , pak, Besok pagi jam 10. Anda akan disidangkan. Setelah mempelajari semua berkas anda, saya putuskan bahwa saya tidak bisa membela anda secara langsung “ kata saya mengawali pembicaraan.

“ Pak...tolong saya...saya sudah tidak sanggup lagi menahan derita dipenjara. Saya sudah bertobat. Saya berjanji akan menghadapi penderitaan hidup saya dengan mendekatkan diri kepada Allah. “ katanya dengan lirih.

“ Tentu saya akan membantu anda. Tapi tidak secara langsung. Saya minta anda sendiri tampil didepan hakim untuk membela diri anda dan saya akan tetap mendampingi anda selama masa persidangan.” Jawab saya , sedikit menenangkannya.

“ bagaimana caranya ? “ tanyanya sedikit bingung.

“ Hukum membutuhkan alat bukti. Anda dituduh berdasarkan BAP sebagap tersangka pencurian dan memasuki rumah orang tanpa izin. Saya melihat , anda punya celah untuk bebas. Anda berhak meminta buki kepada Hakim “

“ Terus , bagaimana Pak ? “

“ Saya hanya butuh anda mempunyai kesiapan mental membela diri anda sendiri. Caranya , akan saya ajarkan secara rinci kepada anda, bila anda siap” Kata saya . Dia menyanggupi setelah saya beri motifasi. Akhirnya saya memberikan langkah langkah menghadapi setiap pertanyaan hakim.

Keesokan harinya. Sidang dimulai. Tepat jam 10. Jaksa dan hakim telah hadir di ruang sidang. Saya datang lebih cepat 10 menit. Client saya datang dengan baju putih berkopiah. Dikorsi pengunjung nampak Istrinya, berjilbab. Nampak murung dan air mata berlinang dipelupuk matanya. Ada keharuan. Tapi inilah kehidupan. Sidang pun dimulai. Jaksa mengajukan tuntutan. Ringkas tapi padat. Mungkin karena ini kasus orang miskin dan sederha makanya tidak bertele tele. Semua begitu yakin ,sidang ini akan selesai cepat dan keputusanpun cepat dibuat.

Setelah usai dakwaan Jaksa. Hakimpun menanyakan kepada saya apakah saya punya sanggahan. Saya menjawan “ tidak ada “. Kemudian hakim, mulai memeriksa client saya dengan mengajukan pertanyaan.

“ Apakah , anda sudah mengerti dakwaan jaksa “ tanya hakim

“ Maaf , Pak Hakim. Saya tidak mengerti. “

“Dalam dakwaan itu , anda dituduh mencuri “ jawab hakim menjelaskan secara ringkas materi dakwaan jaksa.

“ Saya tidak mencuri Pak Hakim. Kalau benar saya mencuri , Mana buktinya “ jawab client saya. Dalam hati saya tersenyum. Client saya mulai berani tampil dengan ide saya. Hakim terdiam , melihat BAP.“ Apakah ini BAP yang saudara tanda tangani. “ tanya hakim

“ ya. Tapi saya menanda tangani BAP itu dalam keterpaksaan. Saya takut dipulul oleh Pak Polisi.”

“ Baiklah. Mengapa anda datang kerumah orang malam malam tanpa izin pemilik rumah “ tanya hakim.

“ Karena saya ingin mengambil burung saya yang hinggap diatas atap rumah orang itu”

”Mengapa tidak minta izin kepada pemilik rumah ?

” Saya sudah minta izin tapi yang keluar dari rumah malah Anjing sambil menggonggong. Tanyalah sama anjing ! “ jawab client saya dengan agak gemetar. Hakim menatap wajah client saya. Jaksa penuntut tersenyum. Saya hanya diam tanpa ekspresi.

“ Mengapa harus malam malam , bukankah masih ada waktu siang untuk anda mengambil burung itu.” Tanya hakim.

“ Burung itu , kalau malam matanya rabun pak hakim. Jadi lebih mudah didekati dan ditangkap bila malam hari. “ jawab client saya..

„Mengapa anda begitu membela burung itu. ”tanya hakim yang mulai larut dengan emosi client saya.

“ Harta saya didunia ini adalah Istri dan anak . Selain itu adalah burung perkutut yang merupakan pemberian orang tua saya sebelum wafat bulan lalu. Jadi ketika burung itu lepas dari sangkarnya. Serasa hidup saya tidak sempurna. Ada perasaan kurang dan merasa bersalah terhadap orang tua yang telah menitipkan burung itu . “ Jawab client saya dengan sedikit bersemangat. Keliatan dia sudah mulai mampu mengendalikan suasana. Hakim ,Jaksa saling bertatapan. Mereka menatap kearah saya. Tapi saya tetap diam tanpa komentar apapun.

Setelah hening beberapa saat. Akhirnya Hakim membuat keputusan “ Setelah melakukan pemeriksaan dan bukti bukti yang ada selama persidangan maka saya memutuskan , Saudara terdakwa tidak terbukti syah melakukan pencurian. Maka dengan ini saudara dinyatakan bebas demi hukum. “ Kemudian Hakim berdiri dan menyalami Jaksa , client dan saya.

Suasana sidang sangat mengharukan ketika sang istri dan anak yang masih berusia 4 tahun berlarian mendekap sang terdakwa. Mereka bertangisan. Saya diperkenalkan kepada istrinya. Sebelum pergi berlalu dari ruang sidang saya hanya berpesan “ Bertobatlah kepada Allah. Karena kita bisa mempermainkan hukum didunia tapi dihadapan Allah kita tidak bisa lari. Bila kelak gundah datang karena didera kesulitan hidup , karena kemiskinan atau apa saja maka ingatlah Allah. Tidak akan Allah datangkan kesulitan dan penderitaan kecuali untuk menguji kesabaran kita. Belum tentu kesulitan hidup adalah laknat allah dan begitu pula belum tentu kesenangan hidup itu adalah rahmat Allah.

Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang tetap istiqomah menahan kegundahaannya dengan senyum keikhlasan.. Yakinlah pertolongan Allah akan sampai kepada hambanya yang sabar .Karena Allah tidak bersifat zolim kepada hambanya. Dia pengasih lagi penyayang.

21/10/09

Untaian lara

Sundari namanya. Orang kampung mengenal dia sebagai wanita yang lincah. Walau tidak begitu cantik namun senyumnya membuat kebanyakan pemuda kampung acap melirik diam diam kearahnya. Sundari memang mudah sekali akrab dengan siapapun. Namun dalam usia delapan tahun, dia sudah yatim karena ayahnya meninggal. Dua tahun kemudian, ibunyapun meninggal. Maka tinggalah Sundari seorang diri .. Kalaupun ada sanak family namun kehidupan mereka tak cukup mampu dibebani oleh Sundari. Salah satu penduduk kampung juragan kaya berbaik hati untuk menolongnya. Sundari pun tinggal sama keluarga itu. Demikianlah sekilas yang kukenal tentang Sundari. Selebihnya aku tidak tahu lagi. Karena aku keburu berangkat kekota untuk meneruskan kuliah.

Usiaku dengan Sundari terpaut empat tahun. Jadi ketika dia masih kelas 1 SMP aku sudah menamatkan SLA. Aku memang jarang pulang kampung. Dalam lima tahun kuliah ke dokteran di kota baru dua kali pulang Itupun ketika mau susun skripsi dan mendapat kabar ayah sakit. Ketika aku pulang baru kutahu dari Bunda bahwa Sundari dalam usia 14 tahun sudah diambil sebagai istri oleh juragan kaya. Sebelumnya juragan kaya itu adalah ayah angkatnya. Namun ketika istri juragan itu meninggal Sundari-pun dijadikan istri. Mungkin diam diam, juragan kaya itu menaruh hati kepada Sundari. Aku tidak banyak komentar ketika Bunda cerita soal Sundari. Namun yang membuatku miris adalah Sundari diperlakukan seperti pembantu rumah tangga oleh anak anak juragan itu yang sebagian mereka sudah besar besar. Bahkan ada yang seusia Sundari.

Berjalannya waktu, setelah menamatkan kedokteran, aku diterima untuk bekerja. Ditempatkan di Puskesmas dikecamatan. Kebetulan tak begitu jauh dari kampungku. Hanya 2 jam perajlanan dengan bus kekampungku. Walau ada rumah dinas disediakan dekat puskemas namun aku memilih untuk setiap libur pulang kekampung. Sejak itulah aku mengenal lebih banyak tentang Sundari. Setelah juragan kaya itu meninggal, Tak berapa lama setelah itu, Sundari menikah.. Diapun hamil. Namun setelah itu suaminya mengusirnya keluar dari rumah. Tak berapa lama setelah itu diapun menikah lagi. Hamil dan punya anak. Seperti sebelumnya, diapun diusir oleh suaminya.. Tinggalah Sundari dengan beban dua anak. Dia tinggal dirumah gubuk dipinggir kampung. Untuk menopang hidupnya dia bekerja dipabrik bata.

Siang itu , aku hendak pulang kerumah untuk makan siang. Karena rumahku tepat berada disebelah Puskesmas. Ketika tepat dipintu keluar, aku melihat diruang tunggu Sundari sedang terduduk lemas. Matanya redup dan wajahnya pucat. Dua anaknya ada disampingnya.

” Sun ” Sapaku.

Dia membuka matanya dengan lemah. ” Eh, Mas..aku mau berobat...”

”: Ya sudah masuk kedalam. Biar aku periksa ” Aku membimbingnya kedalam ruang pemeriksaan. Setelah kuperiksa, Ternyata Sundari hamil.Kupandang wajahnya dengan seksama. Siapa yang telah menghamilinya? Padahal dia tidak ada suami. Semua sudah bercerai.

” Sun, kamu hamil ” Kataku dengan hati hati sambil tersenyum

” Ya, Mas..” Nampak air matanya berlinang.

” Jaga kesehatan kamu , ya. Itu yang penting”

” Ya Mas...”

Tak banyak yang bisa kukatakan. Aku hanya terenyuh dengan keadaan Sundari. Apalagi melihat kedua anaknya yang masih kecil kecil. Pikiranku masih kepada Sundari walau dia sudah lama pergi. Entah kenapa , aku melihat sosok ketegaran dibalik tubuhnya yang rapuh, matanya yang redup kelelahan dalam derita. Ya, aku tahu pasti bahwa Sundari sangat menderita. Dulu bersuami dan punya anak tapi kini hamil tak jelas siapa suaminya. Lantas bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Sundari melacurkan diri ? Atau ada orang lain yang memperkosanya ?

Entah bagaimana cerita , hanya seminggu setelah pemeriksaan di puskesmas , cerita tentang Sundari hamil beredar keseluruh kampung. Jadi pembicaraan ibu ibu dipasar atau disawah. Yang anehnya tak ada satupun yang tahu siapa yang telah menghamili Sundari. Makanya para ibu mulai kawatir bila salah satu dari suami mereka adalah yang menghamili Sundari. Tak ada satupun tetua kampung ataupun para ibu ibu yang berani bertanya langasung kepada Sundari tentang siapa yang telah menghamilinya. Namun , yang pasti Sundari semakin terisolasi dari pergaulan dikampung. Dia cemoohkan oleh orang banyak. Namun dia tetap sabar. Senyumnya menatap siapapun tak pernah kering. Walau perutnya semakin membesar.

Aku mencoba untuk mencari tahu tentang keadaan Sundari. Ketika libur aku pulang kampung. Kudatangi Rumah Sundari dengan membawa vitamin. Sebetulnya keluargaku melarang keras. Alasan aib berkunjung kerumah janda yang hamil. Tapi aku tidak peduli. Karena alasan kemanusiaan. Tidak ada salahnya dokter untuk mengunjungi pasiennya, diminta ataupun tidak. Apalagi Sundari hidup dalam kemiskinan.

” Sun, ini aku bawakan vitamin untuk kamu makan.” Kataku ketika berada didepan pintu rumahnya. Ketika itu siang hari. Sun masih dalam keadaan memakai mukena. Aku terkejut. Bayanganku bahwa dia melacurkan diri ,adalah tidak mungkin. Dia mempersilahkan aku masuk.

” Engga usah repot repot mas. Aku baik baik aja kok. ” Wajahnya menunduk.

” Ya ini vitamin bagus untuk kesehatan kamu yang lagi hamil”

” Terimakasih Mas,”

Tak tahu harus bicara apa lagi. Namun entah kenapa aku berkata ” Sun, siapa ayah dari cabang bayi yang ada didalam rahim kamu ? Maaf sebelumnya ”

Sundari hanya diam dan kemudian airmata mengalir dibalik tubir kelopak matanya. Dia berkata ” Saya mikin, saya tak berdaya., tapi inilah cobaan yang harus saya terima. Saya tahu orang kampung membenci saya dengan keadaan saya ini.” .Sekonyong konyong anak laki lakinya yang masih kecil datang mendekatinya. Anak itu merangkulnya dengan erat. Tak ada kata kata yang keluar.Namun nampak anak itu ingin melindungi ibunya dari segala nestapa. Aku mendekati anak itu. Kubelai kepala anak itu namun dengan cepat anak itu mengelak. Matanya merah menatapku. ” Ada apa? Kataku. Tak ada jawaban apapun dari anak itu.

” Ya, sudah Sun. Aku permisi dulu. Maaf kalau sudah menyinggung kamu”

Sundari hanya mengangguk. Akupun berlalu.

Setelah Sundari melahirkan anak, aku usulkan agar Sundari bekerja di Puskemas. Dia menerima pekerjaan itu. Sundari dapat tempat tinggal dibelakang Puskemas bersama anak anaknya. Pekerjaannya disamping membersihkan Puskesmas juga menyediakan minuman bagi dokter dan perawat. Dari sinilah aku mengenal Sundari sebagai wanita yang soleha. Dia selalu menjaga sholatnya. Karena rumahnya tak begitu jauh dari rumaku maka setiap aku melintasi rumahnya acap aku mendengar dia lagi mengaji. Tapi pikiranku masih diliputi misteri tentang kehadiran bayi dalam kandungannya. Mungkinkah Sundari jatuh cinta kepada seseorang dan akhir berzina. Kemudian dia insap. Entah lah..

Ketiga anak Sum kujadikan anak asuh dan biaya ketiga anak itu setiap bulan ku bayar. Anak laki laki yang tertua , sudah berusia enam tahun. Anak ini cukup cerdas. Kadang aku melihatnya bermain main dipekarangan Puskemas. Suatu waktu aku melihatnya pucat pasi seperti orang ketakutan dan berlari kesudut ruangan ketika melihat seorang pemuda berlumuran darah. Mata anak itu melotot dan beteriak ” Mak...mak...” Aku cepat berlari mendekap anak itu. ” Ada apa sayang...engga apa apa. Kan kamu sudah biasa liat seperti itu..” kataku. Tapi anak itu terus menunjuk dengan tatapan kosong. Tak berapa lama Sundari datang. Dia menarik anaknya dari dekapanku. Anak itu digendong sambil membelai kepalanya. Tak berapa lama anak itu dapat tenang.Nampak mata Sundari menatap sinis kearah pria yang berlumuran darah itu.

” Sun, itukan anak juragan bukas suami kamu, kan ” Kataku menunjuk kearah pemuda yang berlumuran darah. Aku tahu bahwa setelah juragan itu meninggal dunia seluruh harta yang ada dibagi diantara anak anaknya. Tanpa ada satu sen bagian untuk Sundari sebagai istri. Setelah itu anak anaknya hidup bermewah dan berpoya poya. Setelah harta habis, yang wanita pergi kekota untuk jadi PSK, yang pria jadi preman dan mabuk mabukan setiap hari. Dan kini terbujur berlumuran darah oleh pelor panas polisi tubuhnya karena melarikan diri ketika akan ditangkap.

” Ya , Mas..” Mata Sundari cepat berpaling kearah lain dan segera berlalu dari hadapanku.

Sorenya aku mendatangi Rumah Sundari untuk melihat keadaan anaknya. ” Ada apa dengan anak kamu. Kenapa dia ketakutan tadi siang ? ”

” Mas...ini rahasia mohon jangan dibuka kepada siapapun. Kalau Mas mau tahu siapa anak dari bayi ini ” kata sundari sambil menunjuk bayi yang ada dalam pangkuannya ” Itulah dia. Si Somad, anak juragan. Dia memperkosa saya. Kejadian itu disaksikan oleh anak laki laki saya. Ketika itu usianya baru lima tahun. Makanya ketika anak saya melihat Somad dia ketakutan...”

” Mengapa kamu tidak lapor polisi ? Tanyaku

” Somad itu preman. Dia mengancam akan membunuh anak anak saya kalau saya lapor dan lagi setelah kejadian itu Somad pergi entah kemana. Baru tadi saya melihatnya, Itupun dalam keadaan parah karena ditembak polisi. ”

” Mengapa kamu tidak beritahu kepada orang kampung hal yang sebenarnya ? Mengapa harus dirahasiakan ?

”Juragan sudah seperti orang tua kandung bagi saya. Ketika aku terlunta lunta sebagai yatim piatu, juraganlah yang menampung saya. Dia bersama istrinya merawatku dengan tulus walaupun anak anaknya tidak menyukaiku. Setelah istrinya meninggal dia menikahi ku, itupun karena dia ingin melindungiku dari ulah anak anaknya. Buktinya dia tidak pernah menyentuhku. Aku terima kebaikannya dengan tak pernah berhenti berterima kasih. Apapun pekerjaan dirumah , aku kerjakan. Aku tidak tahu kalau juragan cepat sekali menyusul istrinya. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga kehormatan keluarganya sebisa kulakukan.Itulah sebabnya aku tidak mau membuka aib ini. ”

” Bukankah setelah juragan meniggal kamu mendapatkan suami. Kenapa begitu cepatnya mereka menceraikan kamu tanpa memberi apapun.”

” Dua kali aku bersuami. Itupun karena ulah anak anak juragan sebagai cara mereka membayar hutang yang ditinggalkan juragan. ”

” Oh...”

” Dan terakhir anak tertuanya memperkosaku ...” Sundari menangis. Namun dia tetap mendekap anaknya dipangkuannya. Curahan kasih sayang kepada anak anaknya tak pernah lekang walau dia sadar kehadiran anak anak itu karena hasil penidasan dan pemerkosaan.

” Ya, Sun...berat sekali cobaan hidup kamu. Yatim piatu, teraniaya, terbebani sepanjang hayat mu...”

” Dengan semua ini membuatku semakin dekat kepada Allah. ”

” Mengapa ? ”

” Karena Allah mengirim manusia sebaik Mas untuk mengurangi bebanku agar ku tetap bisa bertahan dengan cobaan yang ada. Karena Allah tidak akan membebani manusia diluar batas kemampuan manusia”

” Kamu percaya itu ”

” Mereka yang telah menzolimiku adalah ladang ibadah bagiku untur bersabar menerimanya. Karena itulah aku begitu mencintai anak anakku . Sebagaimana Allah juga mencintaiku...” Demikian Sun yang kukenal. yang walau derita datang silih berganti namun tetap berprasangka baik kepada Allah dan bahkan semakin dekat kepada Allah. Karena apapun peristiwa yang meliputinya tak lain adalah untuk mengujinya agar menjadi sempurna untuk kembali kepada sang penciptanya. HIkmah yang terlalu mahal untuk dipahami, tapi Sun menerimanya dengan ikhlas dan bagiku menolong SUn yang teraniaya lagi miskin adalah ladang ibadah yang tak ada habis habisnya..

05/10/09

Sahabat lama

Kukenal Masdi kala masih kanak kanak. Dia memang beruntung karena orang tuanya termasuk orang yang kaya di kotaku. Kami berteman akrab. Mungkin agak aneh , aku yang anak tukang bakso bisa berteman dengan anak orang kaya. Tapi begitulah kenyataanya. Rumah kami berjauhan namun setiap pergi sekolah Masdi datang mampir kerumahku untuk menjemputku. Kebetulan rumahku satu arah dengan sekolah dan tidak begitu jauh. Disekolah Masdi , selalu mentraktirku makan dikantin. Uangnya selalu banyak dikantong. Ini mungkin membuat sebagian temanku merasa iri. Tapi apa mau dikata, Masdi suka dekat denganku. Akrab. Walau setiap ada PR aku harus membantunya.

Setiap ulangan aku harus selalu siap membantunya. Kadang harus mengambil resiko ketahuan dengan guru. Karena persahabatan, resiko itu kulewati. Aku lulus SLA, Masdipun lulus dengan nilai sama baiknya denganku. Setelah itu, kami berpisah. Aku tetap melanjutkan kuliah dikotaku. Sementara Masdi meneruskan kuliahnya ke jawab. Aku hanya bertemu dengan Masdi bila liburan. Itupun hanya sekedar sapa ketemu dijalan. Entah kenapa dia tidak sedekat dulu lagi. Bagiku , biasa saja. Mungkin Masdi sudah terlalu banyak sahabat dan pergaulan di kota telah membuatnya bisa menemukan sahabat yang tepat untuk kelasnya.

Setamat Kuliah, Masdi pulang kekotaku. Dia meneruskan usaha ayahnya. Karena ayahnya sudah sakit sakitan. Usaha ayahnya bergerak dibidang jasa angkutan. Mempunyai banyak truk angkutan. Sementara aku menjadi guru sekolah SLA. Tak ada kesempatan untuk berpikir mencari karir yang lebih banyak penghasilannya. Karena usia telah bertambah dan pacar minta segera dinikahi setamat kuliah. Kebetulan calon istriku juga guru sekolah Dasar. Profesi sama untuk bersama sama bekerja keras membiayai kebutuhan sehari. Namun begitu, penghasilanku tak cukup untuk menabung atau ikut asuransi.

Duniaku adalan keluargaku. Aku mempunyai dua anak. Yang tertua umur 10 tahun dan yang kecil berumur 6 tahun. Bila anak dan istriku sehat maka terasa sorga kehidupan ini. Tapi bila salah satu anak atau istriku sakit maka prahara terasa mencekik leher. Kesabaran sebagai guru hononer memang harus terus diuji untuk tidak bunuh diri dengan kehidupan yang senantiasa terancam. Itulah ketika suatu hari , salah satu anakku harus diopname karena terkena tipus. Diperlukan uang yang tidak sedikit. Sementara tabungan pasti tidak ada. Untuk meminjam ke koperasi , hutang yang lama belum terbayar. Meminjam ke kepala sekolah juga tak mungkin. Karena pengalaman yang sebelumnya, hanya dapat bentakan. Keteman temanku , juga tak mungkin karena nasipnya tak jauh beda denganku.

Dalam kebingungan itulah aku terpikir untuk menemui Masdi. ” Bu, tenang saja. Aku akan minta tolong ke temanku. Berdoa aja semoga dia mau membantu. ”

” Ya, Pak..aku tunggu. Jangan lama lama ”

”Ya ”

Dengan mengendari motor aku mendatangi kantor Masdi. Dia menyambut ku dengan hangat.

” Kamu sombong ya. Engga pernah mampir kerumahku ” Tanya Masdi

” Kamu tahulah. Aku ini guru honorer. Mengajar dua tempat. Selalu sibuk. ”

Masdi menjawab dengan hanya tersenyum sambil membuka kulkas ” Mau minum apa ”

” Air putih aja. ”

” Gimana kalau bir ”

” Maaf , aku engga minum alkohol”

” Ya sudah ” Masdi memberiku Air putih dan dia membuka botol bir .

“ Wajah kamu keliatan kusam sekali. Ada apa ?

” Anakku sakit. ..” Jawabku dengan menampakan wajah harap agar Masdi tergerak hatinya untuk menanyakan lebih jauh. Tapi wajahnya hanya dingin. Tidak nampak dia tersentuh dengan kabarku itu.

” Gimana kalau kita keluar cari restoran enak untuk makan siang ? tanya Masdi.

” Anakku sakit , aku tidak bisa lama lama ”

” Kan ada ibunya yang jaga...”

” Ya...”

” Nah,. Apa lagi. Ayolah kita makan diluar. Setelah itu kita pergi nonton. Filemnya bagus. Ayolah ...” Masdi mulai memaksaku untuk ikut. Tapi bayanganku masih kepada anaku yang sakit. Akankah aku menyampaikan keinginanku untuk meminta bantuannya ? Lidahku terkunci melihat wajahnya yang tanpa empati mendengar anaku sakit. Setidaknya dia bertanya , mengapa tidak dibawa kerumah sakit. Tentu aku akan menjawab tidak ada uang. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menyampaikan keinginanku daripada aku kecewa bila dia menolak.

” Aku harus segera pulang. Karena aku bingung bagaimana membawa anakku kerumah sakit’ Entah kenapa mulutku langsung berucap tanpa berharap apapun dia akan memahami maksudku. Benarlah , dia hanya tersenyum. Sambil membuka laci mejanya. Aku tersentak. Tentu dia akan mengambil uang dan memberiku. Tapi ternyata dia mengambil rokok ” Ya , sudahlah. Kalau gitu lain kali saja, ya. ” Katanya sambil mengisap rokok. . Akupun berdiri untuk minta pamit. Dia tidak mengantarku sampai keluar.

Aku tidak tahu kemana lagi harus pergi. Tak ada pilihan lain , akupun harus menemui istriku yang cemas menanti kedatanganku. Sesampai dirumah, istriku tahu bahwa aku tidak membawa uang untuk membawa anak kami ke rumah sakit. ’ Ya, sudahlah , Mas. Kita rawat sendiri aja. Aku akan kompres terus ”. Berdua semalaman kami terus disamping anak kami. Hanya kepada Allah kami berharap. Bukankah , Allah berfirman bahwa bila tidak ada jalan lain bagimu maka kembalilah kepadaku.. Benarlah, panah anak kami mulai turun dan keesokannya sudah bugar. Dua hari kemudian sudah bisa sekolah lagi.

Akhir tahun ajaran adalah hari hari tersibuk bagi kami berdua. Istriku dan aku , harus tidur larut malam untuk mengisi lapor anak sekolah. Kelihatan sederhana namun tidak mudah pekerjaan ini. Karena harus memperhatikan data ulangan harian dan hasil ulangan akhir. Kemudian dibagi untuk mendapatkan nilai rata rata prestasi murid untuk dicantumkan dalam rapor.

” Mas, anaknya Masdi tidak naik sekolah.. Nilai ulangan harian maupun ulangan umumnya jelek. ” tanya istriku sambil memperlihatkan catatan rapor anak muridnya.

” Oh...” Aku hanya terkejut tapi tidak mau komentar. Aku membayangkan Masdi ketika sekolah dulu yang selalu tergantung denganku untuk mendapatkan nilai baik. Ternyata anak sama orang tua tak jauh bedanya.

Keesokan harinya , Pagi pagi sekali Masdi sudah datang kerumahku. Aku terkejut. Ada apa dia sepagi ini datang kerumahku ? padahal sebelumnya dia tidak pernah datang sekalipiun.

” Bram, aku minta tolong untuk kamu bicarakan dengan istrimu agar anaku dinaikan sekolahnya ”

” Darimana kamu tahu anak kamu tidak naik sekolah. Kan pembagian rapor belum dilaksanakan. Baru lusa dibagikan rapornya. ”

” Ah , sudahlah., Itu tidak penting. Bantulah. ..” katanya nampak berharap.

Aku memanggil istriku untuk bergabung diruang tamu.

” Dik, bantu ya anaku untuk naik kelas. ” Katanya kepada istriku.

” Maaf, Mas, engga bisa. Karena nilai rapor anak Mas tidak bisa lagi ditolong. Dia harus mengulang setahun lagi. ”

” Apa ? Mengulang setahun. Dikira setahun itu cepat apa ?

” Ini demi kebaikan anak Mas sendiri. Tidak baik memaksa anak untuk naik kelas sementara dia belum menguasai pelajaran sebelumnya. ” Kata istriku mencoba mencerahkan Masdi.

” Sudah begini saja. Dik, kasih aja nilainya bagus agar dia naik kelas. Kemudian akan aku pindahkan anaku kesekolah lain. Gimana ?

” Tetap tidak bisa. Karena kalau itu dilakukan, akan merusak reputasi sekolah saya.,”

Masdi nampak merah wajahnya. Dia langsung berdiri minta pamit. Aku mengikutinya sampai dia naik kekendaraannya. ’ Bram, kamu atur sajalah istrimu. ” Katanya sambil memberikan amplop kepadaku. Keliatannya jumlah uang yang diberinya cukup banyak karena amplop itu terasa tebal. Aku tersentak dengan sikap Masdi seperti itu. Caranya selalu sama. Memberi ketika dia membutuhkan sesuatu.

Aku terdiam sambil memandang matanya. Dia nampak tersenyum dan berkata ” Kita dari kecil selalu bersama. Kamu banyak membantu aku dalam soal pelajaran. Nilaiku baik , karena kamu yang selalu membantuku. Dan kini , eranya anakku. Bantulah.. Aku akan memberikan uang bulanan kepada Istrimu bila dia mau membina anakku. Itu bisa menambah penghasilanmu, ya kan ”

” Soal membina itu pasti akan aku lakukan. Istriku akan senang sekali membantunya walaupun tidak dibayar. Tapi soal keingingan untuk naik kelas , itu tetap tidak bisa. Itulah kalau kamu inginkan kami membina anakmu.” Dengan cepat aku menyerahkan kembali amplop itu kepada Masdi sambil berkata ” kamu adalah sahabatku. Kalau sampai aku menolak pemberianmu dan permohonanmu karena aku inginkan yang terbaik untuk masa depan anakmu. Kalau kamu kecewa, maafkan aku Karena inilah yang dari dulu tidak pernah aku lakukan. Aku membantu mu dan kupikir itu kebaikan ternyata salah.” Akupun berlalu dari hadapan Masdi...Aku tidak habis berpikir soal attitude sahabatku ini.Tak ada ketulusan karena semua punya harga dan bisa dibeli. Tapi , tidak bagiku. Masa depan anak adalah masa depan bangsa. Di pundak guru tanggung jawab itu dan aku harus bersikap walau hidupkupun selalu terancam.

01/10/09

Aku ingin pulang

Pria itu berhenti tepat didepan pintu. Matanya melirik kekiri dan kekanan. Seakan mencari seseorang. Begitu banyak penghuni cafe itu walau sudah dipenghujung Ramadhan. Ya ini memang tempat berkelas. Bukan tempat yang menawarkan ruang maksiat. Namun bursa. Transaksi dapat dilakukan dimana saja asalkan deal terbentuk. Lantas siapa yang memperhatikan pria itu ? Dialah Susi. Salah satu pengunjug cafe. Dia melihat dan menunggu untuk saat yang tepat mendekati pria itu. Bagaikan mata elang , dia terus mengawasi pria itu. Ketika pria itu melangkah kedalam cafe menuju kemeja yang terdapat disudut. Menit demi menit berlalu. Dia berharap...

Benarlah, pria itu tetap sendirian. Tanpa teman. Tidak lagi gelisah.Artinya memang pria itu datang tanpa mengharapkan seseorang akan datang. Pria kesepian atau kalut. ”Ah Tidak penting. Semua pria yang datang ketempat ini, punya berbagai alasan yang tak perlu dipertanyakan” Pikirnya. Yang penting, alarm diotaknya sudah berbunyi untuk take action. Ini mangsa. Semoga mangsa yang mudah dan royal. Tak perlu berpikir panjang. Hanya butuh lima langkah dia sudah berada tetap didepan pria itu. ” Boleh saya duduk ” katanya halus. Tetap sopan untuk memastikan dia tidak murahan.

Pria itu menatapnya sekilas ” Silahkan ”

Dia mengambil tempat duduk tepat dihadapan pria itu. Dia menatap dengan berhias wajah ramahnya. Berharap ada keakraban instant dengan pria ini. Tapi pria itu tetap acuh tak acuh. Dia sabar menanti response pria ini. Bukankah kesabaran adalah kekuatan yang membuat dia bisa bertahan dalam dunia seperti ini.

” Kamu pramuria ?

Dia tersenyum. Senang karena pria ini mulai membuka peluang ” Bukan. Saya bukan pramuria. ” jawabnya tegas. ” Kenapa kamu tanyakan itu ? Sambungnya.

” Saya benci pramuria. ”

’ Kenapa ?

” Benci ya benci. Tak perlu dijelaskan !” Jawabnya ketus.

” Membenci orang lain itu tak baik dan juga pasti tidak bijak. ”

”Bersikap yang jelas , juga bijak.

” Wajah kamu tidak memperlihatkan kamu bijak. Kecuali kemarahan”

” Itu hanya expresi saja ..”

” Pria sejati tidak memperlihatkan emosinya ketika bersikap”

’ Tahu apa kamu tentang pria sejati , Heh ”

” Tentu tahulah. Karena itu dambaan bagi setiap wanita” Jawabnya sambil memalingkan wajah ketempat lain.

Pria itu mengerutkan kening. Kemudian menggeleng gelengkan kepala. Seakan tidak mengerti sikapnya yang masih berharap ada pria sejati.,apalagi datang ketempat seperti ini dibulan ramadhan.

Suasana memang brisik. Beberapa pria asing asyik menari nari dengan vodka dan Wine. Dia tersenyum memperhatikan ulah mereka. Tapi pria yang ada dihadapannya tetap diam seakan tidak peduli dengan hiruk pikuk ini. Seoarang pria asing mendekatinya dan menyapanya dengan mesra. Dia menjawab dengan sopan tanpa ada terkesan manja. Tak berapa lama pria asing itu menjauh seakan menjaga perasaan pria dihadapannya. ” Kenapa pria bule itu menjauh darimu. Dekati dia. Itu lebih pass untuk kamu ” Kata pria itu .

” Ada apa sama kamu. ? katanya mengerutkan kening.

” Aku bukanlah orang yang tepat kalau kamu mau mendapatkan pelanggan. ”

” Pelanggan ? Dia tersentak ” Apakah kamu kira aku ini pelacur ?

” Lantas apa lagi , kalau bukan itu profesi kamu ?

” Wah keterlaluan kamu...” Dia langsung berdiri ” ya sudahlah, saya permisi. ” Dia cepat berlalu..

Dia melangkah keluar dari cafe itu, meninggalkan peluang dan harapan. Bulan ramadhan esok terakhir dan berlalu. Diapun harus pulang mudik. Bagaimana harus pulang ? uang ditangan tidak ada. Hutang kos belum dibayar. Sementara kehidupannya semakin susah dan diapun kehilangan langkah yang benar. Tapi dia yakin, dia akan baik baik saja. Ini baru kali pertama dia menemukan pria yang tahu kepura puraannya dan tak mempan ditipu oleh wajah cantiknya. Tapi setidaknya, ada pesan merasuk kedalam kalbunya. Bahwa dia memang hina.

Minggu lalu dia masih punya tabungan dan perhiasan dari hasil kerjanya menjaring laki laki hidung belang. Tapi semua itu terkuras habis oleh pacarnya yang mengaku mahasiwa. Entah kemana pacarnya itu pergi setelah mendapatkan uang darinya. Orang bilang benar adanya bahwa uang setan dimakan hantu. Yang pada dasarnya tidak ada berkahnya harta yang didapat dengan cara salah. Ditangannya hanya ada uang cukup untuk sampai ketempat kosnya. Setelah itu , dia tidak tahu harus makan apa besok. Sementara sahabatnya sebagian sudah pulang kampung. Dia sendiri dikota ini dengan professi tertua di planet ini. Langkahnya terhenti tepat didepan taman. Terdapat korsi didalam taman itu. Kesanalah dia melangkah untuk berpikir dan merenung dimalam takbiran.

Dari kejauhan nampak seorang pria berdiri didepan taman dalam kebingungan. Kemudian pria itu menoleh kearahnya. Tak jelas wajahnya karena lampu taman yang tamaram. Pria itu melangkah mendekatinya. ” Eh kamu...” kata pria itu. Ya dia kenal pria ini yang tadi ditemuinya di cafe itu

” Kenapa kamu ada disini ? ” Katanya kepada pria itu.

” Aku tidak tahu. Pikiranku kalut. Kedalam cafe aku benci dengan orang orang didalam sana. Mau pulang , males . ” Pria itu duduk disampingnya. ” Kamu ada disini ? ” tanya pria itu

” Akut bingung mau pulang kerumah. Karena uang ditanganku hanya cukup untuk sampai dirumah. Selanjutnya aku bingung mau makan apa besok ?

” Pekerjaan kamu apa ?

” Menjual ” Jawabnya singkat.

” Menjual apa ?

” Kebahagiaan ..”

Pria itu menatapnya seakan tidak percaya apa yang barusan dikatakannya.

” Pelacur ! Kata pria itu ketus.

” Bukan. Bukan pelacur. Stop jangan sebut lagi itu padaku ”

” Kamu boleh mengelak atau tersinggung dengan sebutan pelacur. Bagiku kamu tetap pelacur. ”

Wanita itu terdiam sambil menghela nafas. Kemudian berkata ”Baiklah. Terserah kamu mau bilang apa tentang aku. Aku terima. Nah sekarang kamu mau apa ?

” Berapa tarifmu ?

” Tergantung kamu mau minta pelayanan apa ?

” Tubuhmu ...”

” Tarifku adalah hargamu ” jawab wanita itu dengan tenang.

Pria itu tersenyum sambil mencibir, yang sadar pelacur sekarang kadang pandai bicara. Siapa lagi yang ngajarin kalau bukan pelanggan pelanggannya sendiri. Atau mungkin mereka acap hidup dalam kekecewaan karena cinta palsu, akibatnya mereka terjebak hidup dalam philosopy. Entahlah. Pria itu nampak menggeleng gelengkan kepalanya.

” Aku tidak akan menawar karena aku tidak akan membeli. Aku hanya ingin duduk disini saja. ”

” Silahkan. Aku tidak keberatan walau sebetulnya aku ingin sendirian”

” Ini tempat umum. Semua orang boleh duduk tanpa harus izin”

” Aku tahu. Silahkan saja. ”

Dia tenggelam dalam pikiran kalut. Besok Lebaran akan datang. Dia kehilangan kepintaran untuk mendapatkan uang untuk pulang kampung. Semua kegiatan prostitusi ditutup selama ramadhan. Para pria hidup dalam lingkungan spiritual dirumah dan dikantor. Mereka menahan nafsunya disiang hari dan melepasnya dimalam hari bersama kekasih dan istrinya. Tak ada yang tersisa untuk mengingat wanita dijalanan. Tak ada. Tapi setelah lebaran, keadaan akan kembali seperti biasa., Pelacur akan didekati dan dinikmati.

Yang jadi masalah adalah bagaimana menikmati hari lebaran. Tak ada gunanya kerja keras selama setahun bila di hari lebaran tak bisa pulang kampung. Ini hari fitri, memang. Lebih daripada itu hari untuk aktualisasi diri dihadapan keluarga dan teman teman dikampung. Bahwa dia pantas untuk dihormati dan dihargai sebagai manusia. Didekap dengan tulus. Senyuman yang tulus. Tapi dikampung tak ada ketulusan tanpa uang receh bertaburan. Kadang sulit membedakan antara kota dan kampung bila sudah menyangkat uang. Ketulusan ada harganya. Bagaimanapun di kampung jauh lebih baik dari kota. Hanya keadaan yang membuat mereka sulit tersenyum tulus bila lapar.

Ketika itu jam 2 dinihari. Dia belum terkantuk. Sudah hampir dua jam dia ada ditaman ini,. Begitupual dengan pria itu. Dua jam tanpa kata kata. Masing masing seakan lebih menikmati berdialog dengan dirinya sendiri. Pria itu agak terkejut ketika ada dua orang pria berjalan cepat kearah mereka. Entah kenapa pria itu langsung berdiri dan berlari kencang. Tak berapa lama terdengar dua kali letusan pestol menyalak. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi karena pemandangan gelap. Dua pria itu kembali dari balik kegelapan melintas tepat dimana dia duduk dibangku taman itu, sambil membobong seorang pria yang tadi ada disampingnya.

” Kami polisi ” Kata dua pria itu menatapnya. ” Ini pejahat yang lama kami buru. ”

” Bagaimana keadaannya ”

” Meninggal. Dia melarikan diri, Itu sama saja maut. ” Kata polisi itu tak acuh.

Tinggallah dia sendiri. Menatap kepergian dua orang polisi yang membawa mayat seorang pria yang tadi ada bersamanya. Seakan baru detik berlalu ketika dia berbicara dengan pria yang begitu arogannya. Menilai rendah dirinya. Tapi ternyata tak lebih adalah penjahat yang diburu oleh polisi. Kini pria itu sudah terbujur menjadi mayat.

Dia membayangkan dirinya. Tak lebih sama dengan pria itu. Dihadapan keluarga dan handaitolanya dikampung. Dia akan bergaya seperti wanita baik baik yang sukses berkerja di kota. Ingin agar orang lain menghormatinya. Seakan hidup akan selalu menemaninya dibalik banyak kepalsuan. Ada satuhal yang selama ini dia lupa. Bahwa dia selalu lari dari realitas kehidupan. Bahwa kematian itu pasti akan menjemputnya. Bagai polisi intel yang setiap hari malaikat maut mengincarnya. Memperhatikannya siang dan malam, yang selalu siap melaksanakan tugas untuk mencabut nyawanya. Apa yang akan dibawanya dihadapan Allah ? Waktu itu pasti terjadi. Siapkah dia.? Saatnya untuk tidak lagi lari

Suara takbir mulai terdengar membahana dari masjid. Dia menitikan airmata. ” Aku harus pulang!” Bisiknya. Ya pulang kepada hakikat dia dilahirkan kedunia untuk hanya beribadah kepada Allah. Semua kenikmatan , kehormatan didunia hanyalah fotomorgana yang menyesatkan manusia untuk pulang ke fitrahnya.. Pelacur dan koruptor tak ada bedanya. Dua duanya perbuatan rendah untuk mengejar kenikmatan sesaat didunia. Dia sadar itu, untuk tidak lagi membayar kehormatan dan kenikamtan dari hasil perbuatan maksiat

12/09/09

Belajar mencintai

Mentari mulai memerah menuju peraduannya. Sebentar malam akan mendekap kota ini. Ada kesunyian ditengah hiruk pikuk. Ketika pekerjaan hilang, tabungan habis dan akhirnya wanita yang dicintapun pergi. Kemana tawa yang selama ini akrab dalam hidup ? Kemana. ? Seakan tahun tahun lalu terasa baru kemarin dan kini keadaan mennjadi berbeda. Dia tak ingin terjepit dengan kepalsuan kota--sama dengan dirinya--.Itulah kesadarannya untuk mengakui kebodohan dan buta hatinya tentang cinta. Dia berharap maaf dari seseorang agar berkurang beban rasa besalahnya. besok mentari akan datang kembali. Tentu disana ada harapan untuk digayuh. Dia yakin itu, seyakin sesorang yang menerimanya sebagai sebuah takdir

***
Diatara wajah lama yang akrab dalam hidupnya., ada satu wajah yang lama dilupakannya. Ya dan kini dia rindu seseorang itu. Setidaknya dia ingin memastikan bahwa seseorang itu masih mengenalnya. Namnya Kamal. Walau secara lahiriah tak ada masalah. Itu lebih dari cukup. Karena bila mengingat sikapnya terdahulu. Rasanya tidak pantas dia untuk berharap lebih. Ada rasa bersalah dan bodoh dengan sikap masalalunya. Kamal dikenalnya akrab semasa kanak kanak. Mereka selalu bersama seakan tak terpisahkan. Dia senang karena sahabatnya , hidup untuk melayaninya. Kamal itu adalah anak dari pembantu rumah tangganya. Sebagai orang kaya dikotanya. Dia merasa memiliki segala galanya tapi itu tak berarti dibanding denga kehadiran Kamal dirumah.

Dia teringat betapa dia tidak pernah pusing untuk menyelesaikan PR karena Kamal akan setia membantu. Dia juga tidak perlu takut dari gangguan preman sekolah. Karena ada Kamal yang setia menyabung nyawa untuknya. Sehari hari, disekolah dan ditempat bermain dia selalu terlindungi. Tapi ada satu hal yang membuat dia kecewa. Perhatian ayahnya kepada Kamal. Dia cemburu terhadap kasih sayang yang harus berbagi dengan anak seorang pembantu.

” Apakah kamu mau melakukan apa saja yang ku mau ” tanyanya.

” Ya. Aku bersedia. ” Jawab Kamal

” Bila itu akan membuatmu celaka?

” Ya. Aku diminta oleh Ibu untuk melayani Tuan...”

” Bisakah kamu membuat ayah marah. Setidaknya sama dengan sikapku yang acap membuat ayah marah”

” Tidak bisa. Saya hanya pelayan.”

” Katanya kamu berjanji akan setia padaku. Nah sekarang aku minta kamu lakukan apa yang kumau. ”

Kamal hanya terdiam. Entah kenapa , kini baru dia sadari bahwa putra dari pembantunya itu pantas disebut sebagai sahabat. Bukan pelayan. Yang pelayan itu adalah ibunya., Dihadapan ayah, tak ada perbedaan antata pembantu dan dia. Semakin dia memikirkan sahabatnya itu, semakin ada rasa berasalah. Dia sedih. Apalagi bila mengingat akhir pertemuan dengan sahabatnya itu. Perpisahan itu karena ulahnya sendiri. Dia sengaja menempatkan jam tangan ayahnya kebawah tempat tidur sahabatnya itu. Ketika ayahnya sibuk mencari, Kamal memberikan jam tangan itu setelah ditemukannya didalam kamarnya.

” Dimana kamu temukan jam tangan ini ” Tanya ayahnya dengan garang.

” Dikamar saya, Tuan ” Kamal menjawab dengan polos.

” Kamu mencuri ya. ” Bentak ayahnya.

Kamal hanya diam. Matanya milirik kearahnya. ” Ayo mengaku ! Kalau kamu tidak megnaku maka saya akan laporkan ke polisi. ”

” Benar , Tuan. Saya yang curi”

Ayahnya langsung memukul Kamal dengan rotan. Berkali kali ayunan rotan itu mengenai tubuh Kamal. ” Sudah Tuan, Sudah...” Ibu Kamal memohon sambil memegang tangan Ayahnya. ” Tuan telah menyakiti anak saya. ” Ibunya memeluk Kamal dengan erat.

’ Kini kalian saya maafkan. ” Kata Ayahnya kemudian.

” Kami sudah putuskan untuk berhenti , Tuan. ” Sang ibu berkata dengan airmata berlinang

” Bukankah saya telah memaafkan ...”

” Dengan segala hormat, saya tetap akan berhenti. Kami akan pulang kampung . Kamal telah mengecewakanmu"

Sejak kepergian Kamal bersama ibunya. Rumah terasa sepi. Selama ini dia tidak mengenal ibu kandungnya Karna ibunya meninggal ketika melahirkannya. Ayahnya nampak murung setiap hari. Berkali kali ayahnya mengganti pembatu rumah tangga tapi keadaant tetap tidak seperti dulu lagi ketika masih ada Kamal dan ibunya. Namun mereka tetap bersahabat. Setamat SLA, Dia pindah ke kota besar untuk melanjutkan ke Universitas. Diapun sudah tidak lagi mengingat tentang Kamal.Apalagi kekasihnya ketika di SLA. Walau dia berjanji untuk segera melamar Lara tapi itu tidak pernah terjadi. Setamat Universitas dia mendapatkan pekerjaan. Hingga kesibukannya semakin membuat dia tak lagi mengenal tetang masa kecilnya.

Satu hari Ayahnya sakit keras. Diapun tak sempat datang kerumah. Belakangan ketika kabar datang ayahnya meninggal, barulah dia datang kerumah. Itupun hanya sehari. Setelah itu dia melupakan semua tentang Rumah. Hari hari selanjutnya diisi dengan pekerjaan menuju puncak karir. Dia puas. Namun semua menjadi lain ketika terjadi krisis moneter. diapun termasuk terkena korban PHK. Maka harta peninggalan orang tuannya yang dulu diabaikannya kini terasa penting. Dia putuskan ingin pulang untuk mengurus penjualan harta orang tuanya. . Berapapun harganya akan sangat berarti baginya.

Ketika dia kembali kekotanya. Rumahnya tetap terawat dengan rapi. Padahal sudah lebih 5 tahun tidak dilihatnya. ” Kamu Kamal , kan. ” katanya terkejut ketika pintu tersibak. Dihadapannya wajah yang tak asing lagi baginya.

” Ya betul, Tuan Amir..”

” Sejak kapan kamu ada dirumah ini ?

” Dua bulan setelah Ayah Tuan meninggal, saya diminta Ibu untuk menjaga rumah ini. ”

” Siapa yang suruh ibu kamu untuk menjaga rumah ini ”

” Pak Dani”

Di tahu yang dimaksud Dani adalah pamannya. Keluarga Ayahnya tersisa hanyalah Pamannya yang tinggal dikampung. Kini sedang dalam keadaan sakit sakitan.

” Kenalkan ini putra putri saya..” kata Kamal memperkenalkan anak dan istrinya. Diapun terkejut. Karena wanita yang dsebut istri ternyata adalah Laras. Dia teringat akan janjinya yang tak tunai. Namun berusaha melupakan tentang masalalu. Setidaknya, dia senang bahwa Laras dapat hidup bahagia dengan Kamal.

” Saya ingin menjual Rumah ini. ” Katanya. Nampak Kamal tak terkejut sama sekali.

” Silahkan, Tuan., Tugas saya hanya menjaga rumah ini sampau tuan datang untuk tinggal atau menjualnya.”

Tak berapa lama,setelah menawarkan kebebarapa orang akhirnya rumah itupun laku dijual. Kamal pulang kekampung bersama istri dan anaknya. Merekapun berpisah. Dia senang untuk kembali melanjutkan hidupnya dengan bekal hasil penjualan rumah. Tak lebih setahun uang hasil penjualan rumah itu habis. Karena usaha yang dirintisnya tak membuahkan hasil. Kembali dia pulang kekampung karena mendapatkan kabar Pamannya sakit keras. Lama pamannya menatapnya sampai akhirnya airmata jatuh melewati tubir matanya. Dengan mengeluarkan tenaga tersisa, pamannya berkata :

” Sebelum ayahmu meninggal , dia menitipkan surat ini untuk kamu baca. Aku tahu isi surat ini karena ini merupkan kesepakatan kami berdua. Tapi entah kenapa , aku tidak sanggup memberikan surat ini kepadamu. Tapi kini aku sudah diambang kematian. Aku tak mau lagi berbohong. Terimalah surat ini...bacalah..”

Betapa dia terkejut...ternyata surat itu berisi pengakuan dari Ayahnya tentang Kamal. Bahwa Kamal adalah putra kandung ayahnya sendiri dari buah perkawinan dengan wanita desa. Belakangan setelah Ibu kamal meninggal, wanita itu diterima dirumahnya sebagai pembantu rumah tangga dan termasuk Kamal. Rahasia ini ditutup rapat karena untuk menjaga kehormatan keluarga besar. Ibu Kamal sadar akan dirinya yang tidak diterima oleh keluarga besar ayahnya. Perkawinan dilakukan dengan serba rahasia.

Dia terduduk lemas...Kembali pamannya berkata :

” Tahukah kamu...Kamal tidak pernah tahu tentang ini. Ibunya tidak pernah cerita soal masa lalunya dengan ayahmu. Dia mencintai ayahmu tanpa pernah bertanya dan menuntut apapun. Setelah ibumu menimggal, ayahmu membawanya tinggal serumah. Namun sikapnya tetap tidak berubah. Kehormatan ayahmu dibelanya walau dia harus menerima status sebagai pembatu rumah tangga didepan umum. ”

” Ketika kamu tidak pernah ada kabarnya. Lara hampir gila karena itu. Kamal datang menghiburnya. Kamal sadar bahwa tak ada satupun pria dikampung mau menikahi Lara karena dia sudah tidak perawan lagi karena ulahmu. Lambat laun Lara kembali bersemangat dan akhirnya menikah dengan Kamal. Semua dilakukan oleh Kamal untuk melunasi hutangmu. Termasuk menjaga rumahmu sampai kau jual. Dan itu semua dia lakukan tanpa berharap apapun kecuali menuruti perintah ibunya. Dia mencintai ibunya dan dia berkorban untuk itu....”

” dan tahukan kamu...rumah itu diwasiatkan untukmu dan Kamal...tapi hanya kamu yang menikmatinya..”

Dia tak bisa berkata apapun lagi. Dia merasa rendah dihadapan siapapun. Apalagi dihadapan Kamal dan Ibunya. Dia tidak pernah merawat Ayahnya. Kamal lah yang merawat ketika dia tidak ada. Dia tidak pernah menyambut cinta ayahnya dan Kamal yang menyambutkan dengan pengorbanan dan pengabdian. Pantaskah dia disebut manusia ? Pantaskah dia berdiri tegak dan disebut sebagai Tuan ?

***

Langkah terhenti kala dari kejauhan nampak Kamal berlari kearahnya dengan senyuman hangat dan merentangkan tangannya. Ternyata Kamal tidak pernah berubah. Walau tak lagi tinggal dirumahnya. Tak lagi bekerja dikeluarganya. Dia tetap memanggilnya Tuan dengan hormat. Kini barulah dia sadari bahwa hidupnya tak ada nilai apapun, walau dia sarjana dan bergelut dengan keseharian dilingkungan berkelas. Beda sekali dengan Kamal, yang telah membuktikan nilainya dihadapan Ibunya, dihadapannya ...Semua itu karena cinta. Kamal berbuat karena belajar dari cinta ibunya kepada Ayahnya. Dan kini diapun disadarkan untuk belajar dan belajar mencintai dalam keikhlasan "Cintailah siapapun dengan ikhlas. Jangan ada syarat apapun untuk sebuah cinta. Demikian Kamal berkata.

Belalang

Disuatu desa , di bumi pertiwi. Telah terjadi suatu bencana yang mengerikan. Penghidupan masyarakat dari hasil tani , luluh lantak dimakan hama. Hama itu adalah belalang. Tak terbilang banyak belalang. Segala upaya untuk memusnahkan belalang itu tak membuahkan hasil. Petani putus asa. Mereka hanya dapat menyaksikan lahan yang sudah siap panen hancur dimakan belalang. Namun tidak demikian dengan Pak Burhan. Lahan padinya utuh diatara hamparan sawah lainnya yang hancur dimakan belalang. Masyarakat desa bingung menyaksikan keadaan ini. Berbagai dugaan datang. Bahkan diatara penduduk desa ada yang mengguncingkan bahwa Pak Burhan mempunyai ilmu gaip yang dapat mengusir belalang.

’ Aku endak percaya kalau si Burhan itu punya ilmu segala ” kata salah seorang penduduk ketika terjadi perbincangan diwarung kopi.

” Habis , mengapa hanya sawahnya saja yang tak dimakan belalang ”

” Ya. Aku juga bingung.

” Tapi bagaimanapun , dia pasti ada sesuatu yang membuat belalang itu takut memakan padinya. ” Kata yang lainnya.

” Itu benar. ” kata mereka serentak

” Tapi apa sesuatu itu ?

Mereka terdiam.

” Ada baiknya kita temui Burhan itu. Kita langsung tanya kedia. Kalau memang dia punya ilmu hitam atau apapun, kita berhak mendapatkan dari dia agar kita juga terhindar dari belalang.” Kata salah satu mereka yang dikenal cukup berwibawa.

Merekapun bersegera datang kerumah Burhan. Ketika melintasi sawah Burhan, mereka menyaksikan ribuan atau bahkan jutaan belalang yang menjadi bankai. Baunya menyengat hidung. Bangkai belalang itu tepat berada di pematang sawahnya. Tahulah mereka bahwa setiap belalang ingin melintasi sawah Burhan maka belalang itu langsung jatuh dan mati. Masya Allah. Baru mereka sadari hal ini. Lagi lagi ini adalah keajaiban yang luar biasa. Bertambah yakinlah mereka bahwa Burhan ada ilmu super dahsyat. Mengalahkan racun hama. Tapi apa ?

” Pak Burhan ” seru salah satu dari mereka ketika sampai dirumah Burhan ” Semua sawah kami habis dimakan belalang. Hanya satu satunya sawah yang tak disentuh belalang adalah sawah bapak sendiri. Tolong beritahu kami apa gerangan hingga sawah bapak aman dari belalang,’ Lanjut mereka.

Burhan tersenyum sambil menatap mereka satu persatu ” Saya juga bingung. Endak ngerti kenapa sawah saya tak disentuh belalang” Katanya.

” Mungkin bapak ada ilmu. Ajian apa lah ..Beritahu kami , Pak..”

” Ilmu ? Saya orang bodoh. Sama seperti kalian. Ulama bukan. Saya beragama biasa biasa saja. Sama dengan kalian semua.”

Mereka semua terdiam. Akirnya salah satu dari mereka berkata ” Besok akan ada petugas dari kabupaten yang akan datang kekampung kita. Mereka akan menyelidiki ihwal sawah pak Burhan ini.” Katanya.

’ Kalau begitu kita tunggu sajalah sampai besok ” Kata Burhan.

Mereka pamit.

Keesokannya petugas dari kabupaten sudah datang. Ada enam orang. Mereka datang kesawah Pak Burhan. Para penduduk memperhatikan kerja dari petugas itu. Ada yang mengambil contoh tanah sawah. Ada yang memeriksa tangkai padi. Banyak hal yang dikerjakan oleh petugas itu yang tidak dipahami oleh masyarakat desa. Ketika maghrib, petugas itu datang kerumah Burhan dan dikuti beramai ramai oleh penduduk desa yang antusias ingin mengetahui rahasia tentang sawah Burhan yang ditakuti oleh belalang.

” Pak Burhan ” Kata petugas itu ” Kami sudah periksa sawah bapak. Semua sama seperti sawah yang lainnya. Tak ada satupun perbedaan. Bibit, pupuk, pestisida, air ..semua sama. Kami tidak mengerti mengapa belalang itu tak bisa menyentuh sawah bapak. Padahal disebelah kanan kiri sawah bapak semua habis dimakan belalang. Jarak antara sawah bapak dengan tetangga hanya pematang air. Semua belalang yang mencoba menyeberang ke sawah bapak , semua mati jatuh ketanah. Hingga menimbulkan bau busuk. ” Lanjut petugas itu sambil menggelengkan kepala.

Ketika sedang asyik berbicara itu , ada anak kecil usia tak lebih lima tahun naik kepangkuannya. Burhan memeluk anak itu sambil tetap melayani tamunya.

” Itu cucu bapak ” tanya petugas itu.

’ ya pak Cucu saya ada tiga orang. Dua orang kakaknya ada dikamar. Ini sibungsu”

” Orang tuanya dimana ?

” Kedua orang tua mereka sudah meninggal karena kecelakan dua tahun lalu.” Kata Burhan dengan suara getir menahan kesedihan. ” Kini ketiga cucu ini sebagai penghibur kami setelah anak kami dipanggil oleh Allah.”

” Jadi mereka yatim piatu ..”

’ Ya...” jawab Burhan.

Semua hening. Tak berapa lama salah satu petugas itu berkata ” Inilah penyebabnya mengapa belalang tak bisa memakan padi bapak dan tak mampu melintasi sawah bapak. Yang bandel dan mencoba melintasi sawah bapak langsung mati menjadi bankai. ”

” Maksud bapak ” Tanya salah satu penduduk desa

” Ketahuilah oleh bapak bapak sekalian bahwa Rasulullah bersabda dalam salah satu haditsnya, jika niat kita membantu saudara kita yang yatim atau piatu dengan cara mengasuh mereka karena Allah dalam rangka meringankan kesulitan mereka, kelak pada Hari Kiamat Allah SWT akan meringankan kesulitannya. Ketika seluruh makhluk sedang menghadapi beberapa kesulitan Hari Kiamat dan tak ada seorang pun yang mampu membantunya menghilangkan kesulitan itu. Jadi , apalagi soal belalang,. Itu soal kecil bagi Allah. ”

Mereka saling berpandangan satu sama lain. Peristiwa ini menyadarkan kita bahwa tauhid sosial dalam bentuk menyantuni anak yatim piatu , meringangkan mereka yang terlilit hutang, membantu fakir miskin , dan membela mereka yang terzolimi/lemah adalah ujud dari syahadat. Karena hakikat Islam bila kita mempercayai Allah dan Rasul maka itu harus pula berpengaruh secara moral dan sosial dalam kehidupan nyata serta pemihakan agama terhadap perbaikan masyarakat. Apabila kita belum mampu berbuat dalam tauhid sosial maka tauhid kita hanya sebatas mulut tanpa makna apapun. Maka jangan salahkan alam bila bencana datang silih berganti ...